Pakar : Berawal dari Niat

April 5, 2008

Definisi ‘Hari’ dalam Islam

Filed under: Astronomy, Kajian

Selama ini kita terbiasa dengan hal-hal rutin. Maka kita menjadi asing dan sering tidak mau mengikuti kepada sesuatu yang baru…

Dulu, para nabi juga sering menemukan karakter ummat yang semisal ini, ketika diajak untuk menyembah Allah dan meninggalkan sesembahan yang selama ini mereka lakukan (berhala dan sejenisnya-selain Allah SWT) kebanyakan mereka mengatakan,

‘Kami melakukan apa yang selama ini telah dilakukan olek nenek moyang kami…’.

Dimana letak persamaannya, mari kita lihat kali ini dalam konteks definisi ‘hari’ (penyebutan waktu-hari).

Kita sering mangatakan, istilah malam Sabtu sebagai ungkapan untuk waktu antara maghrib-shubuh pada hari Jum’at.

Kita juga sering dan biasa sekali ..manyatakan malam Ahad atau malam Minggu sebagai ungkapan rentang waktu pada hari Sabtu jam 6 petang hingga menjelang pagi.

Seiring dengan ini adalah ungkapan malam Tahun Baru, dan seterusnya…

Definisi di atas sangat tidak konsisten dengan Islam sebagai Dien yang diturunkan oleh Sang Pencipta waktu itu sendiri. Sejak kholifah Umar bin Khottob menetapkan bahwa sistem waktu pada penanggalan Islam menggunakan sistem lunar atau bulan yang biasa kita sebut sebagai Kalender Hijriyah, maka konsep di atas harus juga mengikuti.

Bagi yang sudah terbiasa sangat sulit melakukannya, dan ini perjuangan berat. Boleh dikata ini sepertinya sangat sulit jikalau tidak boleh dikatakan mustahil…

Ambil saja misal, kita bejanji kepada rekan untuk bertemu pada hari Kamis jam 8 malam. Maka yang kita katakan adalah ,’Kita akan bertemu pada malam Jum’at jam 8′.

Kita tidak akan mengatakan,’Kita akan bertemu pada Jum’at malam jam 8′. Kalau ini yang kita katakan, maka bisa dipastikan pertemuan ini akan gagal. Karena kita tiba Kamis jam 8 malam, namun dia tiba Jum’at jam 8 malam.

Mengapa ini bisa terjadi…?

Pertanyaan ini serupa dengan apa yang terjadi pada ‘paradoks kembar’nya teori Relativitas Einstein. Mana mungkin usia dua orang bisa berbeda sedemikian jauh hanya karena sekedar perbedaan kecepatan geraknya…?

Penjelasannya sebagai berikut: 

1. Hari, dalam Islam dimulai pada saat matahari terbenam. Artinya penghitungan waktu juga dimulai saat matahari terbenam atau saat adzan maghrib berkumandang, di manapun posisi di muka bumi ini (kecuali pada ekstrim area). Penghitungan waktu akan berakhir pada saat matahari terbenam di hari berikutnya, inilah satu hari.

2. Hari Ahad, dimulai saat matahari terbenam pada hari Sabtunya. Hari Senin dimulai pada saat matahari terbenam hari Ahadnya, begitu seterusnya.

3. Kalau hari Ahad sudah masuk alias matahari terbenam pada Sabtu petang, maka hari itu adalah hari Ahad petang, lalu Ahad malam, lalu Ahad pagi, lalu Ahad siang, lalu Ahad sore, dan Ahad petang. Setalh itu baru masuk hari berikutnya, Senin.

4. Maka, definisi hari menurut Islam adalah:

- Ahad malam bagi penyebutan malam Ahad,

- Ahad malam dan bukan malam Ahad,

- Sabtu malam bagi penyebutan malam Sabtu, 

- Sabtu malam dan bukan malam Sabtu,

 

dan seterusnya… 

Wallahu a’lamu… 

February 6, 2008

Tahun Hijriah: ”Monumen” Ambruknya Tirani

Pada suatu hari, sahabat Abu Musa al-Asy’ari menulis surat kepada khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengeluh bahwa surat khalifah yang dikirim kepadanya tidak bisa dibeda­kan mana yang awal dan yang terakhir, karena tidak ada tanggalnya. Untuk menindak­lanjuti keluhan ini, khalifah mengumpulkan para sahabat untuk membahas perihal di atas. Mereka kemudian sepa­kat untuk membuat kalender Islam.

Semula banyak pendapat mengenai standar permulaan tahun Islam. Ada yang berpendapat tahun pertama dihitung dari kelahiran nabi saw. Ada yang mengusulkan dimulai dari tahun diutusnya nabi, dan masih banyak usulan lainnya. Namun akhirnya, mereka sepakat untuk men­jadikan peristiwa hijrah sebagai patokan permulaan kalender kaum muslimin. “Ta’rikh (Kalender) itu dimulai sejak Nabi meninggalkan tempat musyrik menuju tempat yang penuh dengan keimanan,” usul s. Ali ra. Usulan ini akhirnya disepakati oleh para sahabat yang hadir pada waktu itu.

Karenanya, sistem kalender yang kemudian menjadi kalender terbesar kedua di dunia setelah kalender masehi ini, ditetapkan oleh khalifah Umar sebagai kalender resmi Islam, pada Rabu 20 Jumadal Akhi­rah 17 tahun setelah hijrahnya Rasul.

Hijrah tidak hanya imigrasi dari Mekah ke Madinah, tetapi hijrah adalah sebuah upaya membangun peradaban baru. Peradaban yang jauh berbeda dengan tradisi Jahiliyah yang menjadi prinsip masyarakat kebanyakan waktu itu. Berbagai kejayaan, kemenangan yang kemudian diraih oleh kaum muslimin, semuanya berawal dari hijrah, karena hijrah bukanlah akhir dakwah beliau di Mekah,

Tetapi awal dakwah dan kunci kesuksesan dakwah Nabi saw. “Hijrah adalah pemisah antara hak dan batil,” tegas Khalifah Umar dalam dekrit penetapan tahun hijriah. Walaupun bulan pertama dalam kalender Islam adalah Muharram, tapi mulai berangkat Nabi hijrah terjadi pada 27 Shafar hingga Rasulullah sampai di Quba’ pada Senin, 8 Rabi’ul Awal dan masuk ke Madinah pada 12 Rabiul Awal/27 September 622 M. (al-Mubarakfury, al-Rahiq al-Makhtum). Muharram ditetapkan sebagai awal tahun hijri berdasarkan pandangan mereka bahwa pada bulan Muharram, jamaah haji pulang ke kampung halamannya untuk memulai “hidup baru” sebagai orang yang telah melaksanakan ibadah haji.

Hijrah juga merupakan kelanjutan tradisi para Rasul ketika mereka berdakwah. Nabi Ibrahim as. melakukan hijrah ke Palestina setelah lama berdakwah di Kan’an. Nabi Musa, sebelum diangkat menjadi Rasul sudah hijrah dari Mesir ke Madyan. Setelah menjadi Rasul beliau hijrah dari Mesir ke Palestina menyeberangi laut merah.

Hijrah para Rasul itu mempunyai makna penting bagi keberhasilan dakwah mereka. Hijrah Nabi Musa ke Madyan mempunyai kesamaan dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam hijrahnya ke Madinah. Sebagaimana yang terindikasi dalam sabda beliau sekemba­linya dari Tha’if, “Ingatlah wahai golongan Quraisy! Demi Allah, tidak lama lagi kalian akan masuk pada agama yang kalian ingkari ini”. Ada indikasi bahwa hijrah bagi beliau mempunyai makna strategi mensolidkan lini demi lini perjuangan. Terbukti, per­juangan beliau untuk meng-Islamkan penduduk Mekah, semuanya dikoordinir dari Madinah.

