Pakar : Berawal dari Niat

August 17, 2009

Kapan 1 Ramadhan 1430 H..?

Filed under: Astronomy, Kajian, Islam

Bulan suci Ramadhan 1430 H sebentar lagi. PP Muhammadiyah melalui Maklumat Nomor : 06/MLM/I.0/E/2009 mengumumkan penetapan tanggal 1 Ramadhan 1430 H berterpatan dengan hari Sabtu Pahing, tanggal 22 Agustus 2009. Persis juga telah menetapkan hal serupa. Sementara NU memperkirakan juga pada tanggal masehi yang sama. Sebagai orang awam, kita harus ikut mana, jikalau berbeda…?

Selengkapnya di [Menentukan Awal Ramadhan 1430 H]

December 31, 2008

Menyambut Tahun Baru 2009

Belajar Berkarya
Belajar Berkarya
Akhirnya, setelah genap satu tahun; kini detik2 2009 mulai menyingsing.  Tiga hari lalu Tahun Baru Islam 1430 H hadir dengan munculnya Hilal Pembukan di bulan Muharram tahun 1430 H. Hilal ini terlihat di seluruh penjuru dunia. Sayang, saya gagal menyaksikannya karena cuaca kurang mendukung. Di Indonesia, setahu saya hanya di pantai pasir putih yang melaporkan melihat.

Pesta Tahun Baru

Saya tidak pernah andil dalam menyambut datangnya tahun baru, baik Masehi maupun Hijriyah. Saya anggap kedua-duanya adalah sama. Keduanya sama terminologi Waktu. Berganti tahun adalah berganti waktu. Rasulullah SAW sendiri tidak pernah mengajarkan ummatnya untuk menyambut datangnya tahun baru Hijriyah, karena tahun Hijriyah sendiri muncul setalah beliau wafat. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad terjadi bulan September 622, sementara tahun hijriyah baru ditetapkan kholifah Umar bin Khottob tahun 638 atau 17 tahun kemudian.

Lebih-lebih tahun masehi, sistem kelender yang dimulai tengah malam. Sebab kalau mau memberikan andil untuk menyambut datangnya tahun baru, kita mesti kerahkan lebih ekstra tenaga dan waktu. Habis, enek2 tidur malah begadangan…

Selanjutnya, bagaimana menyikapi datangnya tahun baru..?

Simpel: Belajar dan Berkarya

Mari bertanya kepada diri kita, sudahkah kita belajar selama setahun lalu..? sudahkah kita belajar selama 1429 H yang lalu..? sudahkah kita belajar selama 2008..?

Lantas, apakah kita sudah memiliki planning yang tegas dan jelas untuk tahun 1430 H? apakah kita sudah memiliki planning yang tegas dan jelas untuk tahun 2009 H?

Jawabannya, ada pada diri kita masing-masing

Sebuah Pelajaran

Pelajaran adalah Ilmu. Ilmu adalah hikmah. Hikmah adalah kebaikan secara kuatitas maupun kualitas.

Kalau kita peka, kita akan melihat tahun 2008 dan menjadi pelajaran terbaik untuk kita memasuki 2009. Seperti kita mengambil hikmah terindah dan terbaik dari pelajaran tahun 1429 H, untuk melangkah menuju tahun 1430 H.

Diantara pelajaran terbaik di tahun 1429 H bagi kita ummat Islam khususnya di Indonesia dan umumnya di seluruh penjuru dunia adalah:

Serempak dan bersamanya dalam memulai : 1 Ramadlan 1429 H

Serempak dan bersamanya dalam memulai : 1 Idul Fithri 1429 H

Serempak dan bersamanya dalam memulai : 10 Dzul-Hijjah 1429 H

Meski ada yang berlainan, itu sekedar kelompok kecil yang sangat sedikit serta tidak memberi pangaruh bagi ukhuwah, persatuan dan kesatuan dalam membina hidup berbangsa dan bernegara (bermasyarakat).

Selanjutnya, di tahun 2008, kita juga menemukan satu pelajar unik yang bisa kita jadikan pelajar terbaik bagi kita dalam berkarya di tahun 2009. Pelajaran itu antar lain adalah:

Di tahun 2008: Ada 3 tahun Hijriyah

Artinya, dalam satu tahun masehi 2008 terdapat tahun hijriyah tiga kali yakni tahun 1428, 1429, dan 1430. Dengan tanggal 1 Muharram sebanyak dua kali.

Tahun 2008 dimulai dengan tahun 1428 hari tersisa sebanyak 9 hari. Tanggal 1-9 Januari 2008 masih sesuai dengan tanggal dan hari di tanggal 22-30 Dzul-Hijjah tahun 1428 H. Lihat gambar di bawah:

kalender_assalaam_2829.jpg

 

Kalender bulan Januari tahun 2008. (1428-1429 H)

Selanjutnya, tanggal 1 Muharram 1429 H ini akan berlangsung dari tanggal 10 Januari 2008 - 28 Desember 2008. Tanggal 28 Desember 2008 bertepatan dengan tanggal 30 Dzul-Hijjah 1429 H.

Berikutnya, tanggal 29 Desember 2008 = tanggal 1 Muharram 1430 H. Tahun 1430 H masih di tahun 2008 dengan hari tersisa sebanyak 3 hari yakni tanggal 29, 30 dan 31 Desember 2008.

Perhatikan bulan Desember 2008 berikut:

kalender_assalaam_282930.jpg

 

Kalender bulan Desember 2008 M (1429-1430 H).

Jadi:

2008 = 1428 H, 1429 H, dan 1430 H

Hikmah dari fenomena ini adalah antara lain:

Pertama, kita haru sbanyak belajar tentang waktu. Dari sana kita sadar bahwa waktu itu ternyata terus berjalan maju dan tidak sedetik pun berhenti apalagi mundur. Siapa berhenti, maka dia akan digilas oleh waktu. Pepatah barat mengatakan, "Time is Money" = waktu itu laksana uang.

Pepatah Arab mengatakan,"al-Waqtu kas-Saifi in Lam Taqtho’hu Qhotho’aka" = waktu laksana pedang, jika tidak kau libas, maka dia akan melibasmu. Waduh…lebih ganas dan lebih sangar dari barat. Siapa meremehkan waktu, maka bersiaplah untuk dilibas oleh pedang…

kedua, kita tahu bahwa kalender masehi adalah sistem kalender yang disusun berdasar peredaran matahari, sementara kalender hijriyah disusun berdasar peredaran rembulan. Selisih antara kedua sistem kalender berkisar antara 10-11 hari lebih dulu kalender hijriyah. Hal ini bisa terjadi karena jumlah hari dalam kalender masehi 365-366 sementara dalam kalender hijrtiyah 354-355.

ketiga, biarkan dua sistem kalender ini mengalir, sebab menghilangkan salah satunya bisa jadi lebih besar madlorotnya ketimbang melakukan kompromi terhadap kedua. Keduanya memilki nilai lebih tersendiri. Keduanya adalah hasil karya manusia, dan keduanya adalah berdasar ciptaan Allah SWT sang Maha Mengetahui. Matahari dan Bumi adalah dua benda ciptaan Allah SWT. Mengapa musti kita pilah-pilah…

Anggaran Gregorius

Belajar dari sistem kalender, kita bisa melihat ke masa lalu dan membaca serta merenungi sebuah peristiwa akibat dari sebuah keputusan seorang manusia. Dialah Paus Gregorius XIII. Dia telah melakukan pemotongan jumlah hari dari yang seharusnya. Dia melakukan anggaran sebanyak 10 hari.

