Pakar : Berawal dari Niat

February 6, 2008

Tahun Hijriah: ”Monumen” Ambruknya Tirani

Pada suatu hari, sahabat Abu Musa al-Asy’ari menulis surat kepada khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengeluh bahwa surat khalifah yang dikirim kepadanya tidak bisa dibeda­kan mana yang awal dan yang terakhir, karena tidak ada tanggalnya. Untuk menindak­lanjuti keluhan ini, khalifah mengumpulkan para sahabat untuk membahas perihal di atas. Mereka kemudian sepa­kat untuk membuat kalender Islam.

Semula banyak pendapat mengenai standar permulaan tahun Islam. Ada yang berpendapat tahun pertama dihitung dari kelahiran nabi saw. Ada yang mengusulkan dimulai dari tahun diutusnya nabi, dan masih banyak usulan lainnya. Namun akhirnya, mereka sepakat untuk men­jadikan peristiwa hijrah sebagai patokan permulaan kalender kaum muslimin. “Ta’rikh (Kalender) itu dimulai sejak Nabi meninggalkan tempat musyrik menuju tempat yang penuh dengan keimanan,” usul s. Ali ra. Usulan ini akhirnya disepakati oleh para sahabat yang hadir pada waktu itu.

Karenanya, sistem kalender yang kemudian menjadi kalender terbesar kedua di dunia setelah kalender masehi ini, ditetapkan oleh khalifah Umar sebagai kalender resmi Islam, pada Rabu 20 Jumadal Akhi­rah 17 tahun setelah hijrahnya Rasul.

Hijrah tidak hanya imigrasi dari Mekah ke Madinah, tetapi hijrah adalah sebuah upaya membangun peradaban baru. Peradaban yang jauh berbeda dengan tradisi Jahiliyah yang menjadi prinsip masyarakat kebanyakan waktu itu. Berbagai kejayaan, kemenangan yang kemudian diraih oleh kaum muslimin, semuanya berawal dari hijrah, karena hijrah bukanlah akhir dakwah beliau di Mekah,

Tetapi awal dakwah dan kunci kesuksesan dakwah Nabi saw. “Hijrah adalah pemisah antara hak dan batil,” tegas Khalifah Umar dalam dekrit penetapan tahun hijriah. Walaupun bulan pertama dalam kalender Islam adalah Muharram, tapi mulai berangkat Nabi hijrah terjadi pada 27 Shafar hingga Rasulullah sampai di Quba’ pada Senin, 8 Rabi’ul Awal dan masuk ke Madinah pada 12 Rabiul Awal/27 September 622 M. (al-Mubarakfury, al-Rahiq al-Makhtum). Muharram ditetapkan sebagai awal tahun hijri berdasarkan pandangan mereka bahwa pada bulan Muharram, jamaah haji pulang ke kampung halamannya untuk memulai “hidup baru” sebagai orang yang telah melaksanakan ibadah haji.

Hijrah juga merupakan kelanjutan tradisi para Rasul ketika mereka berdakwah. Nabi Ibrahim as. melakukan hijrah ke Palestina setelah lama berdakwah di Kan’an. Nabi Musa, sebelum diangkat menjadi Rasul sudah hijrah dari Mesir ke Madyan. Setelah menjadi Rasul beliau hijrah dari Mesir ke Palestina menyeberangi laut merah.

Hijrah para Rasul itu mempunyai makna penting bagi keberhasilan dakwah mereka. Hijrah Nabi Musa ke Madyan mempunyai kesamaan dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam hijrahnya ke Madinah. Sebagaimana yang terindikasi dalam sabda beliau sekemba­linya dari Tha’if, “Ingatlah wahai golongan Quraisy! Demi Allah, tidak lama lagi kalian akan masuk pada agama yang kalian ingkari ini”. Ada indikasi bahwa hijrah bagi beliau mempunyai makna strategi mensolidkan lini demi lini perjuangan. Terbukti, per­juangan beliau untuk meng-Islamkan penduduk Mekah, semuanya dikoordinir dari Madinah.

Begitu pula Musa as, di Madyan beliau menempa diri bersama keluarga Nabi Syuaib untuk kemudian kembali ke Mesir memberantas kekufuran, melawan kesewenang-wenangan dan penindas­an rezim tira­nik Fir’aun kepada Bani Israil.

Melihat kaitan yang amat erat antara hijrah dan dakwah dalam sejarah para Rasul ini, bisa ditarik sebuah kesimpulan historik bahwa hijrah merupa­kan sebuah kelaziman dalam perjuangan mene­gak­­kan kebenaran. Pada lingkup ini, kita bisa mencermati sebuah titik korelatif antara hijrah dan strategi dakwah. Titik korelatif ini dapat dijumpai dengan mudah dalam berbagai perjala­nan dakwah Islam dari masa ke masa.

Hal yang sama dapat pula kita temukan dalam kiprah dakwah pesan­tren. Telah maklum, pesan­tren adalah tempat hijrah —sebagai­mana terbersit dalam sajak-sajak A. Hidayatullah, “Sidogiri Mahjari”. Maksud “tempat hijrah” dalam konteks pesantren di sini tak jauh dengan kawah candra­dimuka dalam konteks pewayangan. Artinya, penempaan diri di pesantren tidak didasarkan untuk kemajuan lembaga secara internal, tapi lebih mempunyai orientasi kebutuhan masyarakat secara eksternal.
Pengertian ini sesuai dengan visi pesantren sebagai `produsen’ kader-kader agamawan yang dipersiap­kan untuk bersing­gungan dengan problematika sosial masyarakat di waktu itu.

******

Di tahun baru hijriyah 1429 ini marilah kita jadikan momentum untuk kembali mengingat dan mengenang peristiwa yang sangat agung itu, sejarah besar yang akan selalu dikenang oleh seluruh umat Islam di muka bumi.

Meninggalkan kampung halaman, sanak famili dan keluarga menuju sebuah daerah yang belum pernah dikenalnya di bawah kejaran musuh tentu bukan hal ringan. Perjuangan dan pengorbanan para Sahabat patut kita jadikan sebagai pegangan hidup kita dalam menjalankan tugas dakwah islamiyah. Sayyidina Ali ra. dengan ikhlas menempati tempat tidur Nabi yang beresiko besar. Nyawa taruhannya!