Begitu pula Musa as, di Madyan beliau menempa diri bersama keluarga Nabi Syuaib untuk kemudian kembali ke Mesir memberantas kekufuran, melawan kesewenang-wenangan dan penindas­an rezim tira­nik Fir’aun kepada Bani Israil.

Melihat kaitan yang amat erat antara hijrah dan dakwah dalam sejarah para Rasul ini, bisa ditarik sebuah kesimpulan historik bahwa hijrah merupa­kan sebuah kelaziman dalam perjuangan mene­gak­­kan kebenaran. Pada lingkup ini, kita bisa mencermati sebuah titik korelatif antara hijrah dan strategi dakwah. Titik korelatif ini dapat dijumpai dengan mudah dalam berbagai perjala­nan dakwah Islam dari masa ke masa.

Hal yang sama dapat pula kita temukan dalam kiprah dakwah pesan­tren. Telah maklum, pesan­tren adalah tempat hijrah —sebagai­mana terbersit dalam sajak-sajak A. Hidayatullah, “Sidogiri Mahjari”. Maksud “tempat hijrah” dalam konteks pesantren di sini tak jauh dengan kawah candra­dimuka dalam konteks pewayangan. Artinya, penempaan diri di pesantren tidak didasarkan untuk kemajuan lembaga secara internal, tapi lebih mempunyai orientasi kebutuhan masyarakat secara eksternal.
Pengertian ini sesuai dengan visi pesantren sebagai `produsen’ kader-kader agamawan yang dipersiap­kan untuk bersing­gungan dengan problematika sosial masyarakat di waktu itu.

******

Di tahun baru hijriyah 1429 ini marilah kita jadikan momentum untuk kembali mengingat dan mengenang peristiwa yang sangat agung itu, sejarah besar yang akan selalu dikenang oleh seluruh umat Islam di muka bumi.

Meninggalkan kampung halaman, sanak famili dan keluarga menuju sebuah daerah yang belum pernah dikenalnya di bawah kejaran musuh tentu bukan hal ringan. Perjuangan dan pengorbanan para Sahabat patut kita jadikan sebagai pegangan hidup kita dalam menjalankan tugas dakwah islamiyah. Sayyidina Ali ra. dengan ikhlas menempati tempat tidur Nabi yang beresiko besar. Nyawa taruhannya!

Hijrah adalah awal keberhasilan sebuah dakwah, kunci pembuka cahaya keislaman dan keimanan. Para Rasul mulai menuai hasil dalam dakwahnya setelah mereka hijrah. Imam Syafi’i ra dalam sebuah sya’irnya berkata, “Emas tidak akan menjadi emas kalau tidak dikeluarkan dari tanah”. Hijrah mempunyai arti yang sangat besar. Menyakitkan memang. Meninggalkan kampung halaman, sanak famili dan keluarga demi terciptanya kehidupan yang mulia dengan nur keimanan.

Sebagaimana orang biasa, nabi Muhammad saw sangat mencintai tanah kelahirannya, tanah ait dan tanah tumpah darahnya. Walau­pun selama berdakwah, beliau hanya menerima siksaan dan hinaan dari kaum kuffar Mekah, sehingga diperintah untuk hijrah ke Madi­nah sudah siap menanti datangnya cahaya Islam, tapi hal ini sama sekali tidak mempengaruhi rasa cintanya terhadap Mekah. Karena pada saatnya nanti, Mekah akan menjadi sentral agama Islam. Suasa­na perpisahan yang mengharukan terekam dari “salam perpi­sahan­nya” ketika berangkat hijrah. Seraya memandang Mekah, beliau berkata, “Demi Allah! Engkau (Mekah) adalah bumi Allah yang paling aku cintai. Demi Allah! Engkau adalah bumi Allah yang paling dicintai oleh Allah. Andaikan pendudukmu tidak mengusir aku, niscaya aku tidak akan pergi meninggalkanmu”.

Kini, sinar hijri telah diambang fajar. Ketabah­an dan kesabaran nabi ketika meninggalkan kota Mekah di bawah kejaran orang-orang kafir, kesetiaan para sahabat dalam membela dan membantu perjala­nan beliau serta sambutan histeris kaum Anshar ketika nabi tiba di Mekah dengan membawa dakwah Islam kembali menjel­ma di relung ingatan kita. Kesetiaan Imam Ali ra. ketika diperintah menempati tempat tidur nabi yang taruhannya adalah nyawa, pengorbanan dan ketulusan Abu Bakar beserta putra-putrinya mengawal perjalanan beliau keluar dari cengkram­an kaum kuffar tidak akan terlupakan selamanya.

Kita hanya bisa meneteskan air mata haru mengenang peristiswa agung itu, tanpa ada gugahan hati untuk terus melanjutkan dan mele­starikan hasil perjuangan mulia mereka. Akankah sejarah besar itu menjadi lagenda seiring hilangnya ghirah islamiyah kita yang dulu sangat rekat mewarnai perjalanan hidup mereka?

Reff:
Sidogiri dot Com

January 10, 2008

31 DzulHijjah 1428 H..?

Filed under: Astronomy, Kajian, Tadzkiroh

Yup, ini benar2 terjadi. Rabu, 9 Januari 2008 M = 31 Dzul Hijjah 1428 H

Kok bisa..?

Data berikut saya ambil dari web RHI, kapan Saudi memasuki tgl 1 Muharram 1429 H..?

Menggunakan Kriteria Rukyat Saudi, tgl 1 Muharram 1429 H akan jatuh pada:

Rabu, 9 Januari 2008.

Karena sesuai keputusan Saudi kemarin 1 Dzul Hijjah 1428 H = 10 Des 2008, maka 29 Dzul Hijjah 1428 H nya jatuh pada Senin 7 Jan 2008, sehingga:

Rukyat Saudi à Senin, 7 Januari 2008 (29 Zulhijjah 1428 H)

Data Hisab Hilal di Saudi:

Ijtimak : 15:38 LT  -  Sunset: 17:53 LT -  Moonset: 16:55 LT  -  Moon Alt.  - 12°20′)

Lebih detail, klik link berikut: Dzul Hijjah 31 hari

Jadi benar khan, ada tgl 31 Dzul Hijjah 1428 H..?

Wa Allahu a’lamu bish showwaab…

October 29, 2007

Tanya-Jawab hilal Cakung

Filed under: Kajian

Tulisan ini adalah postingan pertama saya setelah sekian hari Off karena liburan dan kebetulan saya mendapat ujian sakit ala anak2…Cacar Air… hehe kini dah sembuh, al hamdulillah…
Agak bingung juga mau nulis apa dulu karena ide selama liburan bermunculan agak banyak..

Sebelumnya, tepat menjelang penentuan awal Syawwal 1428 H, malam hari saat mau pilih Jum’at tgl 12 atau Sabtu tgl 13 Okt 2007 sebagai hari pertama bulan Syawwal 1428 H, saya sempat ngobrol kepada pak Toha perihal hilal Cakung. Sore hingga malamnya, saya dan Pak Toha bersama rekan2 BHR DIY, UII, UIN Suka, JAC, beberapa Tim Rukyah dari berbagai Pesantren, melakukan rukyah hilal di Bukit Syekh Bela-Belu Pantai Parangkusumo Bantul DIY.