Penyesuaian anggaran Gregorius sebanyak 10 hari sejak 15 Oktober 1582 Masehi dilakukan oleh Paus Gregorius XIII atas saran Klafius (ahli perbintangan).

Pada tanggal 4 Oktober 1582 Paus Gregorius XIII memerintahkan agar keesokan harinya tidak dibaca 5 Oktober 1582 M, melainkan harus dibaca 15 Oktober 1582 M dan ditetapkan bahwa peredaran matahari dalam satu tahun 365.2425 hari, sehingga ada ketentuan baru, yaitu angka tahun yang tidak habis dibagi 400 atau angka abad yang tidak habis dibagi 4 adalah tahun Basithah (365 hari). Serta menetapkan bahwa tahun kelahiran Isa al-Masih dijadikan sebagai tahun pertama.

Penetapan-penetapan oleh Paus Gregorius XIII tersebut disebabkan karena pada tahun 1582 M saat penentuan wafat Isa al-Masih yang diyakini oleh orang-orang bahwa peristiwa tersebut jatuh pada hari Minggu setelah bulan purnama yang selalu terjadi segera setelah matahari di titik Aries (21 Maret), akan tetapi pada waktu itu mereka memperingatinya tidak pada hari Minggu setelah bulan purnama setelah matahari di titik Aries, namun sudah beberapa hari berlalu. Sehingga Paus Gregorius XIII melakukan koreksi terhadap sistem penanggalan yang ada saat itu, yakni sistem penanggalam Yustinian.

Sebelum sistem penanggalan Yustinian ini, ada beberapa sistem penanggalan yang lahir sebelumnya, diantaranya sistem penanggalan Numa. Penanggalan Numa diciptakan oleh Numa Pompilus pada tahun berdirinya kerajaan Roma pada tahun 753 SM, dengan ketetapan panjang satu tahun berumur 366 hari, bulan pertama Maret karena posisi matahari di titik Aries terjadi pada bulan Maret.

Kemudian pada tahun 46 SM, menurut penanggalan Numa sudah bulan Juni, akan tetapi posisi matahari sebenarnya baru pada bulan Maret, sehingga oleh Yulius Caesar atas saran Sosigenes (ahli astronomi Iskandaria) penanggalan tersebut diubah dan disesuaikan dengan posisi matahari sebenarnya yakni dengan memotong penanggalan yang sedang berjalan sebanyak 90 hari dan menetapkan pedoman baru bahwa satu tahun ada 365.25 hari.

Bilangan tahun yang tidak habis dibagi empat berumur 365 hari dan bilangan tahun yang habis dibagi empat berumur 366 hari, dengan menambahkan selisih satu hari pada bulan Februari (sebagai bulan terakhir). Penanggalan ini dikenal dengan Kalender Yulius atau Kalender Yulian.

Kemudian pada perkembangannya ditetapkan bahwa bulan Januari sebagai bulan pertama dan bulan Desember sebagai bulan terakhir. Sistem ini dikenal dengan sistem Yustinian.Meskipun sudah diadakan koreksi dan perubahan, namun Kalender Yulian masih lebih panjang 11 menit 14 detik dari titik musim yang sebenarnya, sehingga kalender tersebut harus mundur 3 hari setiap 400 tahun.

Akibatnya pada saat Paus Gregorius melakukan koreksi pada tanggal 15 Oktober 1582, ditetapkan pula penambahan 1 hari pada setiap bilangan abad yang tidak habis dibagi 4 sejak tanggal tersebut, sehingga sejak tahun 1900 sampai dengan 2099 ada penambahan koreksi 13 hari (10 + 3 hari).

Khulashoh:

  • Mari kita belajar dari 1429 H untuk melakukan karya terbaik di tahun 1430 H
  • Mari kita belajar dari 2008 H untuk melakukan karya terbaik di tahun 2009 H

Wa Allahu a’lamu…

December 28, 2008

1 Muharram 1430 H, welcome…

Filed under: Astronomy, Kajian, Islam
Ahlan 1430 H
Ahlan 1430 H

Hari ini, Ahad 28 Desember 2008 bertepatan dengan tanggal 30 Dzul-Hijjah 1429 H. Sore ini Hilal bisa dipastikan terlihat di seluruh penjuru Indonesia dan negara-negara di bawah garis lintang 60 derajat. Sehingga bisa dipastikan pula bahwa besok adalah masuk tanggal 1 bulan Muharram 1430 H. Besok adalah tanggal 1 bulan 1 tahun 1430 H. Besok adalah tahun baru Hijriyah 1430. Semoga memberikan kemudahan dan kebahagiaan bagi segenap ummat Islam. Amien

Tahun dalam sistem kalender Hijriyah diawali dengan bulan Muharram atau boso jowonya Suro. Kenapa SURO, karena di dalam bulan Muharram terdapat satu tanggal yakni 10 Muharram yang disunnahkan untuk berpuasa ASURO=ASYUROO. Sehingga suro diambil dari kata Asyuro (=10).

1. Ta’rif Muharram

Memasuki tahun baru Islam 1 Muharrom 1430 H, dari sinilah pergiliran waktu dimulai setiap tahunnya sebagai kebanggaan milik ummat Islam. Sementara ini kita mungkin lebih mengenal tahun masehi atau bulan-bulan miladiyah di dalamnya (Januari - Desember ) dari pada tahun hijriyah atau bulan-bulan qomariyah di dalamnya (Muharrom-Dzulhijjah). Seyogyanya setiap orang bangga dengan miliknya sendiri, bukan dengan milik orang lain. Penanggalan hijriyah ini merupakan satu di antara sekian banyak khazanah ummat Islam yang ditinggalkan pemeluknya sendiri.

Tanya: "Sekarang tanggal berapa..?" (dalam hati saya bermaksud Hijriyah)

Jawab: "28" (maksudnya 28 Des 2008)

—> Sangat langka menjawab "30" (maksudnya 30 Dzul-Hijjah 1429)

Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah 12 bulan dalam ketetapan (Kitab) Allah, sejak hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya terdapat empat bulan haram…” (Q.S. At Taubah : 36)

Dua belas bulan tersebut adalah:

  1. Muharrom
  2. Shafar
  3. Robi’ul Awwal
  4. Robi’ul Akhir
  5. Jumadal ‘Ula
  6. Jumadal Akhiroh
  7. Rajab
  8. Sya’ban
  9. Romadlon
  10. Syawwal
  11. Dzul-Qa’dah
  12. Dzul-Hijjah

MUHARAM adalah bulan pertama dalam Sistem Kalendar Islam (Hijriah). Secara bahasa, Muharam berarti ‘diharamkan’ atau ‘dilarang’, yaitu Allah SWT melarang melakukan peperangan atau pertumpahan darah di empat bulan haram.

Di dalam kitab tafsir Ath-Thabari disebutkan bahwa bulan haram yang dimaksud di dalam ayat itu adalah Dzul-Qa'’dah, Dzul-Hijjah, Muharram dan Rajab.

Keempat bulan itu sangat diagungkan oleh bangsa Arab, jauh sebelum datangnya nabi Muhammad SAW. Bahkan mereka mengharamkan diri mereka sendiri untuk berperang di bulan-bulan itu, sebagai bentuk penghormatan mereka.

Bukan hanya haram berperang, bahkan bila seseorang bertemu dengan pembunuh ayahnya di bulan itu, dia tidak akan memusuhinya atau membalasnya. Saking mulianya keempat bulan itu tentunya.