Hijrah adalah awal keberhasilan sebuah dakwah, kunci pembuka cahaya keislaman dan keimanan. Para Rasul mulai menuai hasil dalam dakwahnya setelah mereka hijrah. Imam Syafi’i ra dalam sebuah sya’irnya berkata, “Emas tidak akan menjadi emas kalau tidak dikeluarkan dari tanah”. Hijrah mempunyai arti yang sangat besar. Menyakitkan memang. Meninggalkan kampung halaman, sanak famili dan keluarga demi terciptanya kehidupan yang mulia dengan nur keimanan.

Sebagaimana orang biasa, nabi Muhammad saw sangat mencintai tanah kelahirannya, tanah ait dan tanah tumpah darahnya. Walau­pun selama berdakwah, beliau hanya menerima siksaan dan hinaan dari kaum kuffar Mekah, sehingga diperintah untuk hijrah ke Madi­nah sudah siap menanti datangnya cahaya Islam, tapi hal ini sama sekali tidak mempengaruhi rasa cintanya terhadap Mekah. Karena pada saatnya nanti, Mekah akan menjadi sentral agama Islam. Suasa­na perpisahan yang mengharukan terekam dari “salam perpi­sahan­nya” ketika berangkat hijrah. Seraya memandang Mekah, beliau berkata, “Demi Allah! Engkau (Mekah) adalah bumi Allah yang paling aku cintai. Demi Allah! Engkau adalah bumi Allah yang paling dicintai oleh Allah. Andaikan pendudukmu tidak mengusir aku, niscaya aku tidak akan pergi meninggalkanmu”.

Kini, sinar hijri telah diambang fajar. Ketabah­an dan kesabaran nabi ketika meninggalkan kota Mekah di bawah kejaran orang-orang kafir, kesetiaan para sahabat dalam membela dan membantu perjala­nan beliau serta sambutan histeris kaum Anshar ketika nabi tiba di Mekah dengan membawa dakwah Islam kembali menjel­ma di relung ingatan kita. Kesetiaan Imam Ali ra. ketika diperintah menempati tempat tidur nabi yang taruhannya adalah nyawa, pengorbanan dan ketulusan Abu Bakar beserta putra-putrinya mengawal perjalanan beliau keluar dari cengkram­an kaum kuffar tidak akan terlupakan selamanya.

Kita hanya bisa meneteskan air mata haru mengenang peristiswa agung itu, tanpa ada gugahan hati untuk terus melanjutkan dan mele­starikan hasil perjuangan mulia mereka. Akankah sejarah besar itu menjadi lagenda seiring hilangnya ghirah islamiyah kita yang dulu sangat rekat mewarnai perjalanan hidup mereka?

Reff:
Sidogiri dot Com

January 10, 2008

Sabit Awal tahun 1429 H

Filed under: Astronomy, Islam, Fotografi

Hilal 1 Muharram 1429 H adalah penanda bagi dimulainya bulan pertama sekaligus tahun 1429 H dalam kelander Islam.

Saya merasa bahagia manakala berhasil melihat Hilal Awal Tahun 1429 H ini. Maka saya siapkan sebuah binokuler, sebuah Digital Camera dan sebuah Digital Camera dengan digital Zooming. Hilal seperti apa sih? Berikut Hilal1 Muharram 1429 H, yang berhasil diabadikan oleh Koord. JAC di Pantai Parangkusumo Jogjakarta, Rabu 9 Januari 2008 jam 6 sore lewat 27 menit.

More...

hilal_muh29_jac.jpg

Ini hasil karya Pak Toha MMC dari RHI Yogyakarta-JAC

Rabu 9 Januari 2008 saat sunset atau matahari terbenam merupakan saat pelaksanaan rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Muharram 1429 Hijriyah. Di tempat saya, Bendo Ketitang Juwiring Klaten - Jawa Tengah, saya mencoba memburu hilal awal tahu 1429 Hijriyah ini.

Rukyah tidak dilaksanakan pada hari pertama terjadinya ijtimak: Selasa, (8/1) karena posisi hilal di lokasi ini menurut kalkulasi program Starrynight Pro Plus 6, masih di bawah ufuk yaitu minus 1°7′ sehingga mustahil dilakukan rukyat. 

Sementara pada H+1 ijtimak yakni Rabu (9/1) posisi hilal cukup tinggi yaitu 9° 50′ saat matahari terbenam. Observasi saya lakukan sendiri di belakangrumah, namun sampai berkumandang iqomah masjid, kondisi horizon barat tertutup awan tebal, bahkan sampai bulan terbenam berdasar hisab SNPP 6 Hilal 1 Muharram 1429 H Tidak terlihat juga.

Semoga bulan depan berhasil melihat…

Berikut gambar saat matahari beberapa menit setelah terbenam:

1muh1429h_pakarfisika.jpg

November 16, 2007

Setahun M = 3 tahun H

Filed under: Astronomy, Islam

Kalau kita jeli, terutama saat mengamati kalender yang akan datang yakni tahun 2008 masehi, maka kita akan mendapati sesuatu yang unik. Kita lihat bulan Januari 2008, pada tanggal 1-9 Januari 2008 masih masuk bulan Dzul Hijjah tahun 1428 hijriyah. Selanjutnya pada tanggal 10 Januari 2008 M adalah tanggal 1 Muharram 1429 H. Kebetulan tapi ini pasti sudah Taqdir Ilaahi, bahwa secara Hisab dan Rukyah, pergantian tahun ini tidak akan mengalami perbedaan. Kalau tetap beda ya…saya nggak bisa mbayangin, masak tahun baru ada empat kali…he he. Kok bisa tahu kalau akan serempak dan tidak ada selisih..? 1. Secara umum, kalau bulan selain Ramadhan dan Syawwal serta Dzul Hijjah, 

tidak ada aktifitas ibadah mahdloh yang memerlukan metode Rukyah maupun Hisab dalam penentuan awal bulan. 2. Dari perhitungan, didapatkan bahwa altitude/irtifaa’/ketinggian Hilal pada hari pertama Rukyah/Hisab yakni tanggal 29 bulan Dzul Hijjah masih negatif. Jadi yaa .. versi Hisab belum masuk tahun baru, sedang versi Rukyahistikmal untuk masuh tahun baru. (more…)

October 11, 2007

1 Syawwal 1428 H

Filed under: Islam
Berikut saya kutipkan laporan dari situs resmi Depag dot Go dot Id: 
Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1428 H Jatuh Pada Sabtu, 13 Oktober 2007

Jakarta 11/10 (Pinmas) - Pemerintah melalui Sidang Itsbat menetapkan hari raya Idul Fitri 1428 Hijriyah jatuh pada Sabtu, 13 Oktober 2007. Keputusan tersebut tertuang dalam keputusan Menteri Agama No 109 tahun 2007 tertanggal 11Oktober 2007 tentang Penetapan 1 Syawal 1428 H.