Selanjutnya di milis RHI, obrolan ini agak lebih detail dan berikut saya kopikan hasil diskusi sederhananya…


mochamad rofiq <ki_rofiq@…> wrote:
Kemarin(20/10/2007) saya baru dapat sms bahwa"hasil rukyat di lajnah falakiyah AL HUSNIYAH Cakung JKT.

pada tanggal 11 Oktober 2007 sbb :
tinggi hilal 3.35′.59" , >>>> ini adalah hasil hisab bukan rukyat
umur hilal 14 mnt 24 detik. >>>> ini juga hasil hisab
Dengan saksi :H.m.Labib. 2.Forkhon. 3.A.Zain. 4.Muzbiwijdi
Data ini dihitung menggunakan Hisab Taqribi (hitungan kasar) sehingga tidak akurat
ditengarai Tim Cakung menggunakan Kitab Sulam al Naiyroin
(Menurut kitab ini, ijtimak terjadi pada 10:27 WIB )
Dari ijtimak sd sunset sekitar 7 jam shg :
7 jam x 0,5° (ketertinggalan bulan selama 1 jam=0,5°) = 3°30′ (kasarnya)
karena gerak bulan juga sekitar 4° per menit maka tg= 3°30′ (3,5°) sampai
tg=0 (bulan terbenam) >> perlu waktu 3,5x4 menit = 14 menit
( begitu cara mereka menghisab tanpa memperhitungkan faktor2 astronomis;
kerendahan ufuk (dip), refraksi atmosfer, semi diameter bulan/matahari, ketinggian tempat,
faktor ketelitian hitungan (digit) dsb mereka abaikan sgh hasilnya kasar) Tapi mereka mantap betul dengan hasil tsb >>> 3,5° ketinggian hilal yg membuat mereka begitu percaya diri dapat melakukan rukyat (menurut mereka angka ketinggian hilal minimal agar bisa dirukyat adalah 2° (padahal angka ini juga masih jauh dari kriteria sains)) apalagi hasil hisab yg terpaut jauh dg perhitungan modern ( 0° 21′ 06" ) ada selisih sekitar 3°.

Tambahan:.
Data Hisab Modern (menggunakan Software Starrynight pro Plus 6.06 untuk wilayah Cakung, Jakarta Timur Long:106:49:00E dan Lat:06:10:00S Tinggi: 50m dpl)
pada 11 Oktober 2007 adl. sbb:
Ijtimak Geosentrik : 12:02 WIB (dilihat dari pusat bumi)
Ijtimak Toposentrik : 12:33 WIB (dilihat dari lokasi ybs)
Matahari terbenam : 17:46 WIB (seluruh piringan matahari masuk ufuk Mar’i / visibel horizon)
Bulan terbenam : 17:48 WIB
Azimuth bulan : 258°44′
Azimuth matahari : 262°54′
Tinggi bulan saat matahari terbenam : 0° 21′ 06" (dia atas ufuk Mar’i / visibel horizon)
Lama hilal di atas ufuk : 2 menit (sunset-moonset)
Umur bulan dari ijtimak sampai saat matahari terbenam 17:46 - 12:02 = 5jam 44 menit

=======================================================
PADA KONDISI SEPERTI INI MUSTAHIL HILAL/BULAN DAPAT DIRUKYAT
=======================================================
Catatan : Software Starrynight Pro Plus 6.06 menggunakan algoritma Chapront ELP2000/82 yang hanya menghasilkan kesalahan sudut rata2 0,027° melenceng dari posisi sesungguhnya (sementara sudut diameter bulan cukup besar yaitu sekitar 0,5°)
Yg ingin saya tanyakan:

1.Benarkah hilal terlihat di wilayah Cakung? RHI kan juga melakukan pengamatan di sana.
Tim RHI di JIC (Jakarta Timur) maupun yang bergabung di Cakung tidak melaporkan dapat melihat hilal (karena memang mustahil). Posisi Cakung yang terlalu rendah membuat lokasi ini juga akhirnya tidak ideal untuk observasi hilal. Berdasarkan hasil observasi horizon barat dari Cakung berada di atas ufuk Hakiki sekitar 1° akibat pemukiman dan perkotaan belum lagi tingkat polusi udara langit Barat yang tepat berada di atas kota Jakarta.
Menurut laporan pengamat sering terlihat cahaya/lampu pesawat dari arah bandara sukarno-hatta terutama saat setelah maghrib sehingga ini dicurigai sebagai penyebab laporan rukyat dari cakung. Namun sayang tim Cakung menolak jika diajak pendampingan dengan alasan mengganggu.

2.Benarkah data2 hasil rukyat tersebut?
Yang disebutkan itu adalah data hisab bukan data rukyat. Data rukyat dilakukan pengukuran saat hilal terlihat : Dimana, kapan, bentuknya seperti apa syukur disertai bukti fisik berupa hasil pemotretan atau video. Tapi sayang tim rukyat cakung tidak mencantumkan data2 tersebut, justru yg dicantumkan dalam laporan itsbatnya adalah data hasil hisab.
3.Kalau saudi 1 syawalnya tgl 12/10/2007 ,mesir 13/10/2007,indonesia 13/10/2007,berarti di dunia ini tanggal 1syawal nya bisa berlainan(bahkan ada 3 hari), apakah secara ilmiah ini mungkin?
Terjadinya perbedaan pada kalender komariyah secara ilmiah mungkin saja. Kenapa? sebab kriteria tunggal penanggalan tersebut memang belu disepakati. Masing2 pihak memiliki kriteria sendiri untuk menentukan awal bulannya akibatnya tidak hanya 3 hari berselisih bahkan bisa 4 hari. Dan menjadi hal yang mustahil untuk menyatukan kalender ini karena bentuk bumi yang bulat dan kita juga masih terpengaruh sistem kelender masehi.
Kita harus sepakati dulu dimana mulainya hari misalnya hari Jumat dimulai dari mana? Negeri mana yang berhak Jumatan dulu? Arab? Indonesia? Atau dimulai dari tempat yang pertama kali melihat hilal? (seharusnya demikian). Lalu dimana yang paling tepat? tempat ini jelas selalu bergeser.. atau kita menggunakan aturan kalender masehi untuk menentukan hari dan menggunakan kalender hijriyah untuk awal bulan? yg jelas standard ganda penggunaan kelender ini juga menjadi masalah.

Padahal kalau dikatakan contoh di Indonesia tanggal 1 januari 2009,maka seluruh dunia pasti juga tanggal 1 januari 2009, tapi kalau 1syawal kok bisa lebih dari 1?
Tidak juga, coba saat kita rame2 merayakan tahun baru 1 Januari pukul 00:00 di benua amerika masih tanggal 31 desember siang dan mereka harus menunggu 12 jam lagi untuk merayakannya.
Dan saat di benua amerika hiruk pikuk merayakan tahun baru sampai tanggal 1 sore harinya kita di Indonesia sudah masuk tanggal 2.

Namun masih beruntung kalender masehi ini karena kriteria dan batasnya telah disepakati bersama walaupun untuk itu butuh waktu ratusan tahun sampai seluruh dunia mau mengakuinya….
ma’af atas ketidaktahuan saya.
sama2 kita saling belajar…

Salam,
Mutoha
dari: http://tech.groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/message/324

October 4, 2007

Persamaan Lailat al-Qodr

Filed under: Kajian

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr [97]:1-5)

Allah Maha menentukan segalanya. Dia memilih sesuatu yang dikehendaki-Nya. Allah memilih tempat yang dikehendaki-Nya. Allah memilih manusia yang dikehendaki-Nya, pilihan-Nya ada yang menjadi Nabi, Rasul, pemimpin negara, cendekia, dsb. Allah memilih gua Hiro’ yang dikehendaki-Nya sebagai tempat pertemuan Rasul dan Malaikat Jibril. Allah memilih Mekkah yang dikehendaki-Nya sebagai kiblat kaum Muslimin dan memilih pula kota Madinah sebagai basis pertahanan Rasulullah SAW dalam menyebarkan risalah Ilahi.