Keyakinan seperti ini sebenarnya sudah ada jauh sebelum Al-Quran diturunkan, namun kemudian dikuatkan dalam masa risalah sebagai bagian dari syariat Islam juga. Namun larangan ini berakhir setalah Fathu Makkah.

2. Sejarah Kalender Hijriyah

Penentuan kapan dimulainya tahun 1 Hijriah dilakukan 6 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad. Namun demikian, sistem yang mendasari Kalender Hijriah telah ada sejak zaman pra-Islam, dan sistem ini direvisi pada tahun ke-9 periode Madinah.

Sebelum datangnya Islam, di tanah Arab juga telah dikenal sistem kalender berbasis campuran antara Bulan (komariyah) maupun Matahari (syamsiyah). Peredaran bulan digunakan, dan untuk mensinkronkan dengan musim dilakukan penambahan jumlah hari (interkalasi).

Pada waktu itu, belum dikenal penomoran tahun. Sebuah tahun dikenal dengan nama peristiwa yang cukup penting di tahun tersebut. Misalnya, tahun dimana Muhammad lahir, dikenal dengan sebutan "Tahun Gajah", karena pada waktu itu, terjadi penyerbuan Ka’bah di Mekkah oleh pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yaman (salah satu provinsi Kerajaan Aksum, kini termasuk wilayah Ethiopia).

Pada era kenabian Muhammad SAW, sistem penanggalan pra-Islam digunakan. Pada tahun ke-9 setelah Hijrah, turun ayat 36-37 Surat At-Taubah, yang melarang menambahkan hari (interkalasi) pada sistem penanggalan.

3. Penentuan Tahun 1 Kalender Islam

Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, diusulkan kapan dimulainya Tahun 1 Kalender Islam. Ada yang mengusulkan adalah tahun kelahiran Muhammad SAW sebagai awal patokan penanggalan Islam. Ada yang mengusulkan pula awal patokan penanggalan Islam adalah tahun wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Akhirnya, pada tahun 638 M (17 H), khalifah Umar bin Khatab menetapkan awal patokan penanggalan Islam adalah tahun dimana hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Penentuan awal patokan ini dilakukan setelah menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan (interkalasi) dalam periode 9 tahun. Tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622, dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad terjadi bulan September 622. Dokumen tertua yang menggunakan sistem Kalender Hijriah adalah papirus di Mesir pada tahun 22 H, PERF 558.

4. Mukjizat 1-1-1 H

Berbicara tanggal 1 bulan 1 tahun 1 hijriyah, tidak mungkin lepas dari salah satu peristiwa paling bersejarah dalam Islam, yakni Hijrah Rasulullah SAW dari Mekah menuju ke Yatsrib (Madinah). Berkaitan dengan hijrah ini Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. (Muttafaq ‘alaih)

Rasulullah SAW dan para sahabat diperintahkan Allah SWT untuk berhijrah. Motivasi utama mereka adalah guna meraih ridlo Ilahi. Menjelang hijrah, kondisi kaum muslim berada pada posisi yang sangat lemah dan teraniaya. Namun, keyakinan mereka akan datangnya kemenangan dan pertolongan Allah tidak pernah sirna. Hal ini disebabkan oleh tebalnya iman mereka kepada Allah SWT. Hal ini karena pokok pertama yang diajarkan Rasulullah SAW jauh sebelum hijrah adalah prinsip keimanan. Bukan saja karena iman kepada Allah merupakan ajaran, tetapi juga karena iman membentengi manusia serta mengantarkan kepada optimisme.

Muhammad Rasyid Ridlo dalam Tafsir Al-Manar menulis, " Iman membangkitkan sinar dalam akal, sehingga merupakan petunjuk jalan ketika berjumpa dengan kegelapan dan keraguan. Dengan iman, seseorang akan muda mengatasi batu penghalang yang dapat menjatuhkan ke jurang kebinasaan. Iman menumbuhkan dalam diri manusia suatu pusat penelitian atas tiap detak-detak hati yang terlintas dan setiap pandangan yang terbentang.

Dengan iman seseorang dapat melihat tembus sesuatu yang tersirat dalam kulit yang tersurat. Hijrah Rasulullah SAW telah berlalu 15 abad silam, namun dari hijrah dan celah-celah peristiwanya, banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik.

Berikut beberapa di antaranya:

1. Pengorbanan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa untuk mencapai suatu usaha besar dibutuhkan pengorbanan maksimal dari setiap orang. Rasul sendiri berhijrah dengan segala daya yang dimilikinya, tenaganya, pikiran dan materi, bahkan jiwa dan raga beliau. Ketika akan berhijrah Rasulullah pernah mengajak Abu Bakar, dan kala itu Abu Bakar membeli dua onta satu buat Rasul. Tetapi Rasul tidak mau menerima, dan maunya membeli. Ini wujud pengorbanan yang dicontohkan Rasulullah SAW.

2. Makna hidup. Rasulullah SAW berangkat hijrah seraya memesan kepada Ali bin Abi Thalib untuk menggantikan beliau tidur di tempat tidur Rasul. Menggantikan Rasul yang sedang hijrah, berarti menggantikan siap mati. Bersedia menggantikan tidur Rasul adalah siap mepertaruhkan jiwa dan raga demi membela agama Allah.

3. Tawakkal dan Usaha. Ketika Rasul dikejar dan akhirnya sembunyi di gua Tsur, Abu Bakar sangat khawatir dan gentar. Namun Rasulullah SAW menenangkan dengan mengatakan, "Jangan kuatir dan jangan sedih, sesungguhnya Allah beserta kita".

4. Mukjizat 1 Muharram 1 Hijriyah (1-1-1).

Peristiwa Hijrah ini akhirnya ditetapkan Umar bin Khattab (581 - November 644) sebagai awal atau hari pertama dalam kalender Islam yang akhirnya disebut sebagai Kalender Hijriyah.Umar bin Khattab (bahasa Arab: عمر بن الخطاب) adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad yang juga menjadi khalifah kedua (634-644) dari empat Khalifah Ar-Rasyidin.

Ia juga memulai proses kodifikasi hukum Islam. Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun ke-empat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijrah.

Mukjizat 1-1-1 H secara visual selengkapnya di Mukjizat 1-1-1-:

Semoga tahun 1429 H membawa barokah, dan tahun 1430 memberikan maslahah…amien 19x

Ahlan 1430 H…

Ma’assalaamah 1429 H…

December 5, 2008

Kiamat 2012 adalah issu…

Kapan Kiamat..?
Kapan Kiamat..?

Kapan Kiamat..? Hanya Allah SWT Yang Maha Tahu. Kita hanya tahu lewat tanda-tanda akan datangnya hari Kiamat itu. Pada manuskrip peninggalan suku Maya yang tinggal di selatan Meksiko atau Guatemala yang dikenal menguasai ilmu Falak, disebutkan bahwa kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012. Disebutkan juga pada waktu itu akan muncul gelombang galaksi yang besar-besaran sehingga mengakibatkan terhentinya semua kegiatan di muka Bumi ini.

Kiamat hanya ilmu Allah SWT

Ramalan akan adanya kiamat pada 2012 dari suku Maya sebenarnya belum diketahui dasar perhitungannya. Tetapi issu ini sudahmenyebar luas lewat media Internet. Sebagai Muslim, saya hanya yakin bahwa Kiamat ada dan PASTI akan datang. Dan waktunya, kita tidak ada yang tahu, apalagi sampai menyebut tanggal..