“Pemerintah dalam menetapkan awal Syawal selalu memperhatikan kesejukan dan kedamaian sehingga terwujud persatuan dan kesatuan,” kata Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni yang memimpin sidang tersebut di operation room Departemen Agama, Kamis (11/10) malam.

Sidang Itsbat yang digelar di Depag itu dihadiri Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh, Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kardiman, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amien, para wakil umat Islam lain dari NU, Muhammadiyah, Persis, DDII, DMI dan lain-lain serta para duta besar dan perwakilan Negara-negara Islam.

Ketua Badan Hisab dan Rukyat yang juga Direktur Urusan Agama Islam Depag, Muchtar Iljas yang menyampaikan hasil rukyat menyatakan dari hasil pemantauan di 40 lokasi dari Banda Aceh hingga Jayapura semua melaporkan tidak melihat hilal (bulan).

“Ijtima (pertemuan akhir bulan dan awal bulan baru) menjelang syawal jatuh pada Kamis, 11 Oktober atau 29 Ramadhan pukul 12.02 WIB sehingga saat matahari terbenam posisi hilal di sebagian wilayah Indonesia Timur hilal masih dibawah ufuk, kecuali di Indonesia bagian Tengah dan Barat sudah diatas ufuk antara 0 derajat 30 menit sampai 0 derajat 45 menit,” katanya.

Dengan demikian bulan Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal) dan 1 syawal jatuh pada Sabtu 13 Oktober 2007. Sementara PP Muhammadiyah dengan maklumatnya telah menetapkan tanggal 1 Syawal jatuh pada hari Jumat, 12 Oktober 2007.

Sementara itu Menteri Komunikasi dan Teknologi Muhammad Nuh mengatakan, melihat hasil pemantauan yang dilakukan secara teknologi posisi hilal tidak terlihat. Dengan demikian tinggal ditetapkan oleh sidang itsbat.

Menjawab permintaan MUI agar pemerintah memfasilitasi alat teropong yang lebih canggih, ia mengatakan, pada saat sekarang ini alat teropong yang dipergunakan sudah cukup. Namun ia tidak memungkiri pada masa mendatang diperlukan alat teropong yang lebih canggih lagi.

Ditempat yang sama Pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Suwito Suprayogi, Lc mengatakan, pihaknya mengikuti hasil keputusan sidang itsbat yang dilakukan 11 Oktober oleh Depag ini. “Di Arab Saudi juga menurut hisab lebaran akan jatuh pada hari Sabtu,” ujarnya. (ks)

Dalam kesempatan ini saya mengucapkan:

Selamat Berhari Raya Iedul Fitri 1428 H kepada saudara2ku se-iman di manapun berada.

Taqobbala Allahu Minnaa wa Minkum, Kullu ‘Aam wa Nahnu Bi Khoiirin.

Mohon maaf Lahir dan Bathin, minal A’idiin wal Faa’iziin.

Menyambut datangnya bulan Syawwal, saya hanya berusaha melaksanakan sunnah shohihah Rasulillah SAW yakni Rukyatul Hilal. Rangkaian Rukyah Hilal saya awali dengan melihat dan melakukan Rukyah Hilal Tua (Waning) pada Rabu, 10 Oktober 2007 selepas Shubuh hingga terbit matahari.

Dari lokasi pengamatan yakni di Anjungan Ilmu Falak PPMI Assalaam (long:110 deg 46 mnt, Lat: 7 deg 33 mnt, Elev: 111 meter) dari jam 04:26 saat bulan terbit ternyata Waning atau Hilal Tua bulan amadhan 1428 H tidak bisa saya lihat dan tidak bisa pula saya abadikan. kondisi ini tetap sama sampai jam 05:17 saat matahari terbit.

old_crescent_of_ram28.jpg

Posisi Waning selalu saya pantau lewat Starrynight Pro 6.0.6

Selanjutnya, pada hari Kamis 11 Oktober 2007, saya melakukan Rukyah Hilal Muda (Waxing) di bukit Syeikh Bela-belu Pantai Parangkusumo Yogyakarta. Rombongan dari PPMI Assalaam sebanyak 14 personil menaiki Minibus Prona. Rombongan Tim Rukyah Hilal PPMI Assalaam berangkat jam 13.00 dan sampai di lokasi sekitar jam 04:25 WIB.

rukyahshw28-1.jpg

Di lokasi peserta dari Tim Rukyah Hilal PPMI Assalaam akhirnya bergabung dengan Tim Rukyah Hilal dari BHR (Badan Hisab Rukyat) Depag DIY, Ormas Islam seperti NU, UIN, UII, dan masyarakat yang peduli lainnya.

Acara diawali dengan sambutan dari BHR Depag DIY, gubernur DIY, Ahli Falak NU, Pakar Falak DIY dan diakhiri do’a.