Begitu pula halnya dengan bulan-bulan dalam setahun, Allah telah memilih Ramadhan sebagai bulan yang istimewa, yang namanya disebutkan dalam Al- Qur’an. Firman Allah :

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqoroh [2]:185.)

Jika Allah berkehendak, tentu ada suatu maksud tertentu dibalik kehendak-Nya itu. Allah mengutus Rasulullah dengan satu maksud, untuk menyampaikan risalah-Nya. Begitu halnya dengan bulan Ramadhan, sebab Allah tidak akan mengatakan Ramadhan sebagai bulan istimewa jika tidak ada sesuatu dibalik itu. Baginda Rasulullah SAW, ketika berada di penghujung bulan Sya’ban, selalu mengatakan kepada sahabatnya :

“Telah datang padamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka sambutlah kedatangannya. Telah datang bulan shiyam membawa segala keberkahan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu.” (HR. Ath-Thabrani).

Dalam sabdanya yang lain :

“Sesungguhnya telah datang padamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah memerintahkan berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu, dibukakan segala pintu Surga, dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu syetan-syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa yang tidak diberikan kebajikan malam itu, berarti telah diharamkan baginya segala rupa kebajikan.” (HR. An-Nasai dan Al-Baihaqi)

Jika kita menengok ke belakang, melihat sirah Rasulullah SAW kita akan melihat betapa banyaknya kejadian penting terjadi pada bulan Ramadhan, di antaranya :

1. Bulan diturunkannya Al-Qur’an. Firman Allah :

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah [2]:185)

Dalam tafsir Mafatihul Ghaib, berkenaan dengan ayat diatas, Ar-Razi berkata : “Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dengan jalan menurunkan Al- Qur’an. Karenanya, Allah SWT mengkhususkannya dengan satu ibadah yang sangat besar nilainya, yakni puasa (shaum). Shaum adalah satu senjata yang mengungkapkan tabir-tabir yang menghalangi kita manusia memandang nur Ilahi yang Maha Quddus. Al-Qur’an adalah suatu kitab yang tiada bandingannya, pemisah yang haq dan bathil, berlaku sepanjang masa, dan menjadi pengikat seluruh ummat Islam di seluruh dunia.

2. Bulan diturunkannya kitab-kitab suci lainnya. Di bulan ini pula, Allah menurunkan kitab-kitab-Nya yang lain kepada para Rasul, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits:

“Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada 6 Ramadhan dan Injil diturunkan pada 13 Ramadhan sedangkan Al-Qur’an diturunkan pada 24 Ramadhan.” (HR. Ahmad).

Itulah keberkahan bulan Ramadhan, bulan turunnya ayat-ayat Qouliyyah, minhajul hayah bagi keberadaan manusia di muka bumi, penunjuk jalan bagi orang-orang yang mau mensucikan dirinya.

3. Bulan pilihan Allah bagi terjadinya perang Badr. Perang pertama yang dilakukan kaum Muslimin, dimana perang ini menjadi penentu kelangsungan perjuangan da’wah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabatnya. Perang Badr dinamakan Allah dengan sebutan “yaumul furqon” (hari pembeda antara yang haq dan bathil), sebagaimana firmanNya :

“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al Anfal [8]:41).

Muhammad Qutb mengatakan dalam tafsirnya bahwa perang ini dari awal hingga akhirnya adalah rencana Allah SWT yang dilaksanakan dengan pimpinan dan bantuanNya. Dimana dalam jalannya pertempuran, Allah SWT memenangkan kaum Muslimin yang mempunyai personil dan persenjataan minim, ditambah kondisi fisik kaum Muslimin yang secara lahiriah lebih lemah karena sedang berpuasa, setelah menerima perintah yang baru beberapa saat diterimanya. Namun itu bukanlah hambatan untuk menang, karena kekuatan utama kaum Muslimin adalah kekuatan ruhiyyah mereka dengan keyakinan akan kebenaran janji Allah SWT. Peperangan ini membuahkan babakan baru dalam sistem gerakan Islam. Perang ini memperbaharui kondisi ummat Islam, setelah dengan sabar dan tabah menempuh tahapan-tahapan perjuangan da’wah. Lahir tatanan baru dalam kehidupan manusia, bagi penerapan hak-hak asasi serta sistem dan struktur baru bagi masyarakat dan negara.

4. Bulan yang dipilih bagi terbukanya kota Mekkah. Peristiwa “fathul makkah” terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan, sekitar 10000 kaum Muslim mendatangi Makkah dari segala penjuru. Pada saat itulah terjadi fenomena kemenangan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah manapun, dimana semua musuh, hingga para pemimpinnya menerima dan mengikuti agama lawan. Ini tidak terjadi melainkan dalam sejarah Islam. Kemenangan ini hakikatnya adalah kemenangan akidah, kalimat tauhid dan bukan kemenangan individual atau balas dendam.

5. Bulan yang dipilih untuk pelaksanaan puasa dan pemindahan qiblat. Firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. ” (QS. Al-Baqarah [2] : 183).

Bersamaan dengan turunnya ayat perintah berpuasa di bulan Ramadhan, pemindahan qiblat ummat Islam dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram inipun menjadi pembeda antara yang haq dan bathil, dimana pada saat sebelumnya orang Yahudi merasa lebih benar karena puasa mereka dan kiblat mereka diikuti kaum Muslimin. Namun dengan perintah itu, maka berbedalah kaum Muslimin dengan ahlul kitab. Berbeda pula kiblat Muslimin dengan mereka, serta puasa Muslimin dengan mereka. Kecongkakan merekapun berakhir dengan barokah bulan ini.

6. Bulan yang dipilih Allah untuk Lailatul Qadar. Dijelaskan dalam firman Allah SWT :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS Al Qadr [97]:1-5)

Lailatul Qodr

Selama bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer disebut sebagai Lailatul Qodr, malam yang lebih berharga dari seribu bulan (QS. Al-Qodr : 1-5). Rasululah tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meraih Lailatul Qodr terutama pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan puasa (HR. Bukhori Muslim ). Dalam hal ini Rasulullah menyampaikan bahwa :

“Barangsiapa yang sholat pada malam lailatul qodr berdasarkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hr. Bukhori Muslim).

Mengapa semalam bernilai setara dengan seribu bulan?

Ummat terdahulu memiliki rata-rata usia yang cukup panjang, ada yang mencapai usia 1000 tahun bahkan ada yang lebih. Sebagian ulama mengatakan bahwa ummat dahulu ada yang belum mencapai usia baligh (cukup umur) hingga usia 80 tahun. Sebuah riwayat menjelaskan bahwa ada seorang yang meninggal di usia sekitar 200-an tahun, maka serentak banyak makhluk yang merasa simpati terhadapnya, karena ia telah meninggal dalam usia yang muda.

Juga diriwayatkan bahwa nabi Ibrohhim a.s berkhitan ketika usia beliau mencapai 80 tahun, ketika Allah memerintahkan untuk melakukannya. Diriwayatkan bahwa imam Al-Mahdi berusia panjang. Sampai saat ini beliau telah berusia 1164 tahun. Ummat terdahulu juga telah dipanjangkan umurnya seperti nabi Nuh ‘alaihissalam yang berusia lebih dari 1000 tahun; Luqman bin Ka’ab 400 tahun; ‘Abdulmasih bin Baqlah Al-Ghasani lebih dari 350 tahun; dan Ash-habul Kahfi yang hidup di dalam gua selama 309 tahun.