Tentang waktu, kapan kiamat terjadi, ummat Islam hanya diberi sign, berupa tanda2 datangnya kiamat. Bila tanda-tanda sudah ada, maka hari yang dimaksud memang sudah dekat. Tetapi tepatnya kapan, kembali ke konsep dasar, Ummat Islam tidak ada yang boleh menyebut waktu, baik hari, tanggal, bulan maupun tahun. Sebab…

 

 More Kiamat 2012 itu ternyata…

 

September 27, 2008

Prediksi Awal Syawwal 1429 H

Filed under: Astronomy, Kajian
Hilal 1 Syawwal
Hilal 1 Syawwal

Kita patut bersyukur karena bisa menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan 1429 H, secara serempak. Ada sih yg beda, tetapi ini nyleneh saja. Nah, kapan kita bisa merayakan kemenangan atau sholat ‘Iedul Fitri..? Yang pasti adalah tgl 1 Syawwal 1429 H. Kapan 1 Syawwal 1429 H..? Hari apa..? Tanggal berapa Masehi…?

1. Menurut Tarekat Naqsabandiyah:

1 Syawwal 1429 H = 29 September 2008

Pimpinan kelompok Naqsabandiyah di kota Padang, dalam penentuan kalender hijriyah, menggunakan pedoman sendiri untuk menetapkan awal Ramadhan dan 1 Syawal. “Kami mengikuti yang diajarkan guru-guru dahulu yang sudah mempunyai perhitungan,” kata Safri kepada tim bimasislam yang didampingi aparat Kanwil Depag Provinsi, Kandepag Kota Padang, dan KUA Kec. Pauh.

mBah Safri dan Jama'ahnya
mBah Safri dan Jama’ahnya

Menurut Safri, penetapan awal Ramadhan yang dia putuskan berdasarkan perhitungan dari sebuah almanak yang disalin dari kitab milik guru tarekat Naqshabandi Syekh H. Abdul Munir. “Almanak itu telah saya salin,” katanya seraya menunjukkan salinan almanak yang ditulis tangan pada dibalik kertas karton  kalender masehi. Taqlid utuh kepada  guru-guru mereka dalam hal berpuasa, danggapnya sudah sesuai dengan ajaran Al-Qur’an. "……………… kama kutiba alllazina min qoblikum.….", kata terakhir itu diterjemahkan sebagai guru mereka.

Salinan itu ditulis dengan huruf arab melayu (pegon) sebagai almanak untuk mencari awal bulan Arab termasuk bulan Ramadhan. Disebutkan bahwa almanak ini disebutnya sebagai bilangan taqwim. Beberapa huruf pada nama hari digabungkan sedemikan rupa sehingga membentuk bulan, begitu pula nama huruf pada bulan maka himpunannya menadi tahun. Begitulah seterusnya penghisaban bilangan angka itu sampai hari kiamat.

“Jadi menurut almanak ini, jika awal puasa tahun lalu hari Selasa, maka pada tahun ini hari Sabtu, dan pada tahun depan hari Kamis,” ujarnya. Adapun hari raya Idul Fitri 1429 H, menurut Safri, akan jatuh pada hari : Senin, 29 September 2008. “Kami puasa selama 30 hari,” ujarnya lagi.

reff: BimasIslam Depag

2. Kriteria Hisab / Perhitungan

Menurut Muhammadiyah dan kalangan yang menganut kriteri Hisab atau Model Menghitung (Astronomi), maka:

1 Syawwal 1429 H = 1 Oktober 2008

Kalangan Ahli Hisab telah menyepakati, bahwa posisi Bulan Muda penentu Awal Bulan Syawwal 1429 H, pada Senin tanggal 29 Ramadhan 1429 H adalah Negatif atau Hilal masih di bawah Ufuk Barat di seluruh wilayah Indonesia. Dengan kondisi seperti ini, maka TIDAK MUNGKIN Selasa, 30 September 2008 masuk bulan Syawwal.

Visibilitas Hilal pada 29 Ramadhan 1429 H
Visibilitas Hilal pada 29 Ramadhan 1429 H

Pada Selasa, 30 September 2008, posisi Hilal di seluruh wilayah Indonesia sudah di atas ufuk barat alias Hilal positif. Maka hari Rabu, 1 Oktober 2008 adalah masuk 1 Syawwal 1429 H.

3. Kriteria Rukyah Hilal / Melihat Hilal

Menurut Pemerintah, NU, dan kalangan yang menganut kriteri Rukyah Hilal atau Model Melihat Blan Muda, maka:

1 Syawwal 1429 H = 1 Oktober 2008

Kalangan Ahli Rukyah hilal telah menyepakati, bahwa posisi Bulan Muda penentu Awal Bulan Syawwal 1429 H, pada Senin tanggal 29 Ramadhan 1429 H adalah Negatif atau Hilal masih di bawah Ufuk Barat di seluruh wilayah Indonesia. Dengan kondisi seperti ini, maka HARUS ISTIKMAL alias jumlah hari di Bulan Ramadhan 1429 H diGENAPkan menjadi 30 hari. Jadi Selasa, 30 September 2008 masih bulan Ramadhan 1429 H.

Visibilitas Hilal pada 29 Ramadhan 1429 H

Visibiltas Hilal pada 29 Ramadhan 1429 H

Pada Selasa, 30 September 2008, posisi Hilal di seluruh wilayah Indonesia sudah di atas ufuk barat alias Hilal positif. Maka hari Rabu, 1 Oktober 2008 adalah masuk 1 Syawwal 1429 H.

Visibiltas Hilal pada 30 Ramadhan 1429 H
Visibiltas Hilal pada 30 Ramadhan 1429 H

4. Kriteria Mengikuti Arab Saudi

Kriteria ini pada dasarnya sama dengan no 3 di atas. Akan tetapi, bila Pemerintah Arab Saudi pada Senin, 29 September 2008 menyatakan hilal di Arab Saudi terlihat, maka:

1 Syawwal 1429 H = 30 September 2008

Tetapi, bila Pemerintah Arab Saudi juga konsisten dengan realita alias tidak melakukan KLAIM Rukyah Hilal = mengaku2 melihat meski secara teori mustahil, maka:

1 Syawwal 1429 H = 1 Oktober 2008

~~~~~

Secara pribadi, saya optimis Ummat Islam Indonesia akan kompak (kecuali yg nyleneh tadi) dalam memasuki 1 Syawwal 1429 H nanti. Saya hanya bisa berdo’a….dan ngaturaken Sugeng Riyadin…

August 30, 2008

Kapan Awal Ramadhan 1429 H..?

Prediksi Awal Ramadhan
Prediksi Awal Ramadhan

Bulan suci Ramadhan, merupakan bulan rohmah, bulan maghfiroh, bulan ampunan, bula al-qur’an, bulan lailatul qodr dan masih banyak lagi sebutan untuk tamu agung yang segera akan hadir di tengah-tengah kita semua. Sebagai ummat Islam, bergembira mendengar dan menyaksikan kehadiran bulan istimewa ini, sudah diganjar dengan pahala, konon lagi mampu dan mau memanfaatkannya dengan semaksimal mungkin.

Sebelum tamu kita itu hadir, perlu kita sadarai dan memang sudahsam akita maklumi, khususnya kita ummat Islam di Indonesia; bahwa sudah menjadi ‘tradisi’ ummat Islam Indonesia untuk berbeda dalam menyambut hadirnya bulan suci ramadhan.

Ramadhan tahunlalu 1428 H atau 2007, alhamdulillah kita mayoritas kalau tidak semuanya bisa serempak, meski Idul Fitrinya berbeda. Mengapa berbeda…?

Perbedaan itu adalah rohmat, apakah iya…? –> bukannya malah akan menimbulkan perpecahan yang justru jauh dari rohmat/kasih sayang..!

Perbedaan memang banyak ragamnya…

Tetapi Perbedaan Ramadhan dan sejenisnya ini terjadi, karena adanya beragam kriteria dalam menentukan awal bulan dalam kalender Hijriyah. Tetapi yang menjadi pangkalnya, adalah kurangmaunya para Pemimpin Ummat ini untuk BERLAPANG DADA dan saling menerima kelebihan apalagi kekurangan dari pihak lain.

Ada satu contoh indah di negara yang nuuuun jauh dari Indonesia, di negara yang ummat Islam masih sangat minoritas, di negara Jerman. Laporan ikhwan Habib dari sana begini:

Assalamu’alaikum

Masalah perbedaan penentuan awal bulan hijriyah ternyata juga terjadi di Jerman. Tiap organisisai masyarakat muslim di sini, atau bahkan tiap masjid, mempunyai keputusan sendiri tentang hal ini. Ada yang mengikuti negara asal masing2, ada yang mengikuti Mekah, dan lain-lain. Tetapi tahun lalu (paling tidak menurut pengetahuan saya) ada sebuah organisasi yang menjadi semacam dewan syuro organisasi islam di Jerman ini mulai berusaha mencari solusi pemecahan masalah ini. Dan mereka menyepakati kriteria (wujudul hilal) di kota Mekah seperti yang dipakai Ummul Qura. Kriteria ini juga dipakai oleh Dewan Fiqih Amerika Utara.

Kemarin, ternyata ada pengumuman (lihat http://islam.de/10694.php): sekarang telah dicapai kesepakatan untuk pertama kalinya bahwa kaum muslimin di Jerman bersatu dalam mengawali dan mengakhiri Ramadhan. Para wakil organisasi islam di bawah payung Dewan Koordinasi Muslimin Jerman sepakat untuk mengesampingkan perbedaan perhitungan maupun kriteria, dan mengutamakan kesatuan ummat. Untuk itu mereka memutuskan untuk memakai Pijakan Dasar yang telah dibangun oleh Organisasi Konferensi Islam pada 1978 dalam menentukan awal bulan hijriyah. Kriterianya adalah:
- bulan baru dimulai setelah konjungsi (ijtimak) dan berdasarkan perhitungan kemungkinan dilihatnya bulan di mana saja di dunia.

Jadi diputuskan 1 Ramadhan jatuh pada 1 September (wilayah Afrika dan Amerika Selatan kemungkinan besar bisa melihat bulan pada 31 Agustus) dan 1 Syawal jatuh pada 30 September (wilayah Polinesia di samudera Pasifik kemungkinan bisa melihat bulan pada 29 Sep).

Semoga info ini bermanfaat.

Habib

Versi Jerman ada di link Islam dot de ini.

Ramadhan 1429 H Serempak
Ramadhan 1429 H Serempak

Sangat indah…dan iri rasanya kita Ummat Islam terbesar di dunia ini… Andai kita bisa begitu..?

Kembali ke Indonesia. Ummat Islam Indonesia akan ikut kriteria mana…?

Kira-kira, prediksi permulaan atau dimulainya, atau jatuhnya tanggal 1 bulan Ramadhan tahun 1429 H, berdasarkan berbagai kriteria; sebagai berikut:

1. Ahad, 31 Agustus 2008.

Kalender Ummul Qura’ (Pemerintah Arab Saudi): rukyah bil fi’li di Saudi untuk keperluan ibadah semisal Ramadhan ini pada 30 Agustus 2008. Bila ada KLAIM RUKYAH, maka Arab Saudi akan menetapkan 1 Ramadhan 1429 H = 31 Agustus 2008.

Tetapi, kalau ada laporan saksi bahkan siap di -syahadat-, maka secara logika sangat mustahil. Sebab Hilal saat itu masih di bawah ufuk barat. Secara hisab, Konjungsi/Ijtimak/bertemunya akhir bulan Sya’ban dan awal bulan Ramadhan 1429 H, di Saudi adalah hari Sabtu 30/08/2008 jam 23:08 waktu setempat. Matahari terbenam jam 18:41 LT, dan bulan terbenam jam 18:25 LT, Usia bulan -4 jam 27 menit. Jadi bulan masih NEGATIF alias di bawah ufuk, karena lebih dulu tenggelamnya dibanding matahari. Kalau pusing, silahkanl ihat visual versi SNPP oleh RHI ini:

Hilal di Saudi pada hari terjadinya Ijtimak/konjungsi
Hilal di Arab Saudi pada hari terjadinya Ijtimak/konjungsi

Lain halnya kalau hari kedua pasca Ijtimak/konjungsi, yakni bila Rukyah dilakukan pada Ahad, 31 Agustus 2008; maka peluang itu ada. Meski tidak terlihat, bagi Pemerintah Arab Saudi sudahIstikmal/penggenapan.

2. Senin, 1 September 2008.

Kriteria Wujudul Hilal (Muhammadiyah): karena posisi Bulan pada akhir Sya’ban 1429 H positif di seluruh wilayah Indonesia.

Wujudul Hilal, di atas UfukWujudul Hilal, di atas Ufuk

Kriteria Imkanur Rukyah (Pemerintah): karena posisi Bulan pada akhir Sya’ban 1429 H di atas 2 derajat pasca Ijtimak.

Posis Hilal 1 Ramadhan dari Yogyakarta
Posis Hilal 1 Ramadhan dari Yogyakarta

Rukyatul Hilal (Nahdlotul Ulama): kalau syarat terpenuhi, yakni rukyah berhasil atau ada laporan bahwa hilal terlihat.

Ijtimak Qoblal Ghurub: karena ijtimak memang terjadi pada Ahad, 31 Agustus 2008 @ 03:00 WIB / 04:00 WITA / 05:00 WIT atau Sabtu, 30 Agustus @ 20:00 UT

Kalender Islam Global: karena sangat berpeluang melihat Hilal di hari pertama ijtimak, meski harus pakai alat canggih.

Kalender Ummul Qura’ (Kerajaan Arab Saudi): karena hari rukyah 30 Agustus 2008, dan akan istikmal.

3. Selasa, 2 September 2008.

Rukyatul Hilal (Nahdlotul Ulama): karena rukyah di hari pertama sangat sulit, atau gagal; maka akan istikmal, dan 31 Agustus 2008 + 1 hari = 1 September, lalu Istikmal (digenapkan menjadi) –> 2 September 2008.

~~~~~

Mau ikut yang mana…?

Semuanya benar. Karena semuanya berdasar. Tetapi sekali lagi, kita ummat Islam, hanya masyarakat yang pada dasarnya ikut apa kata para Pemimpin. Kalau para Pemimpin Ummat, telah menentukan satu ketetapan, bahwa Ramadhan 1429 H dimulai pada Senin, tanggal 1 September 2008:

Saya yakin, mayoritas ummat ini akanmengikutinya. Kalau ada yang ngeyel, entah karena yakin dengan pendapatnya, paling hanya segelintir orang saja.

