Tahun Hijriah: ”Monumen” Ambruknya Tirani
Pada suatu hari, sahabat Abu Musa al-Asy’ari menulis surat kepada khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengeluh bahwa surat khalifah yang dikirim kepadanya tidak bisa dibedakan mana yang awal dan yang terakhir, karena tidak ada tanggalnya. Untuk menindaklanjuti keluhan ini, khalifah mengumpulkan para sahabat untuk membahas perihal di atas. Mereka kemudian sepakat untuk membuat kalender Islam.
Semula banyak pendapat mengenai standar permulaan tahun Islam. Ada yang berpendapat tahun pertama dihitung dari kelahiran nabi saw. Ada yang mengusulkan dimulai dari tahun diutusnya nabi, dan masih banyak usulan lainnya. Namun akhirnya, mereka sepakat untuk menjadikan peristiwa hijrah sebagai patokan permulaan kalender kaum muslimin. “Ta’rikh (Kalender) itu dimulai sejak Nabi meninggalkan tempat musyrik menuju tempat yang penuh dengan keimanan,” usul s. Ali ra. Usulan ini akhirnya disepakati oleh para sahabat yang hadir pada waktu itu.
Karenanya, sistem kalender yang kemudian menjadi kalender terbesar kedua di dunia setelah kalender masehi ini, ditetapkan oleh khalifah Umar sebagai kalender resmi Islam, pada Rabu 20 Jumadal Akhirah 17 tahun setelah hijrahnya Rasul.
Hijrah tidak hanya imigrasi dari Mekah ke Madinah, tetapi hijrah adalah sebuah upaya membangun peradaban baru. Peradaban yang jauh berbeda dengan tradisi Jahiliyah yang menjadi prinsip masyarakat kebanyakan waktu itu. Berbagai kejayaan, kemenangan yang kemudian diraih oleh kaum muslimin, semuanya berawal dari hijrah, karena hijrah bukanlah akhir dakwah beliau di Mekah,
Tetapi awal dakwah dan kunci kesuksesan dakwah Nabi saw. “Hijrah adalah pemisah antara hak dan batil,” tegas Khalifah Umar dalam dekrit penetapan tahun hijriah. Walaupun bulan pertama dalam kalender Islam adalah Muharram, tapi mulai berangkat Nabi hijrah terjadi pada 27 Shafar hingga Rasulullah sampai di Quba’ pada Senin, 8 Rabi’ul Awal dan masuk ke Madinah pada 12 Rabiul Awal/27 September 622 M. (al-Mubarakfury, al-Rahiq al-Makhtum). Muharram ditetapkan sebagai awal tahun hijri berdasarkan pandangan mereka bahwa pada bulan Muharram, jamaah haji pulang ke kampung halamannya untuk memulai “hidup baru” sebagai orang yang telah melaksanakan ibadah haji.
Hijrah juga merupakan kelanjutan tradisi para Rasul ketika mereka berdakwah. Nabi Ibrahim as. melakukan hijrah ke Palestina setelah lama berdakwah di Kan’an. Nabi Musa, sebelum diangkat menjadi Rasul sudah hijrah dari Mesir ke Madyan. Setelah menjadi Rasul beliau hijrah dari Mesir ke Palestina menyeberangi laut merah.
Hijrah para Rasul itu mempunyai makna penting bagi keberhasilan dakwah mereka. Hijrah Nabi Musa ke Madyan mempunyai kesamaan dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam hijrahnya ke Madinah. Sebagaimana yang terindikasi dalam sabda beliau sekembalinya dari Tha’if, “Ingatlah wahai golongan Quraisy! Demi Allah, tidak lama lagi kalian akan masuk pada agama yang kalian ingkari ini”. Ada indikasi bahwa hijrah bagi beliau mempunyai makna strategi mensolidkan lini demi lini perjuangan. Terbukti, perjuangan beliau untuk meng-Islamkan penduduk Mekah, semuanya dikoordinir dari Madinah.
Begitu pula Musa as, di Madyan beliau menempa diri bersama keluarga Nabi Syuaib untuk kemudian kembali ke Mesir memberantas kekufuran, melawan kesewenang-wenangan dan penindasan rezim tiranik Fir’aun kepada Bani Israil.
Melihat kaitan yang amat erat antara hijrah dan dakwah dalam sejarah para Rasul ini, bisa ditarik sebuah kesimpulan historik bahwa hijrah merupakan sebuah kelaziman dalam perjuangan menegakkan kebenaran. Pada lingkup ini, kita bisa mencermati sebuah titik korelatif antara hijrah dan strategi dakwah. Titik korelatif ini dapat dijumpai dengan mudah dalam berbagai perjalanan dakwah Islam dari masa ke masa.