Rasululah SAW ketika merasakan bahwa usia ummatnya terlalu pendek bila dibandingkan dengan usia ummat sebelumnya, beliaupun memohon kepada Allah SWT, mengadukan tentang pendeknya usia ummat islam sehingga tidak cukup waktu bagi mereka untuk meperbanyak ketaatan kepada-Nya, serta untuk menambah amalan bagi akhiratnya. Dari do’a nabi SAW inilah lalu Allah SWT menganugerahkan kepada nabi dan ummat islam suatu malam yang disebut Lailatul Qodr, yang nilai kebaikannya setara dengan 1000 bulan.

Semalam setara seribu bulan karena pada malam itu turun para malaikat dan ruh dari terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar atau kira-kira 10 jam di sekitar khatulistiwa tahun ini. Semalam setara seribu bulan, artinya 1 malam = 1000 bulan = 30.000 malam = 300.000 jam = 18.000.000 menit 1.080.000.000 detik, atau 1 malam = 83 tahun 4 bulan.

Allah menjelaskan, para malaikat dan ruh (ditafsirkan Jibril) akan turun ke bumi menuju ke alam kasar semenjak terbenam matahari hingga terbit fajar. Perpindahan malaikat dari alam malakut (dimensi cahaya) menuju ke alam nasut (dimensi partikel) tidak setiap saat dapat terjadi, karena untuk berpindah dimensi, malaikat berarti melintasi cermin CP (C=charge conjugation, penolakan muatan dan P=parity, keseimbangan) dan meperlambat kecepatannya (kecepatan cahaya) mendekati kecepatan partikel. Ini sama dengan pengerahan energi secara kontinu yang kalau tidak sesuai prosedur yang ditentukan Allah, maka fatal jadinya (meledak, energy-overload).

Malaikat diciptakan oleh Allah dari nur atau cahaya. Malaikat adalah makhluk patuh, sehingga tidak mungkin akan mengganggu makhluk lain. Ia terbentuk dari cahaya yang sudah keluar dari bintang, sehingga memiliki sifat yang lebih dingin daripada setan yang tercipta dari netrino panas di pusat bintang. Cahaya merambat dengan kecepatan 300.000 km/s yang artinya sama dengan kecepatan pusingan medan skalar alam raya.

Pusingan ruang dalam kecepatan cahaya (300.000 km/s) adalah waktu mutlak, ia adalah ruang bulat dan bukan lonjong. Bila benda bergerak dengan kecepatan cahaya, yang artinya sama dengan kecepatan pusingan ruang atau waktu mutlak, maka benda itu akan membekukan waktu mutlak, sehingga ia akan terlepas dari perhitungan waktu. Tidak jadi soal, berapapun luas atau jauh jarak yang ditempuh benda itu, atau berapa kali dia mengelilingi alam raya, sepanjang bergerak dalam kecepatan itu ia tidak akan terkena hitungan waktu.

Waktu 1 detik bagi benda diperlebar tanpa batas, sehingga sepanjang bergerak dalam kecepatan itu ia akan kekal. Artinya, bila kita mampu bergerak dalam kecepatan cahaya, berapa kali pun keliling alam raya, perjalanan yang kita alami tidak akan memakan waktu 1 detik. Ini adalah ukuran waktu bagi dimensi waktu atau dimensi lembut. Pada dimensi ini tidak ada waktu “tadi” atau “nanti”. Kata ” tadi” atau “nanti” hanya berlaku pada dimensi-dimensi waktu nisbi, yang pusingan/kecepatannya kurang dari 300.000 km/s. Bagi benda di alam kasar yang tidak bergerak, usia alam raya sekarang 15 milyar (menurut hitungan tetatapan kosmis lambda) atau ½ menit menurut hitungan dimensi waktu.

Tidak semua malaikat dapat menjelma ke dimensi kasar. Malaikat yang mampu menembus dimensi manusia adalah sekelompok malaikat yang cerdas dan kuat (seperti Jibril), dan ia hanya akan tinggal sebentar karena untuk muncul di dimensi kasar memerlukan energi pengerem kecepatan. Dan sekali lagi ini hanya dapat dilakukan oleh malaikat yang memiliki kesadaran-atas-potensi sangat tinggi alias cerdas.

Inilah rahasia, mengapa peristiwa isra’ wal mi’raj terjadi pada malam seperti halnya malam Lailatul Qodr pada bulan suci ramadhan ini. Waktu malam sengaja Allah istimewakan bagi hamba-hamba yang ingin lebih bertaqarrub kepada-Nya, di saat semua makhluk sedang terlelap istirahat. Waktu malam adalah saat di mana cahaya matahari tidak bersinar, sehingga manusia tidak akan mampu melihat apapun kecuali dengan mata hati/bathinnya. Waktu malam hari inilah saat bagi hamba Allah yang khusyu’ untuk mengoptimalkan potensi ruhaninya hingga mampu berkelana ke ufuk alam semesta dan menembus alam lain -mendekat kepada Allah sedekat-dekatnya…

Sekarang akan kita hitung usia seorang mukmin yang dikaruniakan Allah Lailatul Qodr. Kita ambil contoh, bila si Fulan telah berusia 30 tahun, ia telah menjalankan ibadah ramadhan semenjak usia 15 tahun berarti ia telah menjumpai Lailatul Qodr sebanyak 15 kali. Selanjutnya bila selama 15 tahun itu dikaruniakan Lailatul Qodr oleh Allah 12 kali saja (yang 3 tahun selebihnya bolong-bolong), maka saat ini si Fulan tadi tidak lagi berusia 30 tahun, akan tetapi telah bertambah mengikuti persamaan Lailatul Qodr sebagai berikut:

U = Ui + (n x 83,4)

dengan:
U = usia hamba yang mendapatkan Lailatul Qodr (tahun)
Ui = usia hamba mula-mula (tahun)
n = orde Lailatul Qodr (tanpa satuan)
83,4 = 83 tahun sisa 4 bulan

Jadi usia Fulan saat ini adalah:

U = 30 + (12 x 83,4) tahun
= 30 + (1000,8) tahun

U = 1030,8 tahun

atau 1.030 tahun ditambah 8 bulan.

Sungguh usia yang fantastis untuk ukuran saat ini. Manusia tertua di planet bumi ini tidak lebih dari 200 tahun, sementara si Fulan telah 1000 tahun lebih. Dan dengan analogi demikian, usia hamba yang taat kepada Allah bisa dipastikan sudah mencapai ribuan tahun, karena dari perhitungan sederhana ini, semakin sering kita mendapatkan Lailatul Qodr, maka usia-U kita akan semakin meningkat menjadi usia-Ui dengan kelipatan 83 tahun 4 bulan.

Berapakah usia-Ui anda Sekarang? Berapa usia-U anda selepas ramadhan 1428 H ini?

Jawabnya adalah mengetahui terlebih dahulu, berapa orde Lailatul Qodr kita. Orde Lailatul Qodr didapat dengan melihat dua faktor berikut:

1) istiqomah menjalankan amalan-ramadhan secara imaniah-ihtisaabiah.
2) amalan-ramadhan membekas dengan meningkatnya amalan-ibadah selama 11 bulan pasca ramadhan.