Dari lokasi ini, semua peserta yang hadir sangat banyak, namun tidak satu pun yang berhasil melihat Hilal Muda 1 Syawwal 1428 H. Keputusannya bulan Ramadhan 1428 H digenapkan menjadi 30 hari.

rukyahshw28-9.jpg

Dalam perjalanan pulang ke Solo, ada info bahwa PPMI Assalaam sudahtakbir dan akan melaksanakan Sholat Iedul Fitri 1428 H pada esok harinya yakni hari Jum’at 12 Oktober 2007. Keputusan ini diambil dalam rapat/sidang Itsbat Dewan Kyai PPMI Assalaam yang memutuskan 1 Syawwal 1428 H jatuh pada hari Jum’at 12 Oktober 2007 karena telah ada laporan dari Tim Rukyat MMI di Cakung Jakarta yang melaporkan melihat Hilal. Tidak hanya itu, Tim Rukyat MMI juga telah disumpah di hadapan pihak berwajib di Pemerintahan Jakarta Utara. Setidaknya demikian yang saya terima dari obrolan setelah tiba di Ma’had.

rukyahshw28-13.jpg

Secara lembaga saya sangat ta’dzim dengan keputusan Dewan kyai, dan saya tetap membantu pelaksanaan Sholat Iedul Fitri di Ma’had, hanya secara pribadi keyakinan saya tetap Istikmal. Saya sempat ngobrol ke Pak Mutoha MMC (Koord. Jogja Astro Club/Rukyatul Hilal Indonesia, perihal ini walau sebentar sekedar ngisi keheningan malam…(00:25 LT)

Mutoha MMC: yah, yg yakin aja no problem..
Mutoha MMC:
Mutoha MMC: santai aja..
AR: kira2 yg dilihat itu apa yaa? kok bisa gitu lhooo
Mutoha MMC: cakung menggunakan hisab sulam
Mutoha MMC: ijtimak jam 12  ghurub dianggap jam 6
Mutoha MMC: 12-6=6 jam
AR: terus…
Mutoha MMC: selama 6 jam tsb   hilal akan menyimpang dari matahari 6x0,5°=3°
Mutoha MMC: 3° –> menurutnya sudah imkanurrukyat
AR: Ooo…Cakung tu siapa sih ../
Mutoha MMC: menggunakan dalil rukyat bilyaqin/bilqalbi/bil’ilmi   hilal terlihat
Mutoha MMC:

Akhirnya i-ring di HP (0-85-86-705-507-5) juga udah saya aktifkan Takbiran nya H. Mu’ammar, ZA sang Qori’ Internasional dengan suara emasnya.

September 12, 2007

Awal Ramadhan yg Sama

Filed under: Astronomy, Islam

Saya sangat bangga bila kondisi ummat Islam Indonesia seperti tahun 1428 H ini, minimal daripada tahun2 sebelumnya. Walaupun ini baru ramadhan, karena saya berpikiran entar Idul Fitri bakalan beda suasananya dengan ramadhan ini. Tetapi semuanya hanya ALLAH SWT yang Maha Tahu.

Pekan ini, saya berusaha mengamalkan sunnah Rasul yakni Rukyah Hilal memasuki bulan suci Ramadhan 1428 Hijriyah. Rukyah Hilal saya lakukan tiga kali, mengingat hasil perhitungan hisab menyatakan bahwa Hilal awal Ramadhan negatif di seluruh wilayah Indonesia.

Pertama:

Saya melakukan Rukyah Hilal untuk menentukan akhir Sya’ban 1428 H. Hilal ini biasa disebut Hilal Tua (Old Crescent), yang berdasar kriteria Odeh, pengamatan dilakukan paling mungkin untyk wilayah Indonesia adalah pada Senin 10 September 2007 selepas Shubuh.

Hasil dari observasi saya, ternyata Hilal Tua Syaban 1428 H terlihat sangat jelas seperti yang digambarkan pada Accurate Times nya Pak Muh. Odeh dari Jordania.

Gambar di atas adalah penampakan dari Hilal Tua untuk bulan Sya’ban tahun 1428 Hijriyah yang saya lihat lewat atas lantai 3 Asrama Kapatra II PPMI Assalaam, sekitar jam 5 pagi lebih 20 menit.

Ketinggian Hilal Tua ini sekitar 9 derajat di atas ufuk timur. Dari ketinggian ini memang sangat mudah melihat hilal. Hilal ini akan menghilang dan sulit terlihat sekitar 05.25 dengan mata telanjang.

Kedua:

Saya melakukan rukyah hilal untuk menentukan awal Ramadhan 1428 H, yang saya lakukan pada tgl 29 Sya’ban 1428 H bertepatan dengan tgl 11 Sept. 2007. Acara ini berlangsung di lantai tertinggi (plataran) Plaza Saphir Square Yogyakarta. Di sana saya mengajak para ustadz saya di PPMI Assalaam agar beliau2 mengenal bagaimana melihat hilal langsung dan bersama para tokoh di Yogyakarta.

Walau secara hisab, hilal muda kali ini mustahil dilihat karena bulan terbenam duluan ketimbang matahari, tetapi agenda ini tetap dilakukan karena sunnah melihat HILAL MUDA penentuan awal bulan Ramadhan adalah tgl 29 Sya’ban. Kalau hari ini Hilal Muda negatif alias tidak kelihatan oleh sebab apapun termasuk di dalamnya secara hisab hilal negatif; maka PASTI besok masih hari di bulan Sya’ban. Inilah Istikmal, yakni jumlah hari di bulan Sya’ban dijadikan/digenapkan menjadi 29 + 1 = 30 hari.

Istikmal hanya sekali, artinya tidak ada istikmal kedua, karena kalau ada maka akan menjadi 30 + 1 = 31, padahal TIDAK ADA dalam Islam jumlah hari = 31. Maka pada tgl 30 Sya’ban yang bertepatan tgl 12 Sept. 2007 adalah hari terakhir di bulan Sya’ban 1428 H. Hari berikutnya sudah masuk bulan Ramadhan 1428 H.

Gambar di atas, saya (di ujung tulisan ‘Hilal‘) bersama rekan2 dari Jogja Astro Club (berompi no 2 dari kanan) dan nampak Pak Sofyan Jannah Dosen Falak UII Yogyakarta di tengah berpeci dan berbatik.emoticon

Ketiga:

Saya melakukan rukyah hilal di hari berikutnya yakni Rabu 12 Sept. 2007 bersama satu mobil Prona dari PPMI Assalaam sekitar jam 14.30 WIB. Al hamdulillah tiba di lokasi yakni bukit Syaikh Bela-Belu, pantai Parangkusumo, sekitar jam 17:15, dan bisa persiapan untuk segera melihat hilal. Di sana telah berkumpul rekan2 dari UII, UIN Jogja dan JAC sendiri.