Yang pasti kebersamaan sangat kita nantikan…

Demi ketenangan dan kenyamanan serta kekhusyu’an dalam menjalankan amalan ibadah di bulan yang penuh barokah ini. Dab tamu agung nan suci yang penuh dengan sebutan ini akan kita sambut dan layanai dengan penuh rasa kesyukuran….Semoga-

Mau di HISAB,

Mau di RUKYAH,

Mau di GLOBAL,

Ramadhan sang Tamu Agung tetap akan hadir menjumpai kita semua…

Bersiaplah wahai Saudara2ku…

Wa Allahu A’lamu…

April 5, 2008

Definisi ‘Hari’ dalam Islam

Filed under: Astronomy, Kajian

Selama ini kita terbiasa dengan hal-hal rutin. Maka kita menjadi asing dan sering tidak mau mengikuti kepada sesuatu yang baru…

Dulu, para nabi juga sering menemukan karakter ummat yang semisal ini, ketika diajak untuk menyembah Allah dan meninggalkan sesembahan yang selama ini mereka lakukan (berhala dan sejenisnya-selain Allah SWT) kebanyakan mereka mengatakan,

‘Kami melakukan apa yang selama ini telah dilakukan olek nenek moyang kami…’.

Dimana letak persamaannya, mari kita lihat kali ini dalam konteks definisi ‘hari’ (penyebutan waktu-hari).

Kita sering mangatakan, istilah malam Sabtu sebagai ungkapan untuk waktu antara maghrib-shubuh pada hari Jum’at.

Kita juga sering dan biasa sekali ..manyatakan malam Ahad atau malam Minggu sebagai ungkapan rentang waktu pada hari Sabtu jam 6 petang hingga menjelang pagi.

Seiring dengan ini adalah ungkapan malam Tahun Baru, dan seterusnya…

Definisi di atas sangat tidak konsisten dengan Islam sebagai Dien yang diturunkan oleh Sang Pencipta waktu itu sendiri. Sejak kholifah Umar bin Khottob menetapkan bahwa sistem waktu pada penanggalan Islam menggunakan sistem lunar atau bulan yang biasa kita sebut sebagai Kalender Hijriyah, maka konsep di atas harus juga mengikuti.

Bagi yang sudah terbiasa sangat sulit melakukannya, dan ini perjuangan berat. Boleh dikata ini sepertinya sangat sulit jikalau tidak boleh dikatakan mustahil…

Ambil saja misal, kita bejanji kepada rekan untuk bertemu pada hari Kamis jam 8 malam. Maka yang kita katakan adalah ,’Kita akan bertemu pada malam Jum’at jam 8′.

Kita tidak akan mengatakan,’Kita akan bertemu pada Jum’at malam jam 8′. Kalau ini yang kita katakan, maka bisa dipastikan pertemuan ini akan gagal. Karena kita tiba Kamis jam 8 malam, namun dia tiba Jum’at jam 8 malam.

Mengapa ini bisa terjadi…?

Pertanyaan ini serupa dengan apa yang terjadi pada ‘paradoks kembar’nya teori Relativitas Einstein. Mana mungkin usia dua orang bisa berbeda sedemikian jauh hanya karena sekedar perbedaan kecepatan geraknya…?

Penjelasannya sebagai berikut: 

1. Hari, dalam Islam dimulai pada saat matahari terbenam. Artinya penghitungan waktu juga dimulai saat matahari terbenam atau saat adzan maghrib berkumandang, di manapun posisi di muka bumi ini (kecuali pada ekstrim area). Penghitungan waktu akan berakhir pada saat matahari terbenam di hari berikutnya, inilah satu hari.

2. Hari Ahad, dimulai saat matahari terbenam pada hari Sabtunya. Hari Senin dimulai pada saat matahari terbenam hari Ahadnya, begitu seterusnya.

3. Kalau hari Ahad sudah masuk alias matahari terbenam pada Sabtu petang, maka hari itu adalah hari Ahad petang, lalu Ahad malam, lalu Ahad pagi, lalu Ahad siang, lalu Ahad sore, dan Ahad petang. Setalh itu baru masuk hari berikutnya, Senin.

4. Maka, definisi hari menurut Islam adalah:

- Ahad malam bagi penyebutan malam Ahad,

- Ahad malam dan bukan malam Ahad,

- Sabtu malam bagi penyebutan malam Sabtu, 

- Sabtu malam dan bukan malam Sabtu,

 

dan seterusnya… 

Wallahu a’lamu… 

February 6, 2008

Tahun Hijriah: ”Monumen” Ambruknya Tirani

Pada suatu hari, sahabat Abu Musa al-Asy’ari menulis surat kepada khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengeluh bahwa surat khalifah yang dikirim kepadanya tidak bisa dibeda­kan mana yang awal dan yang terakhir, karena tidak ada tanggalnya. Untuk menindak­lanjuti keluhan ini, khalifah mengumpulkan para sahabat untuk membahas perihal di atas. Mereka kemudian sepa­kat untuk membuat kalender Islam.

Semula banyak pendapat mengenai standar permulaan tahun Islam. Ada yang berpendapat tahun pertama dihitung dari kelahiran nabi saw. Ada yang mengusulkan dimulai dari tahun diutusnya nabi, dan masih banyak usulan lainnya. Namun akhirnya, mereka sepakat untuk men­jadikan peristiwa hijrah sebagai patokan permulaan kalender kaum muslimin. “Ta’rikh (Kalender) itu dimulai sejak Nabi meninggalkan tempat musyrik menuju tempat yang penuh dengan keimanan,” usul s. Ali ra. Usulan ini akhirnya disepakati oleh para sahabat yang hadir pada waktu itu.

Karenanya, sistem kalender yang kemudian menjadi kalender terbesar kedua di dunia setelah kalender masehi ini, ditetapkan oleh khalifah Umar sebagai kalender resmi Islam, pada Rabu 20 Jumadal Akhi­rah 17 tahun setelah hijrahnya Rasul.

Hijrah tidak hanya imigrasi dari Mekah ke Madinah, tetapi hijrah adalah sebuah upaya membangun peradaban baru. Peradaban yang jauh berbeda dengan tradisi Jahiliyah yang menjadi prinsip masyarakat kebanyakan waktu itu. Berbagai kejayaan, kemenangan yang kemudian diraih oleh kaum muslimin, semuanya berawal dari hijrah, karena hijrah bukanlah akhir dakwah beliau di Mekah,

Tetapi awal dakwah dan kunci kesuksesan dakwah Nabi saw. “Hijrah adalah pemisah antara hak dan batil,” tegas Khalifah Umar dalam dekrit penetapan tahun hijriah. Walaupun bulan pertama dalam kalender Islam adalah Muharram, tapi mulai berangkat Nabi hijrah terjadi pada 27 Shafar hingga Rasulullah sampai di Quba’ pada Senin, 8 Rabi’ul Awal dan masuk ke Madinah pada 12 Rabiul Awal/27 September 622 M. (al-Mubarakfury, al-Rahiq al-Makhtum). Muharram ditetapkan sebagai awal tahun hijri berdasarkan pandangan mereka bahwa pada bulan Muharram, jamaah haji pulang ke kampung halamannya untuk memulai “hidup baru” sebagai orang yang telah melaksanakan ibadah haji.

Hijrah juga merupakan kelanjutan tradisi para Rasul ketika mereka berdakwah. Nabi Ibrahim as. melakukan hijrah ke Palestina setelah lama berdakwah di Kan’an. Nabi Musa, sebelum diangkat menjadi Rasul sudah hijrah dari Mesir ke Madyan. Setelah menjadi Rasul beliau hijrah dari Mesir ke Palestina menyeberangi laut merah.