Ketahuilah bahwa panjang umur dan penuh dengan ketaatan kepada Allah adalah sesuai sabda Rasululah,

“Sebaik-baik kamu adalah orang yang panjang umurnya dan baik pula amalannya” (HR. Tirmidzi)

Semoga Allah karuniakan Lailatul Qodr kepada kita tahun ini. Amien…19x

September 18, 2007

Menentukan Awal-Akhir Ramadhan

Filed under: Astronomy, Kajian

Dari Pengajian Malam Rabu di PPMI Assalaam, KH. M. Chozin Shiddiq, menjelaskan cara menentukan awal dan akhir Ramadhan berdasarkan dalil Qur’an dan Sunnah. Berikut petikan materi pengajian beliau…

1.      Telah menjadi keyakinan kita bahwa agama Islam sudah sempurna, Muhammad Rosulullah SAW telah menyampaikan seluruh Risalah Allah SWT, hal ini telah disaksikan oleh para sahabat, serta generasi yang datang berikutnya. Kewajiban kita umat Islam menerima seluruh ajaran Islam tersebut secara utuh dan konsekuen, artinya tidak perlu ditambah, dikurangi, serta dilarang mengikuti subul (jalan-jalan) selain yang telah digariskan oleh beliau, karena pasti akan menyebabkan perselisihan dan perpecahan. (Qs: 59. 7) (Qs. 6 : 153)

2.      Dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan Rosul SAW dengan tegas dan jelas memberikan pelajaran kepada kita umat Islam secara mudah dapat dikerjakan oleh semua orang, inilah ciri khas ajaran Islam, hal ini telah diamalkan/dipraktekkan Rosulullah SAW, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’it –Tabi’in, sampai pada para Imam yang empat  serta para salafus sholih  dan ulama-ulama yang benar benar konsekwen mengikuti sunah Rosulullah SAW. Yaitu bahwa awal dan akhir  Ramadhan ditentukan oleh “RU’YATUL HILAL”  tidak dengan cara-cara lain hasil dari rekayasa manusia. Hilal dianggap sebagai pertanda awal bulan jika telah terlihat dan diberitahukan kepada pihak lain, bukan dalam hitungan (hisab).

3.      Marilah kita perhatikan ayat-ayat al-Qur’an dan Hadist shohih berikut yang menunjukkan penentuan awal dan akhir Ramadhan dengan cara “Ru’yah”  seperti yang dicontohkan Rosulullah SAW :

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit (hilal). Katakanlah: “Bulan sabit (hilal) itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji…… (QS. 2 : 189)

Maka barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa…. (QS : 2 : 185)

Sesungguhnya bilangan bulan (Qamariyah) pada sisi Allah adalah dua belas bulan, …. (QS. 2 : 36)

Diriwayatkan dari Abdullah Bin Umar, RA beliau berkata :  “ Aku mendengar Rosulullah SAW bersabda : “ jika kalian melihatnya (Hilal Ramadhan) maka berpuasalah. Dan jika kalian telah melihatnya (hilal syawal)  maka berbukalah namun jika kalian terhalang melihatnya (mendung dll) maka tentukanlah bulan tersebut” (Mutafaq ’alaih).-         

Dan dalam Riwayat Muslim : “ …namun jika kalian terhalang melihatnya, maka tentukanlah bulanya 30 hari”.-         

Dan juga menurut muslim, dari hadist Abu Hurairah RA “ …… maka berpuasalah kalian 30 hari “-         

Dalam redaksi lain “  ……. maka genapkanlah bilangan (harinya).”-         

Dalam lafadz Lain , “ …… maka hitunglah menjadi 30 hari …“. -         

Dan dalam Riwayat Bukhary, : .. maka sempurnakanlah bilangannya menjadi 30 hari … “ -         

Dan juga menurut Riwayat al-Bukhary, dari hadist Abu Hurairah Ra, “ …maka genapkanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari.”(Shahih Muslim, II/122/124) (Shahih Bukhori, II/229/249)-         

Dan masih banyak lagi hadist-hadist senada dalam Kitab-kitab Sunan (Kutubus Sittah)

4.      Memang ada cara lain dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan yaitu dengan “HISAB” dengan perhitungan astronomi. Namun kalau diperhatikan benar-benar alasan/dalil yang dijadikan landasan kurang pas. Disamping itu jelas menyalahi sunnah Rosulullah SAW.     

Diantara dalil yang djadikan rujukan antara lain :

a). Q.S. Yunus : 5…Ayat ini sama sekali tidak menunjukan  tentang bulan Ramadhan, tetapi  menjelaskan fungsi manzilah-manzilah bulan dalam mengetahui hitungan tahun dan perhitungan waktu.

b. Juga QS ; Al Isro’ : 12.   Ayat ini pun tidak  ada kaitannya dengan Ramadhan, sifatnya umum.      

c. Juga  Hadist : “… وَاقْدُرُوْا لَهُ … “Bukan menunjukkan cara hisab, tetapi hadist ini telah dijelaskan sendiri oleh Rosulullah SAW dalam hadist berikutnya (seperti yang ditulis hadist diatas).

d)   Ada lagi alasan bahwa umat Islam saat itu “Ummi” tidak bisa  baca tulis. Hal ini juga tidak ada kaitannya dengan Ramadhan, atau bahkan “Hisab” Mafhum mukholafah tidak bisa dijadikan Illah dalam penentuan hukum.

e) Alasan-alasan lain juga sama sekali tidak menunjukkan secara tegas, “ Hisab” untuk menentukan awal dan akhir Ramadhan.

Belum lagi hisab aliran mana yang harus dipakai, karena di Indonesia saja ada berbagai aliran hisab yang masing-masing hasil perhitungannya bisa berbeda-beda, karena kitab rujukannya berbeda-beda. Ada ± 15 Macam kitab ilmu hisab sebagai rujukan dengan berbagai macam aliran, yaitu antar lain :

1).      ALiran Hisab ”Taghribi” dengan kitab-kitabnya antara lain :
o        Sullamun Nayyiraini
o        Tadzkiratul Ikhwan
o        Fathur Rauf  Fil Manan
o        Risalatul Qomaroini

2).      Aliran Hisab Tahqiqy, dengan kitab-kitabnya antara lain :
o        Manahiyul  Nataijul Aqwal
o        Khulashah Wafiyah
o        Badi’atul Misal

3).      Aliran Kontemporer dari kitabnya :
o        New Comb
o        Jean Meuus
o        Ephemeris

4).      Al Manak Menara Kudus- KH. Tajus Syaraf

5).      Team Lajnah Falaqiyah PBNU

6).      Team Hisab Majlis Tarjih Muhammadiyah

7).      Almanak Taqwim Pendidikan Agama

8).      Hisab dari Pondok Pesantren Salafiyah- Seperti : PP. Jampes, PP Lirboyo, dll.

 

5.   Ilmu Hisab bisa dipakai sebagai pendukung Ru’yah, membantu menentukan “Hilal” bukan sebagai penentu awal dan akhir Ramadhan, jika dijadikan penentu, berarti mengganti kedudukan Ru’yah. Hal ini sama dengan mengganti ketentuan Syar’i yang telah ditetapkan oleh Baginda Rosulullah SAW. (Na’udzubillah)

Dapat Diruju’ :

Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah
Fatawa Lajnah ad-Da’imah Lil Buhuts alIlmiyah wal Iftaa’, Ahmad bin Abd. Razaq ad-Dawaisy.
Kutubus Sittah.
Tafsir : As-Sa’idi, Ibnu Katsir, At Thabari, Depag.