Sekitar jam 17:34 matahari terbenam, dan proses observasi pun dilakukan seluruh peserta. Ada yang udah biasa (sedikit) dan ada yang belum biasa alias baru pertama ikut melihat hilal (hampir semuannya).

Ternyata HILAL MUDA 1 Ramadhan 1428 hijriyah memang tidak mudah untuk dilihat. Sangat sulit karena kondisi langit di ufuk barat tempat posisi bulan muda itu berada adalah sedang berawan. Cuaca yang merah dan campur beberapa bagian awan berwarna hitam membuat pemburuan menjadi suanguaat sulit. Semua mata melotot….eh gak kena juga….

Pak Toha bilang, "Kelihatan nih…". Suasana pun jadi tambah tegang. Saya pun ikut tegang, tak jawil lah pak Toha..’Apa benar nt melihat..?’. katanya benar. Maka kamrea pun berulang kali tak arahkan dan berulang kali pula aku ceprat-cepret….

Saya mencoba melihatnya di layar kamera, setelah proses zooming, ternyata gak kelihatan juga…Masya Allah sulit benar Hilal Muda tgl 1 Ramadhan 1428 H ini….

Detik2 menjelang SunSet. Jangan coba2 mencari dan melihat Hilal saat ini!

Dan SunSet pun tiba….dimana HILAL MUDA 1 Ramadhan 1428 H itu yaa?

Pak Darmo (bertopi dan kaos biru), sopir mobil PPMI Assalaam pun penasaran..(mlongo emoticon)..

Terakhir saya ingin mengucapkan selamat kepada seluruh pembaca blog sederhan ini…

Allohumma Baarik Lanaa Fii Sya’baana wa Ballighnaa Ramadhaana…. amien 19x. []

September 5, 2007

Welcome Ramadhan 1428 H

Filed under: Kajian, Islam

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqoroh 183-186:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣)

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (١٨٤)

 شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (١٨٥)

 وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (١٨٦)

Artinya:

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[1], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

186. dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

[1] Maksudnya memberi Makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.

*). Awal bulan Ramadhan:

Menentukan awal bulan Ramadhan 1428 H, maka sebagaimana perintah Nabi SAW kita harus melakukan rukyatul hilal. Terlepas ada pendapat hisab dan lainnya, saya pribadi lebih condong dan sreg kalau pakai rukyah, toh kita masih punya ‘mata’ yang memang karunia Ilahi untuk rukyah salah satunya:

CARA MENETAPKAN AWAL DAN AKHIR BULAN:

1. "Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. beliau berkata : Manusia sama melihat Hilal (bulan sabit), maka akupun mengabarkan hal itu kepada Rasululullah saw. Saya katakan : sesungguhnya saya telah melihat Hilal. Maka beliau saw. puasa dan memerintahkan semua orang agar puasa." ( H.R Abu Dawud, Al-Hakim dan Ibnu Hibban).(Hadits Shahih).

2. "Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Mulailah puasa karena melihat ru’yah dan berbukalah ( akhirilah puasa Ramadhan ) dengan melihat ru’yah. Apabila awan menutupi pandanganmu, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban selama Tiga Puluh hari. "( HR. Bukhary Muslim).

 

KESIMPULAN

  • Menetapkan awal dan akhir bulan Ramadhan dengan melihat ru’yah, meskipun bersumber dari laporan seseorang, yag penting adil ( dapat dipercaya ).
  • Jika bulan sabit ( Hilal ) tidak terlihat karena tertutup awan, misalnya, maka bilangan bulan Sya’ban digenapkan menjadi Tiga Puluh hari. ( dalil 1 dan 2).
  • Pada dasarnya ru’yah yang dilihat oleh penduduk di suatu negara, berlaku untuk seluruh dunia. Hal ini akan berlaku jika Khilafah ‘ Ala Minhaajinnabiy sudah tegak ( dalil 2 ).
  • Selama khilafah belum tegak, untuk menghindarkan meluasnya perbedaan pendapat ummat Islam tentang hal ini, sebaiknya ummat Islam mengikuti ru’yah yag nampak di negeri masing-masing. ( ini hanya pendapat sebagian ulama).

     

Selengkap dan sedetailnya Rukyah Hilal Ramadhan 1428 H ada di Link berikut:

Rukyatul Hilal Ramadhan 1428 H.

atau klik gambar di bawah ini:

 

 

*). Amalan di bulan suci Ramadhan:

Rasulullah telah bersabda yang artinya sebagai berikut: Diriwayatkan dari Anas ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Apabila ada sesuatu dari urusan duniamu, maka kamu lebih tahu tentang hal itu. Jika ada urusan dienmu, maka akulah tempat kembalinya ( ikuti aku ). ( H.R Ahmad).

di hadits lain:

Artinya : Dirwayatkan dari ‘Aisyah ra : Rasulullah saw. telah bersabda : Barangsiapa melakukan perbuatan yang bukan perintah kami, maka ia tertolak ( tidak diterima). Dan dalam riwayat lain: Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perintah kami ini yang bukan dari padanya, maka ia tertolak. Sementara dalam riwayat lain : Barangsiapa yang berbuat sesuatu urusan yang lain daripada perintah kami, maka ia tertolak. (HR.Ahmad. Bukhary dan Abu Dawud).

Kandungan dua hadits shahih di atas menerangkan dengan jelas dan tegas bahwa segala perbuatan, amalan-amalan yang hubungannya dengan dien/syari’at terutama dalam masalah ubudiyah wajib menurut panduan dan petunjuk yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. Tidak boleh ditambah dan/atau dikurangi meskipun menurut fikiran seolah-olah lebih baik. Diantara cara syaitan menggoda ummat Islam ialah membisikkan suatu tambahan dalam urusan Dien. Sayangnya, perkara ini dianggap soal sepele, enteng dan remeh. Padahal perbuatan seperti itu adalah merupakan suatu kerusakan yang amat fatal dan berbahaya.