Hijrah para Rasul itu mempunyai makna penting bagi keberhasilan dakwah mereka. Hijrah Nabi Musa ke Madyan mempunyai kesamaan dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam hijrahnya ke Madinah. Sebagaimana yang terindikasi dalam sabda beliau sekemba­linya dari Tha’if, “Ingatlah wahai golongan Quraisy! Demi Allah, tidak lama lagi kalian akan masuk pada agama yang kalian ingkari ini”. Ada indikasi bahwa hijrah bagi beliau mempunyai makna strategi mensolidkan lini demi lini perjuangan. Terbukti, per­juangan beliau untuk meng-Islamkan penduduk Mekah, semuanya dikoordinir dari Madinah.

Begitu pula Musa as, di Madyan beliau menempa diri bersama keluarga Nabi Syuaib untuk kemudian kembali ke Mesir memberantas kekufuran, melawan kesewenang-wenangan dan penindas­an rezim tira­nik Fir’aun kepada Bani Israil.

Melihat kaitan yang amat erat antara hijrah dan dakwah dalam sejarah para Rasul ini, bisa ditarik sebuah kesimpulan historik bahwa hijrah merupa­kan sebuah kelaziman dalam perjuangan mene­gak­­kan kebenaran. Pada lingkup ini, kita bisa mencermati sebuah titik korelatif antara hijrah dan strategi dakwah. Titik korelatif ini dapat dijumpai dengan mudah dalam berbagai perjala­nan dakwah Islam dari masa ke masa.

Hal yang sama dapat pula kita temukan dalam kiprah dakwah pesan­tren. Telah maklum, pesan­tren adalah tempat hijrah —sebagai­mana terbersit dalam sajak-sajak A. Hidayatullah, “Sidogiri Mahjari”. Maksud “tempat hijrah” dalam konteks pesantren di sini tak jauh dengan kawah candra­dimuka dalam konteks pewayangan. Artinya, penempaan diri di pesantren tidak didasarkan untuk kemajuan lembaga secara internal, tapi lebih mempunyai orientasi kebutuhan masyarakat secara eksternal.
Pengertian ini sesuai dengan visi pesantren sebagai `produsen’ kader-kader agamawan yang dipersiap­kan untuk bersing­gungan dengan problematika sosial masyarakat di waktu itu.

******

Di tahun baru hijriyah 1429 ini marilah kita jadikan momentum untuk kembali mengingat dan mengenang peristiwa yang sangat agung itu, sejarah besar yang akan selalu dikenang oleh seluruh umat Islam di muka bumi.

Meninggalkan kampung halaman, sanak famili dan keluarga menuju sebuah daerah yang belum pernah dikenalnya di bawah kejaran musuh tentu bukan hal ringan. Perjuangan dan pengorbanan para Sahabat patut kita jadikan sebagai pegangan hidup kita dalam menjalankan tugas dakwah islamiyah. Sayyidina Ali ra. dengan ikhlas menempati tempat tidur Nabi yang beresiko besar. Nyawa taruhannya!

Hijrah adalah awal keberhasilan sebuah dakwah, kunci pembuka cahaya keislaman dan keimanan. Para Rasul mulai menuai hasil dalam dakwahnya setelah mereka hijrah. Imam Syafi’i ra dalam sebuah sya’irnya berkata, “Emas tidak akan menjadi emas kalau tidak dikeluarkan dari tanah”. Hijrah mempunyai arti yang sangat besar. Menyakitkan memang. Meninggalkan kampung halaman, sanak famili dan keluarga demi terciptanya kehidupan yang mulia dengan nur keimanan.

Sebagaimana orang biasa, nabi Muhammad saw sangat mencintai tanah kelahirannya, tanah ait dan tanah tumpah darahnya. Walau­pun selama berdakwah, beliau hanya menerima siksaan dan hinaan dari kaum kuffar Mekah, sehingga diperintah untuk hijrah ke Madi­nah sudah siap menanti datangnya cahaya Islam, tapi hal ini sama sekali tidak mempengaruhi rasa cintanya terhadap Mekah. Karena pada saatnya nanti, Mekah akan menjadi sentral agama Islam. Suasa­na perpisahan yang mengharukan terekam dari “salam perpi­sahan­nya” ketika berangkat hijrah. Seraya memandang Mekah, beliau berkata, “Demi Allah! Engkau (Mekah) adalah bumi Allah yang paling aku cintai. Demi Allah! Engkau adalah bumi Allah yang paling dicintai oleh Allah. Andaikan pendudukmu tidak mengusir aku, niscaya aku tidak akan pergi meninggalkanmu”.

Kini, sinar hijri telah diambang fajar. Ketabah­an dan kesabaran nabi ketika meninggalkan kota Mekah di bawah kejaran orang-orang kafir, kesetiaan para sahabat dalam membela dan membantu perjala­nan beliau serta sambutan histeris kaum Anshar ketika nabi tiba di Mekah dengan membawa dakwah Islam kembali menjel­ma di relung ingatan kita. Kesetiaan Imam Ali ra. ketika diperintah menempati tempat tidur nabi yang taruhannya adalah nyawa, pengorbanan dan ketulusan Abu Bakar beserta putra-putrinya mengawal perjalanan beliau keluar dari cengkram­an kaum kuffar tidak akan terlupakan selamanya.

Kita hanya bisa meneteskan air mata haru mengenang peristiswa agung itu, tanpa ada gugahan hati untuk terus melanjutkan dan mele­starikan hasil perjuangan mulia mereka. Akankah sejarah besar itu menjadi lagenda seiring hilangnya ghirah islamiyah kita yang dulu sangat rekat mewarnai perjalanan hidup mereka?

Reff:
Sidogiri dot Com

January 10, 2008

31 DzulHijjah 1428 H..?

Filed under: Astronomy, Kajian, Tadzkiroh

Yup, ini benar2 terjadi. Rabu, 9 Januari 2008 M = 31 Dzul Hijjah 1428 H

Kok bisa..?

Data berikut saya ambil dari web RHI, kapan Saudi memasuki tgl 1 Muharram 1429 H..?

Menggunakan Kriteria Rukyat Saudi, tgl 1 Muharram 1429 H akan jatuh pada:

Rabu, 9 Januari 2008.

Karena sesuai keputusan Saudi kemarin 1 Dzul Hijjah 1428 H = 10 Des 2008, maka 29 Dzul Hijjah 1428 H nya jatuh pada Senin 7 Jan 2008, sehingga:

Rukyat Saudi à Senin, 7 Januari 2008 (29 Zulhijjah 1428 H)

Data Hisab Hilal di Saudi:

Ijtimak : 15:38 LT  -  Sunset: 17:53 LT -  Moonset: 16:55 LT  -  Moon Alt.  - 12°20′)

Lebih detail, klik link berikut: Dzul Hijjah 31 hari

Jadi benar khan, ada tgl 31 Dzul Hijjah 1428 H..?

Wa Allahu a’lamu bish showwaab…

October 29, 2007

Tanya-Jawab hilal Cakung

Filed under: Kajian

Tulisan ini adalah postingan pertama saya setelah sekian hari Off karena liburan dan kebetulan saya mendapat ujian sakit ala anak2…Cacar Air… hehe kini dah sembuh, al hamdulillah…
Agak bingung juga mau nulis apa dulu karena ide selama liburan bermunculan agak banyak..

Sebelumnya, tepat menjelang penentuan awal Syawwal 1428 H, malam hari saat mau pilih Jum’at tgl 12 atau Sabtu tgl 13 Okt 2007 sebagai hari pertama bulan Syawwal 1428 H, saya sempat ngobrol kepada pak Toha perihal hilal Cakung. Sore hingga malamnya, saya dan Pak Toha bersama rekan2 BHR DIY, UII, UIN Suka, JAC, beberapa Tim Rukyah dari berbagai Pesantren, melakukan rukyah hilal di Bukit Syekh Bela-Belu Pantai Parangkusumo Bantul DIY.