Berikut koleksi Hilal Ramadhan 1428 H

1. Hilal tgl 1 Ramadhan 1428 H:

Hilal tgl 1 Ramadhan 1428 H (Pak AR)

2. Hilal tgl 2 Ramadhan 1428 H:

Hilal 2 Ramadhan 1428 H (Pak AR)

3. Hilal tgl 3 Ramadhan 1428 H:

Hilal 3 Ramadhan 1428 h (Pak AR)

4. Hilal tgl 4 Ramadhan 1428 H:

Hilal 4 Ramadhan 1428 h (Pak AR)

Sekali lagi, Rukyah tanpa panduan Hisab akan salah arah dan salah lihat serta salah kaprah…

Sebaliknya Hisab tanpa dibuktikan dengan Rukyah (bulan ramadhan dan syawwal dan dzul hijjah), menyalahi ajaran Rasul dalam menjalankan perintah agama.

Terlepas kalau Hisab untuk kepentingan pengetahuan semata yang tidak ada dampak ke persoalan ubudiyyah, monggo kerso…. Kata Rasul,"Antum a’lamu bi umuuri dunyaakum".

Wa Allahu a’lamu…[]

 

 

September 5, 2007

Al-Qur’an “YM” Robot

Filed under: Software, Kajian

Siang ini, Rabu (5/9) saya ngobrol sama seorang teman di Malang. Solo-Malang secara geografis cukup jauh, namun bila lihat di monitor kok serasa tidak ada jarak. Pak Novel namanya. Dari Pak Novel, saya kenal satu id di YM. Maka langsung saya Add ke YM saya karena kebetulan saya online. Setelah Add ke YM dan pasti ada id tadi itu, lalau saya lihat ternyata id baru ini tampak Available.

ID YM terebut bernama quran.noor.

Berikut obrolan saya perta kepada quran.noor.

Saya pertama2 langsung menulis kata "assalaamu’alaikum", dan tanpa menunggu, langsung quran.noor menjawab sangat lengkap. Dia langsung menjawab denganmemulai menulis ‘basmalah‘. Dan dia tahu kalau saya baru mengenal nya. Maka saya disarankan untuk meminta pertolongan atau HELP. Maka saya langsung bertanya lewat kata Help, eh ternyata pertolongannya otomatis muncul. Bahkan tidak sekedar qur’an yang dikuasai terjemahnya namun juga terjemah Hadits2 ternama. Dah pokoknya tinggal tulis, dan akan muncul jawaban sesuai yang kita inginkan. Selanjutnya ID ini tahu juga ketika YM kita sedang idle. Dia mengomentari berapa lama saya meninggalkan internet. Kalau pertanyaan salah, maka akan dibenarkan dengan memberikan solusi alternatif dari maksud kita bertanya. Terakhir, saya berterima kasih, dan jawaban dia ternyata sangat tepat.

Dan selengkapnya dapat dilihat di arsip pertama saya ngobrol dengan Kyai quran.noor, berikut ini:

===================================

AR: assalaamu’alaikum..?

quran.noor
:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِِ

Welcome! ar_sugeng_riyadi to Quran Hadeeth and other Books BOT.. V4.0 You seems to be new, type Help and follow the instructions.

quran.noor:
Greetings ar_sugeng_riyadi… I am a BOT, a roBOT, try some commands. Help <— Type this.

AR: help

quran.noor:
Type/أكتب Quran Help القرآن مساعدة for complete help on Quran Command.
Ex:- Quran 1:1-7 or القرآن 1:1-7 <=== أكتب
Quran 2 255 AR or القران البقره 255 <=== أكتب Ayat-Al-Kursi in Arabic.
Quran Al-Ikhlas:1-4 Malay Surah Ikhlas in Malaysian.

quran.noor:
Commands for Hadeeth and other Books are: Bukhari, Muslim, Dawud, Malik, Riyad, Nawawi, Qudsi, Dua, Explain, Sermon, FAQ, البخاري, N-My …
Type Help for each commands like Muslim Help

quran.noor: For Further information and help if you need visit:http://quran.noble.googlepages.com/ Email quran.noble@gmail.com

AR: bukhari help

quran.noor: Translation of Sahih Bukhari Hadeeth BOT V8.3.

quran.noor: Syntax: Bukhari Volume:Number — Ex: Bukhari 1:1 … Bukhari 6:128 … There are 9 Volumes which totals to 7068.

quran.noor: Other Commands: Random - Next - Prev - Search … Ex: Bukhari Search Mujahir … Bukhari Random

quran.noor: This BOT is based on Translation by M. Muhsin Khan

quran.noor: Aliases are SB BUKHARI SBH EN ENGLISH - Visit: http://www.iiu.edu.my/deed/hadith/

AR: quran 19:1-5

quran.noor: Translation Of The Meanings Of The Glorious Quran. Surah:19.Maryam.

quran.noor: 1. Kaf, Ha, Ya, ‘Ayn, Sad. quran.noor: 2. [This is] a mention of the mercy of your Lord to His servant Zechariah

quran.noor: 3. When he called to his Lord a private supplication.

quran.noor: 4. He said, "My Lord, indeed my bones have weakened, and my head has filled with white, and never have I been in my supplication to You, my Lord, unhappy.

quran.noor: 5. And indeed, I fear the successors after me, and my wife has been barren, so give me from Yourself an heir

quran.noor: The Meaning of the Quran by Saheeh International. V9.3

AR: quran id 19:1-5

quran.noor: Translation of Qur’an in Indonesian Language. Surah:19.Maryam.

quran.noor: 1. Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad.

quran.noor: 2. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tetang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya zakariya.

quran.noor: 3. yaitu tatkala ia berdo’a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.

quran.noor: 4. Ia berkata:"Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalalu telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku.

quran.noor: 5. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalanku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari Engkau seorang putera,

quran.noor: Al-Quran dan Terjemahnya By Prof. Dr. RHA Soenarjo. V9.3

AR: bukhari id 1:1

quran.noor: Sahih Bukhari Hadeeth. Vol.1 Book:1. Revelation. No.1.

quran.noor: Narrated ‘Umar bin Al-Khattab:

quran.noor: I heard Allah’s Apostle saying, "The reward of deeds depends upon the intentions and every person will get the reward according to what he has intended. So whoever emigrated for worldly benefits or for a woman to marry, his emigration was for what he emigrated for."

quran.noor: Translation by M. Muhsin Khan. V8.3

AR: jazakallah

quran.noor: You are most Welcome.

AR: qurab 49:6

quran.noor: Did you mean Bukhari qurab 49:6 ???

AR: quran 49:6

quran.noor: Translation Of The Meanings Of The Glorious Quran. Surah:49.Al-Hujurat.

quran.noor: 6. O you who have believed, if there comes to you a disobedient one with information, investigate, lest you harm a people out of ignorance and become, over what you have done, regretful.

quran.noor: The Meaning of the Quran by Saheeh International. V9.3

AR: quran id 49:6

quran.noor: Translation of Qur’an in Indonesian Language. Surah:49.Al-Hujurat.

quran.noor: 6. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

quran.noor: Al-Quran dan Terjemahnya By Prof. Dr. RHA Soenarjo. V9.3

AR: […..idle…..]

quran.noor
:
  See you soon, again, InShaAllah. Have a nice time! Session Lasted 21 minutes. =========================================

Welcome Ramadhan 1428 H

Filed under: Kajian, Islam

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqoroh 183-186:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣)

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (١٨٤)

 شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (١٨٥)

 وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (١٨٦)

Artinya:

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[1], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

186. dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

[1] Maksudnya memberi Makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.