Selengkapnya klik: Panduan Amalan Ramdhan

August 28, 2007

GBT 28 Ogos 2007

Filed under: Astronomy, Islam

 

Gerhana Bulan Total (GBT) kembali terjadi pada tanggal 28 Agustus 2007. Menurut kalender astronomi NASA gerhana bulan total kali ini merupakan gerhana seri Saros ke 128 anggota ke 40 dari 71 gerhana yang terjadi serta akhir rangkaian musim gerhana di tahun 2007. Saros adalah masa perulangan rangkaian gerhana selama periode sekitar 18 tahun.

Gerhana bulan total kali ini dapat disaksikan setelah matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia. Posisi gerhana kali ini juga sangat menguntungkan untuk disaksikan sebab terjadi pada sore hari dan pada musim kemarau. Ini berbeda dengan peristiwa serupa yang terjadi pada 3 Maret 2007 lalu dimana gerhana bulan terjadi pada pagi hari saat tiba musim hujan.

 Kecuali Indonesia gerhana juga dapat disaksikan di negara-negara lain. Namun di Timur Tengah dan Afrika seluruh rangkaian gerhana tidak dapat disaksikan karena saat gerhana berlangsung negara ini masih mengalami siang hari. Di benua Amerika gerhana ini dapat disaksikan menjelang pagi. .

Tahapan Gerhana Bulan Total (GBT) 28 Agustus 2007

Penumbra Mulai (P1) = 14:54 WIB (tidak tampak)
Umbra Mulai (U1) = 15:51 WIB (tidak tampak)
Total Mulai (T1) = 16:52 WIB (tidak tampak)

Bulan Terbit (Moonrise) = 17:36 WIB

Puncak Gerhana = 17:37 WIB
Total Berakhir (T2) = 18:22 WIB
Umbra Berakhir (U2) = 19:24 WIB
Penumbra Berakhir (P2) = 20:21 WIB

( Sumber : SNP)

Terjadinya Gerhana Bulan

Gerhana Bulan terjadi saat sebagian atau keseluruhan wajah bulan yang dalam fase purnama tertutup oleh bayangan bumi. Itu terjadi bila bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama, sehingga sinar matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh bumi.

Dengan penjelasan lain, gerhana bulan terjadi bila bulan sedang beroposisi atau bertolak belakang dengan matahari. Tetapi akibat bidang orbit bulan miring terhadap bidang orbit semu matahari (ekliptika), maka tidak setiap oposisi bulan dengan matahari akan mengakibatkan terjadinya gerhana bulan. Perpotongan bidang orbit bulan dengan bidang ekliptika akan memunculkan 2 buah titik potong yang disebut titik node, yaitu titik di mana bulan memotong bidang ekliptika. Gerhana bulan ini akan terjadi saat bulan beroposisi pada node tersebut. Bulan membutuhkan waktu sekitar 29,53 hari untuk bergerak dari satu titik oposisi ke titik oposisi lainnya. Maka biasanya, jika terjadi gerhana bulan maka akan diikuti dengan gerhana matahari karena kedua titik node tersebut terletak pada garis yang menghubungkan antara matahari dengan bumi.

Pada saat peristiwa gerhana bulan total terjadi, seringkali permukaan bulan tidak gelap total dan masih samar-samar dapat terlihat berwarna gelap kemerahan. Ini dikarenakan masih adanya sinar matahari yang dipantulkan ke arah bulan oleh atmosfer bumi. Dan kebanyakan sinar yang dibelokkan ini memiliki spektrum cahaya merah. Itulah sebabnya pada saat gerhana bulan, bulan akan tampak berwarna gelap, bisa berwarna merah tembaga, jingga, ataupun coklat.

Gerhana bulan dapat diamati langsung dengan mata telanjang dan tidak berbahaya sama sekali. Namun demikian akan lebih indah jika ada binokuler atau "keker" atau bahkan teleskop untuk melihatnya lebih dekat sehingga nampak jelas batas antara daerah gelap dan terang di permukaan bulan.

Di kalangan Umat Islam peristiwa gerhana merupakan peristiwa alam biasa yang secara astronomis dapat dihitung kapan peristiwanya akan terjadi. Peristiwa gerhana bukan tanda kelahiran atau kematian seseorang namun gerhana merupakan momen merenungkan kembali tanda kemahabesaran Allah SWT, penguasa dan pemelihara langit yang tak pernah lena. Untuk itu Umat Islam memberi makna akan kehadiran gerhana melalui ibadah berupa shalat gerhana atau shalat khusuf yang dilakukan secara sendirian maupun berjamaah di masjid-masjid atau mushalla serta memperbanyak takbir dan sedekah. [cara shalat gerhana]

.”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua macam tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukan karena kematian seseorang atau kehidupannya. Maka jikalau kamu melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekahlah serta bershalatlah.”

( HR. Bukhari - Muslim )

Sumber :

Starrynight Software , NASA , Wikipedia , JAC

Sholat Khusuf:

gbt2880718-16.jpg

JUMHUR Ulama sepakat bahwa sholat gerhana matahari adalah sunnah dan dilakukan secara berjamaah. Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang tata cara pelaksanaanya, bacaan, waktu dan apakah khotbah merupakan syarat ataukah tidak. Juga apakah gerhana bulan memiliki hukum yang sama dengan gerhana matahari.

Dari A’isyah ra berkata: Gerhana matahari pernah terjadi di masa Rasululloh SAW kemudian beliau sholat bersama khalayak. Beliau pun berdiri dengan lama, ruku’ dengan lama, berdiri lagi dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu ruku’ dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu mengangkat kepala dan bersujud, dan melakukan sholat yang terakhir seperti itu, kemudian selesai dan matahari pun sudah muncul.
(Muttafaq alaih. HR Bukhori-1212 dan 4624, Muslim 901, Nasa’i, Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah.)

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya matahari dan rembulan adalah dua tanda-tanda kekuasaan Allah, maka apabila kalian melihat gerhana, maka berdo’alah kepada Allah, lalu sholatlah sehingga hilang dari kalian gelap, dan bersedekahlah”. (HR. Bukhori-Muslim)

Melihat dhohirnya hadits di atas, maka sholat khusuf (Gerhana Bulan) juga sunnah dan dilaksanakan sabagaimana sholat kusuf (gerhana matahari).