Hal yang sama dapat pula kita temukan dalam kiprah dakwah pesantren. Telah maklum, pesantren adalah tempat hijrah —sebagaimana terbersit dalam sajak-sajak A. Hidayatullah, “Sidogiri Mahjari”. Maksud “tempat hijrah” dalam konteks pesantren di sini tak jauh dengan kawah candradimuka dalam konteks pewayangan. Artinya, penempaan diri di pesantren tidak didasarkan untuk kemajuan lembaga secara internal, tapi lebih mempunyai orientasi kebutuhan masyarakat secara eksternal.
Pengertian ini sesuai dengan visi pesantren sebagai `produsen’ kader-kader agamawan yang dipersiapkan untuk bersinggungan dengan problematika sosial masyarakat di waktu itu.
******
Di tahun baru hijriyah 1429 ini marilah kita jadikan momentum untuk kembali mengingat dan mengenang peristiwa yang sangat agung itu, sejarah besar yang akan selalu dikenang oleh seluruh umat Islam di muka bumi.
Meninggalkan kampung halaman, sanak famili dan keluarga menuju sebuah daerah yang belum pernah dikenalnya di bawah kejaran musuh tentu bukan hal ringan. Perjuangan dan pengorbanan para Sahabat patut kita jadikan sebagai pegangan hidup kita dalam menjalankan tugas dakwah islamiyah. Sayyidina Ali ra. dengan ikhlas menempati tempat tidur Nabi yang beresiko besar. Nyawa taruhannya!
Hijrah adalah awal keberhasilan sebuah dakwah, kunci pembuka cahaya keislaman dan keimanan. Para Rasul mulai menuai hasil dalam dakwahnya setelah mereka hijrah. Imam Syafi’i ra dalam sebuah sya’irnya berkata, “Emas tidak akan menjadi emas kalau tidak dikeluarkan dari tanah”. Hijrah mempunyai arti yang sangat besar. Menyakitkan memang. Meninggalkan kampung halaman, sanak famili dan keluarga demi terciptanya kehidupan yang mulia dengan nur keimanan.
Sebagaimana orang biasa, nabi Muhammad saw sangat mencintai tanah kelahirannya, tanah ait dan tanah tumpah darahnya. Walaupun selama berdakwah, beliau hanya menerima siksaan dan hinaan dari kaum kuffar Mekah, sehingga diperintah untuk hijrah ke Madinah sudah siap menanti datangnya cahaya Islam, tapi hal ini sama sekali tidak mempengaruhi rasa cintanya terhadap Mekah. Karena pada saatnya nanti, Mekah akan menjadi sentral agama Islam. Suasana perpisahan yang mengharukan terekam dari “salam perpisahannya” ketika berangkat hijrah. Seraya memandang Mekah, beliau berkata, “Demi Allah! Engkau (Mekah) adalah bumi Allah yang paling aku cintai. Demi Allah! Engkau adalah bumi Allah yang paling dicintai oleh Allah. Andaikan pendudukmu tidak mengusir aku, niscaya aku tidak akan pergi meninggalkanmu”.
Kini, sinar hijri telah diambang fajar. Ketabahan dan kesabaran nabi ketika meninggalkan kota Mekah di bawah kejaran orang-orang kafir, kesetiaan para sahabat dalam membela dan membantu perjalanan beliau serta sambutan histeris kaum Anshar ketika nabi tiba di Mekah dengan membawa dakwah Islam kembali menjelma di relung ingatan kita. Kesetiaan Imam Ali ra. ketika diperintah menempati tempat tidur nabi yang taruhannya adalah nyawa, pengorbanan dan ketulusan Abu Bakar beserta putra-putrinya mengawal perjalanan beliau keluar dari cengkraman kaum kuffar tidak akan terlupakan selamanya.
Kita hanya bisa meneteskan air mata haru mengenang peristiswa agung itu, tanpa ada gugahan hati untuk terus melanjutkan dan melestarikan hasil perjuangan mulia mereka. Akankah sejarah besar itu menjadi lagenda seiring hilangnya ghirah islamiyah kita yang dulu sangat rekat mewarnai perjalanan hidup mereka?
Reff:
Sidogiri dot Com












)..




Sholat dimulai selepas sholat maghrib, dan setelah sholat khusuf dilanjut dengan khotbah gerhana. Dalam khotbahnya ustadz Budi menyampaikan pesan, bahwa Gerhana adalah kejadian alami dan biasa serta selalu diulang di alam ini. Allah maha menentukan apapun, kalau memang cahaya bulanmau dihilangkan sekalipun, cahaya matahari dihilangkan sejalipun, Allah pasti mamapu.
Malam itu pula acara rutin di PPMI Assalaam adalah pengajian rutin pegawai. Malam ini pembicara adlah Ustadz Sobari, pakar Falak Muhammadiyah Solo. Dalam ceramahnya, beliau menjelaskan bahwa Gerhana di era dulu, dijadikan tradisi yang membuat ilmu mati. Sebagai misal, bagi ibu hamil, makak bila ada Gerhana, dia harus mandi lalu menginjak abu, lalu masuk ke bawah kolong tempat tidur. Aneh…. itu jaman dulu.