*). Awal bulan Ramadhan:

Menentukan awal bulan Ramadhan 1428 H, maka sebagaimana perintah Nabi SAW kita harus melakukan rukyatul hilal. Terlepas ada pendapat hisab dan lainnya, saya pribadi lebih condong dan sreg kalau pakai rukyah, toh kita masih punya ‘mata’ yang memang karunia Ilahi untuk rukyah salah satunya:

CARA MENETAPKAN AWAL DAN AKHIR BULAN:

1. "Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. beliau berkata : Manusia sama melihat Hilal (bulan sabit), maka akupun mengabarkan hal itu kepada Rasululullah saw. Saya katakan : sesungguhnya saya telah melihat Hilal. Maka beliau saw. puasa dan memerintahkan semua orang agar puasa." ( H.R Abu Dawud, Al-Hakim dan Ibnu Hibban).(Hadits Shahih).

2. "Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Mulailah puasa karena melihat ru’yah dan berbukalah ( akhirilah puasa Ramadhan ) dengan melihat ru’yah. Apabila awan menutupi pandanganmu, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban selama Tiga Puluh hari. "( HR. Bukhary Muslim).

 

KESIMPULAN

  • Menetapkan awal dan akhir bulan Ramadhan dengan melihat ru’yah, meskipun bersumber dari laporan seseorang, yag penting adil ( dapat dipercaya ).
  • Jika bulan sabit ( Hilal ) tidak terlihat karena tertutup awan, misalnya, maka bilangan bulan Sya’ban digenapkan menjadi Tiga Puluh hari. ( dalil 1 dan 2).
  • Pada dasarnya ru’yah yang dilihat oleh penduduk di suatu negara, berlaku untuk seluruh dunia. Hal ini akan berlaku jika Khilafah ‘ Ala Minhaajinnabiy sudah tegak ( dalil 2 ).
  • Selama khilafah belum tegak, untuk menghindarkan meluasnya perbedaan pendapat ummat Islam tentang hal ini, sebaiknya ummat Islam mengikuti ru’yah yag nampak di negeri masing-masing. ( ini hanya pendapat sebagian ulama).

     

Selengkap dan sedetailnya Rukyah Hilal Ramadhan 1428 H ada di Link berikut:

Rukyatul Hilal Ramadhan 1428 H.

atau klik gambar di bawah ini:

 

 

*). Amalan di bulan suci Ramadhan:

Rasulullah telah bersabda yang artinya sebagai berikut: Diriwayatkan dari Anas ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Apabila ada sesuatu dari urusan duniamu, maka kamu lebih tahu tentang hal itu. Jika ada urusan dienmu, maka akulah tempat kembalinya ( ikuti aku ). ( H.R Ahmad).

di hadits lain:

Artinya : Dirwayatkan dari ‘Aisyah ra : Rasulullah saw. telah bersabda : Barangsiapa melakukan perbuatan yang bukan perintah kami, maka ia tertolak ( tidak diterima). Dan dalam riwayat lain: Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perintah kami ini yang bukan dari padanya, maka ia tertolak. Sementara dalam riwayat lain : Barangsiapa yang berbuat sesuatu urusan yang lain daripada perintah kami, maka ia tertolak. (HR.Ahmad. Bukhary dan Abu Dawud).

Kandungan dua hadits shahih di atas menerangkan dengan jelas dan tegas bahwa segala perbuatan, amalan-amalan yang hubungannya dengan dien/syari’at terutama dalam masalah ubudiyah wajib menurut panduan dan petunjuk yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. Tidak boleh ditambah dan/atau dikurangi meskipun menurut fikiran seolah-olah lebih baik. Diantara cara syaitan menggoda ummat Islam ialah membisikkan suatu tambahan dalam urusan Dien. Sayangnya, perkara ini dianggap soal sepele, enteng dan remeh. Padahal perbuatan seperti itu adalah merupakan suatu kerusakan yang amat fatal dan berbahaya.

Selengkapnya klik: Panduan Amalan Ramdhan

August 29, 2007

Dari Nishfu Sya’ban

Filed under: Kajian

Pada malam tanggal 15 Sya’ban (Nisfu Sya’ban) telah terjadi peristiwa penting dalam sejarah perjuangan umat Islam yang tidak boleh kita lupakan sepanjang masa. Di antaranya adalah perintah memindahkan kiblat salat dari Baitul Muqoddas yang berada di Palestina ke Ka’bah yang berada di Masjidil Haram, Makkah pada tahun ke delapan Hijriyah.

 

Gambar: Masjid al-Aqsha di Palestina 

Sebagaimana kita ketahui, sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah yang menjadi kiblat salat adalah Ka’bah. Kemudian setelah beliau hijrah ke Madinah, beliau memindahkan kiblat salat dari Ka’bah ke Baitul Muqoddas yang digunakan orang Yahudi sesuai dengan izin Allah untuk kiblat salat mereka. Perpindahan tersebut dimaksudkan untuk menjinakkan hati orang-orang Yahudi dan untuk menarik mereka kepada syariat al-Quran dan agama yang baru yaitu agama tauhid.

Tetapi setelah Rasulullah saw menghadap Baitul Muqoddas selama 16-17 bulan, ternyata harapan Rasulullah tidak terpenuhi. Orang-orang Yahudi di Madinah berpaling dari ajakan beliau, bahkan mereka merintangi Islamisasi yang dilakukan Nabi dan mereka telah bersepakat untuk menyakitinya. Mereka menentang Nabi dan tetap berada pada kesesatan.

 


Gambar: Masjid an-Nabawi di Madinah 

Karena itu Rasulullah saw berulang kali berdoa memohon kepada Allah swt agar diperkenankan pindah kiblat salat dari Baitul Muqoddas ke Ka’bah lagi, setelah Rasul mendengar ejekan orang-orang Yahudi yang mengatakan, "Muhammad menyalahi kita dan mengikuti kiblat kita. Apakah yang memalingkan Muhammad dan para pengikutnya dari kiblat (Ka’bah) yang selama ini mereka gunakan?" Ejekan mereka ini dijawab oleh Allah swt dalam surat al Baqarah ayat 143:

 وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِى كُنْتَ عَلَيْهَا إلاَّ لِيَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ.

Dan kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu, melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot…

Dan pada akhirnya Allah memperkenankan Rasulullah saw memindahkan kiblat salat dari Baitul Muqoddas ke Ka’bah sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 144.


 


Gambar: Masjidil Haram di Mekah 

Arah qiblat tidak sekedar menghadapkan wajah ke lokasi ka’bah, namun ada makna tersirat yang kita harus ketahui. Barangkali inilah sebagian hikmah dari perpindahan arah qiblatdari Palestina ke Makkah, dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram.

Hikmah perpindahan arah qiblat antara lain:

1. Karena posisi Ka’bah di Mekkah, dan kota Mekkah di permukaan bumi ini berada di area lintangutara 21d25m, maka ada kemudahan bagi sebgain ummat Islam yang masih melihat cahaya dan bayangan matahari pada saat Istiwaa’ a’dham.

Selengkapnya makna arah qiblat



Gambar: Denah Migrasi arah Qiblat 

July 31, 2007

Geocentris..?

Filed under: Astronomy, Kajian

Tema dan materi ‘kontroersial’ ini sebenarnya sudah lama bila kita rajin membaca dan bekelana di dunia maya. Namun saya masih penasaran, mengapa sang empunya ide dan paham kok sulit diberi masukan yaa…

Terus terang saya nggak habis pikir, itu saja komentar saya.

Selengkapnya beberapa link yang sempat saya save:

1. Benarkah Matahari Mengelilingi Bumi?

2. Matahari Mengelilingi Bumi

3. Matahari Mengelilingi Bumi

4. Matahari Mengedari Bumi

dan masih banyak Link lainnya…..






















| Terima kasih atas kunjungan Anda | thank's to MinZweb |