Di PPMI Assalaam seluruh santri melakukan sholat khusuf (Gerhana Bulan) di masjid Assalaam dengan Imam dan khotib, ustadz budi Prasetyo, S.Ag. Cuaca cukup cerah sehingga pemandangan bulan yang mulainampak bagian bawahnya sangat jelas terlihat. (maaf, foto karya anak2 di atas gerak shg kurang fokus).

sholat khusuf

sholat khusuf di masjid Assalaam

 Sholat dimulai selepas sholat maghrib, dan setelah sholat khusuf dilanjut dengan khotbah gerhana. Dalam khotbahnya ustadz Budi menyampaikan pesan, bahwa Gerhana adalah kejadian alami dan biasa serta selalu diulang di alam ini. Allah maha menentukan apapun, kalau memang cahaya bulanmau dihilangkan sekalipun, cahaya matahari dihilangkan sejalipun, Allah pasti mamapu.
Gerhana tidak ada kaitannya dengan mati atau hidupnya seseorang. Juga tidak boleh dikait-kaitkan dengan banyaknya musibah di Indonesia atau apapun namanya. Justru yang penting, kita wajib mengimani bahwa Allah telah ciptakan sebegitu banyak bintang dan benda langit lainyya. Bersyukurlah, bertobatlah, dan banyaklah berbuat baik di alam ini…karena tidak satupun benda di angkasa yang menentang kehendak Allah SWT.
Usai sholat khusuf, selanjutnya para santri disuguhi tontonan alam semesta live GBT dalam bentuk layar raksasa. Melalui visualisasi komputer, proses terjadinya gerhana bisa dimundurkan dan dimajukan.

 

Acara bertajuk "Bringing Astronomi to The Student" yang mengupas perjalan bulan hingga terjadi Gerhana baik sebagian maupun total berakhir saat dikumandangkannya adzan Isyaa. Selepas sholat Isyaa, mereka melihat langsung pemandangan GBT di alam sembari pulangke kamar.

 

Di depan Gelora, sekitar jam 19:24 WIB pemandangan GBT sudah mulai tampak sangatterang kendati belum semua muka bulan tampak sempurna.

 Malam itu pula acara rutin di PPMI Assalaam adalah pengajian rutin pegawai. Malam ini pembicara adlah Ustadz Sobari, pakar Falak Muhammadiyah Solo. Dalam ceramahnya, beliau menjelaskan bahwa Gerhana di era dulu, dijadikan tradisi yang membuat ilmu mati. Sebagai misal, bagi ibu hamil, makak bila ada Gerhana, dia harus mandi lalu menginjak abu, lalu masuk ke bawah kolong tempat tidur. Aneh…. itu jaman dulu.

 

Di tempat terpisah, teman JAC, Corona, CASAC dan MUGADETA melakukan sholat gerhana di top floor Shapir Hotel Yogyakarta yang dilanjutkan observasi.

Ada beberapa hal menyangkut sholat gerhana, antara lain sebagai berikut:

1. Tata cara sholat:
Maliki, Syafi’i dan Ahmad serta mayoritas penduduk Hijaz berpendapat bahwa sholat gerhana dengan dua rokaat dengan dua kali ruku’. Sedang Abu Hanifah dan penduduk kufah, menyatakan seperti sholat Id dan Jum’at.

Dalil:
Dari A’isyah ra berkata: Gerhana matahari pernah terjadi di masa Rasululloh SAW kemudian beliau sholat bersama khalayak. Beliau pun berdiri dengan lama, ruku’ dengan lama, berdiri lagi dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu ruku’ dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu mengangkat kepala dan bersujud, dan melakukan sholat yang terakhir seperti itu, kemudian selesai dan matahari pun sudah muncul.
(Muttafaq alaih. HR Bukhori-1212 dan 4624, Muslim 901, Nasa’i, Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah).

Dalam hadits lain juga oleh Ibnu Abbas, dengan muatan matan serupa, yakni dua rokaat dengan dua kali ruku’. Abu Umar berkata ini hadits gerhana paling shahih.

2. Bacaan :
Malik dan Syafi’i berpendapat pelan, sementaraa Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan dan Ishak bin Rahawaih berpendapat keras. Berdasar hadits di atas maka bacaan sholat gerhana itu keras atau jahr.

Di era digital, seperti sekarang ini, kita akhirnya memahami pula mengapa sholat gerhana memiliki kekhususan ketimbang sholat wajib dan umumnya sholat sunnah lainnya. Keistimewaan tersebut dalah terletak pada bilangan ruku’ pada setiap roka’atnya. Seperti yang kita tahu, dua kali ruku’ di setiap roka’at, adalah serasa aneh. Apalagi sunnahnya harus…lama…sehingga bacaan tasbihnya mestilah panjang dan berulang-ulang.

Inilah salah satu mukjizat kebenaran Islam. Salah satu sifat wajib Rasul adalah ‘Fatonah’. Fatonah artinya Rasulullah SAW harus memiliki kecerdasan, bahasa kita sekarang ‘jenius’ lah. Lalu dimana letak kejeniusan Rasulullah SAW..? Ya…salah satunya di tata cara sholat gerhana ini. Beliau ajarkan sholat khusuf dengan dua kali ruku’ per roakaat dan beliau juga ajarkan ruku’nya yang lama. Ruku’ lama artinya membaca tasbih berulang-ulang.

rukuu

1. Ruku’ dua kali per rokaat:

Perhatikan gambar di atas. Orang ruku’ artinya sedang membentuk sudut siku. Dalam matematika, sudut siku besarnya adalah 90 derajat. Arti dari ruku’ dua kali adalah, 90 derajat x 2 = 180 derajat. Arti dari 180 derajat adalah, saling segaris lurus. Jadi bukankah saat terjadinya fenomena gerhana, baik matahari maupun bulan, kesemuanya saling segaris lurus.