Selanjutnya di milis RHI, obrolan ini agak lebih detail dan berikut saya kopikan hasil diskusi sederhananya…


mochamad rofiq <ki_rofiq@…> wrote:
Kemarin(20/10/2007) saya baru dapat sms bahwa"hasil rukyat di lajnah falakiyah AL HUSNIYAH Cakung JKT.

pada tanggal 11 Oktober 2007 sbb :
tinggi hilal 3.35′.59" , >>>> ini adalah hasil hisab bukan rukyat
umur hilal 14 mnt 24 detik. >>>> ini juga hasil hisab
Dengan saksi :H.m.Labib. 2.Forkhon. 3.A.Zain. 4.Muzbiwijdi
Data ini dihitung menggunakan Hisab Taqribi (hitungan kasar) sehingga tidak akurat
ditengarai Tim Cakung menggunakan Kitab Sulam al Naiyroin
(Menurut kitab ini, ijtimak terjadi pada 10:27 WIB )
Dari ijtimak sd sunset sekitar 7 jam shg :
7 jam x 0,5° (ketertinggalan bulan selama 1 jam=0,5°) = 3°30′ (kasarnya)
karena gerak bulan juga sekitar 4° per menit maka tg= 3°30′ (3,5°) sampai
tg=0 (bulan terbenam) >> perlu waktu 3,5x4 menit = 14 menit
( begitu cara mereka menghisab tanpa memperhitungkan faktor2 astronomis;
kerendahan ufuk (dip), refraksi atmosfer, semi diameter bulan/matahari, ketinggian tempat,
faktor ketelitian hitungan (digit) dsb mereka abaikan sgh hasilnya kasar) Tapi mereka mantap betul dengan hasil tsb >>> 3,5° ketinggian hilal yg membuat mereka begitu percaya diri dapat melakukan rukyat (menurut mereka angka ketinggian hilal minimal agar bisa dirukyat adalah 2° (padahal angka ini juga masih jauh dari kriteria sains)) apalagi hasil hisab yg terpaut jauh dg perhitungan modern ( 0° 21′ 06" ) ada selisih sekitar 3°.

Tambahan:.
Data Hisab Modern (menggunakan Software Starrynight pro Plus 6.06 untuk wilayah Cakung, Jakarta Timur Long:106:49:00E dan Lat:06:10:00S Tinggi: 50m dpl)
pada 11 Oktober 2007 adl. sbb:
Ijtimak Geosentrik : 12:02 WIB (dilihat dari pusat bumi)
Ijtimak Toposentrik : 12:33 WIB (dilihat dari lokasi ybs)
Matahari terbenam : 17:46 WIB (seluruh piringan matahari masuk ufuk Mar’i / visibel horizon)
Bulan terbenam : 17:48 WIB
Azimuth bulan : 258°44′
Azimuth matahari : 262°54′
Tinggi bulan saat matahari terbenam : 0° 21′ 06" (dia atas ufuk Mar’i / visibel horizon)
Lama hilal di atas ufuk : 2 menit (sunset-moonset)
Umur bulan dari ijtimak sampai saat matahari terbenam 17:46 - 12:02 = 5jam 44 menit

=======================================================
PADA KONDISI SEPERTI INI MUSTAHIL HILAL/BULAN DAPAT DIRUKYAT
=======================================================
Catatan : Software Starrynight Pro Plus 6.06 menggunakan algoritma Chapront ELP2000/82 yang hanya menghasilkan kesalahan sudut rata2 0,027° melenceng dari posisi sesungguhnya (sementara sudut diameter bulan cukup besar yaitu sekitar 0,5°)
Yg ingin saya tanyakan:

1.Benarkah hilal terlihat di wilayah Cakung? RHI kan juga melakukan pengamatan di sana.
Tim RHI di JIC (Jakarta Timur) maupun yang bergabung di Cakung tidak melaporkan dapat melihat hilal (karena memang mustahil). Posisi Cakung yang terlalu rendah membuat lokasi ini juga akhirnya tidak ideal untuk observasi hilal. Berdasarkan hasil observasi horizon barat dari Cakung berada di atas ufuk Hakiki sekitar 1° akibat pemukiman dan perkotaan belum lagi tingkat polusi udara langit Barat yang tepat berada di atas kota Jakarta.
Menurut laporan pengamat sering terlihat cahaya/lampu pesawat dari arah bandara sukarno-hatta terutama saat setelah maghrib sehingga ini dicurigai sebagai penyebab laporan rukyat dari cakung. Namun sayang tim Cakung menolak jika diajak pendampingan dengan alasan mengganggu.

2.Benarkah data2 hasil rukyat tersebut?
Yang disebutkan itu adalah data hisab bukan data rukyat. Data rukyat dilakukan pengukuran saat hilal terlihat : Dimana, kapan, bentuknya seperti apa syukur disertai bukti fisik berupa hasil pemotretan atau video. Tapi sayang tim rukyat cakung tidak mencantumkan data2 tersebut, justru yg dicantumkan dalam laporan itsbatnya adalah data hasil hisab.
3.Kalau saudi 1 syawalnya tgl 12/10/2007 ,mesir 13/10/2007,indonesia 13/10/2007,berarti di dunia ini tanggal 1syawal nya bisa berlainan(bahkan ada 3 hari), apakah secara ilmiah ini mungkin?
Terjadinya perbedaan pada kalender komariyah secara ilmiah mungkin saja. Kenapa? sebab kriteria tunggal penanggalan tersebut memang belu disepakati. Masing2 pihak memiliki kriteria sendiri untuk menentukan awal bulannya akibatnya tidak hanya 3 hari berselisih bahkan bisa 4 hari. Dan menjadi hal yang mustahil untuk menyatukan kalender ini karena bentuk bumi yang bulat dan kita juga masih terpengaruh sistem kelender masehi.
Kita harus sepakati dulu dimana mulainya hari misalnya hari Jumat dimulai dari mana? Negeri mana yang berhak Jumatan dulu? Arab? Indonesia? Atau dimulai dari tempat yang pertama kali melihat hilal? (seharusnya demikian). Lalu dimana yang paling tepat? tempat ini jelas selalu bergeser.. atau kita menggunakan aturan kalender masehi untuk menentukan hari dan menggunakan kalender hijriyah untuk awal bulan? yg jelas standard ganda penggunaan kelender ini juga menjadi masalah.

Padahal kalau dikatakan contoh di Indonesia tanggal 1 januari 2009,maka seluruh dunia pasti juga tanggal 1 januari 2009, tapi kalau 1syawal kok bisa lebih dari 1?
Tidak juga, coba saat kita rame2 merayakan tahun baru 1 Januari pukul 00:00 di benua amerika masih tanggal 31 desember siang dan mereka harus menunggu 12 jam lagi untuk merayakannya.
Dan saat di benua amerika hiruk pikuk merayakan tahun baru sampai tanggal 1 sore harinya kita di Indonesia sudah masuk tanggal 2.

Namun masih beruntung kalender masehi ini karena kriteria dan batasnya telah disepakati bersama walaupun untuk itu butuh waktu ratusan tahun sampai seluruh dunia mau mengakuinya….
ma’af atas ketidaktahuan saya.
sama2 kita saling belajar…

Salam,
Mutoha
dari: http://tech.groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/message/324






















| Terima kasih atas kunjungan Anda | thank's to MinZweb |