Pada Gerhana Matahari, posisi bulan di tengah-tengah, antara matahari dan bumi.

skema gerhana matahari

Pada saat Gerhana Bulan, posisi bumi berada di tengah-tengah, antara matahari dan bulan.

skema gerhana bulan

2. Membaca Tasbih berulang-ulang (banyak).

Tasbih berasal dari kata dasar sabaha artinya berenang. Tasbih berarti gerak yang dinamis. Hakekat dari seluruh materi di alam semesta ini adalah bergerak, ber-rotasi dan ber-revolusi. Salah tiga dari materi alam semesta adalah Matahari, Bumi dan Rembulan. Rembulan atau Bulan ber-rotasi dan ber-revolusi kepada Bumi. Bumi ber-rotasi dan ber-revolusi kepada Matahari. Matahari ber-rotasi dan ber-revolusi kepada Black Hole di pusat Bimasakti. Dan begitu seterusnya.

galaksi bimasakti

Ternyata memang sifat wajib rasul tak sekedar jadi hafalan anak-anak sekolah, namun itulah mukjizat…

“Wamaa yantiqu ‘anil hawaa…in huwa illa wahyun yuuhaa…”. QS. An-Najm (53):3-4.[+]

August 24, 2007

Waspada Fitnah Orang Fasiq

Filed under: Islam

Dalam pesannya Rasulullah SAW menjamin kita ummat Islam akan selamat bila senantiasa berpegang 2 warisannya. Kedua senjata ampuh itu bernama Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Terkait pesatnya dunia teknologi dan informasi, maka saya berpesan agar kita hati2 dalam mencerna semua yangmasuk ke telinga, mata, dan otak serta hati kita. Bahkan yang masuk ke perut kita juga harus kita waspadai.

Dalam salah satu ayat di surat Al-Hujuraat ayat ke - 6 ALLAH SWT telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (٦)

 

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Ayat ini jelas mengingatkan kita waspada atas semua berita yang kita terima. Sebab kalaukita lengah dan mudah terpancing, maka yang terjadi adalah fitnah. Dan fitnah akan merugikan dan menyebabkan musibah bagi orang banyak. Lalu setelah berselang beberapa saat dan setelah terkuak fakta yang sebenarnya, barulah kita menyesal atas kebodohan kita kemarin.

Sebagai misal, kalau kita baca berita yang wajar dan masuk akal, maka mudah kita mencerna; selanjutnya kita percaya itu tidak akan jadisoal. Sangat kecil dampak musibah yang ditimbulkan. Namun bila berita yang bersifat unlogical, maka kita wajib cross-check.

Kalau kita asal percaya atas semua berita, wadouuh qs 49:6, bakal jadi kenyataan…

Sungguh, berhati2lah dan waspadalah menerima informasi dan menentukan kebenarannya.

August 1, 2007

Hilal Sya’ban 1428 H

Filed under: Astronomy, Islam

Hilal bulan sya’ban atau di Jawa dikenal sebagai ‘wulan ruwah’ sebenarnya sangat menentukan bagi penentuan bulan2 berikutnya yakni sering kontroversial.

Bulan setelah Sya’ban adalah bulan suci Ramadhan. Bila Sya’ban tidak ada problem, mengapa Ramadhan sering terjadi masalah. Menurut hemat saya, semua ini lebih disebabkan oleh kurangtahuanya kita akan makna dan definisi Hilal itu sendiri.

Berikut citra Hilal di bulan sebelum Ramadhan. Altitude bulan saat sunset ini sekitar 15°37′. Sementara saat terjadi isjtimak, tinggi Hilal saat sunset hanya 4°54. 

hilalsyaban1428.jpgHilal bulan Sya'ban 1428 H

Urutan bulan dalam Islam adalah sebagai berikut:

1. Muharram = Suro

2. Shofar = Sapar

3. Rabi’ul Awal = Mulud

4. Rabi’ul Akhir = Ba’do Mulud

5. Jumadal Ula = Madilawal

6. Jumadal Tsaniyah = Madilakir

7. Rojab = Rejeb

8. Sya’ban = Ruwah

9. Ramadlon = Poso

10. Syawwal = Sawal

11. Dzul Qo’dah = Kaedah

12. Dzul Hijjah = Besar 

Astro Event Agustus 2007 detail..

July 17, 2007

Hari Kiblat 16 Juli 2007

Filed under: Astronomy, Islam

Mengulang hasil obeservasi dan singkronisasi arah kiblat masjid PPMI Assalaam pada 28 Mei 2007, maka pada Senin 16 Juli 2007 saya memanfaatkan moment langka ini untuk mengulang; apakah hasil karya anak-anak CASA pada moment awal benar2 telah akurat atau kurang.

Berdasar data yang langsung saya lihat dan praktikkan di lapangan tepat di lokasi anak2 CASA mengambilnya pada 28 Mei 2007, ternyata hasilnya sama persis. Dari hasil ini saya berkeyakinan penuh, bahwa arah kiblat yang didapat anak2 CASA awal adalah benar dan akurat.

Dengan hasil saya ini, maka arah kiblat masjid PPMI Assalaam secara resmi saya katakan lewat blog ini kurang ke utara 20deg. Berikutnya, adalah wewenang Dewan Kyai untuk menentukan; apakah akan dibuat garis baru arah kiblat atau sekedar informasi resmi ke warga PPMI Assalaam.

Berikut berita dalam bentuk gambar yang sempat saya abadikan:

Dari gambar di atas, arah kiblat masjid akan tepat bila bayangan tiang paling depan akan menutupi tiang di sebelah belakangnya, begitu dan seterusnya. Dari gambar di atas, ternyata bayangan tiang masih terlihat berada di sampingnya cukup jauh. Ini artinya arah kiblat masjid belum pas atau tepat. Dan ini sesuai hasil pengukuran yang dilakukan anak2 CASA 28 Mei 2007 dan yang saya buktikan kembali pada 16 Juli 2007.

Sebagai gambaran lebih detail, berikut saya ambilkan gambar langsung di salah satu lantai di dalam masjid PPMI Assalaam:

Gambar ini saya ambil dari atas dan posisi saya menghadap ke timur. Jadibagian atas dari gambar ini adalah sisi timur. Garis merah spidol adalah bayangan matahari yg mengarah ke kiblat sesuai istiwa a’dham 16 Juli 2007, sementara garis kotak lantai (tegel marmer) adalah arah kiblat masjid yang berlaku selama ini.






















| Terima kasih atas kunjungan Anda | thank's to MinZweb |