Pakar : Berawal dari Niat

April 5, 2008

Definisi ‘Hari’ dalam Islam

Filed under: Astronomy, Kajian

Selama ini kita terbiasa dengan hal-hal rutin. Maka kita menjadi asing dan sering tidak mau mengikuti kepada sesuatu yang baru…

Dulu, para nabi juga sering menemukan karakter ummat yang semisal ini, ketika diajak untuk menyembah Allah dan meninggalkan sesembahan yang selama ini mereka lakukan (berhala dan sejenisnya-selain Allah SWT) kebanyakan mereka mengatakan,

‘Kami melakukan apa yang selama ini telah dilakukan olek nenek moyang kami…’.

Dimana letak persamaannya, mari kita lihat kali ini dalam konteks definisi ‘hari’ (penyebutan waktu-hari).

Kita sering mangatakan, istilah malam Sabtu sebagai ungkapan untuk waktu antara maghrib-shubuh pada hari Jum’at.

Kita juga sering dan biasa sekali ..manyatakan malam Ahad atau malam Minggu sebagai ungkapan rentang waktu pada hari Sabtu jam 6 petang hingga menjelang pagi.

Seiring dengan ini adalah ungkapan malam Tahun Baru, dan seterusnya…

Definisi di atas sangat tidak konsisten dengan Islam sebagai Dien yang diturunkan oleh Sang Pencipta waktu itu sendiri. Sejak kholifah Umar bin Khottob menetapkan bahwa sistem waktu pada penanggalan Islam menggunakan sistem lunar atau bulan yang biasa kita sebut sebagai Kalender Hijriyah, maka konsep di atas harus juga mengikuti.

Bagi yang sudah terbiasa sangat sulit melakukannya, dan ini perjuangan berat. Boleh dikata ini sepertinya sangat sulit jikalau tidak boleh dikatakan mustahil…

Ambil saja misal, kita bejanji kepada rekan untuk bertemu pada hari Kamis jam 8 malam. Maka yang kita katakan adalah ,’Kita akan bertemu pada malam Jum’at jam 8′.

Kita tidak akan mengatakan,’Kita akan bertemu pada Jum’at malam jam 8′. Kalau ini yang kita katakan, maka bisa dipastikan pertemuan ini akan gagal. Karena kita tiba Kamis jam 8 malam, namun dia tiba Jum’at jam 8 malam.

Mengapa ini bisa terjadi…?

Pertanyaan ini serupa dengan apa yang terjadi pada ‘paradoks kembar’nya teori Relativitas Einstein. Mana mungkin usia dua orang bisa berbeda sedemikian jauh hanya karena sekedar perbedaan kecepatan geraknya…?

Penjelasannya sebagai berikut: 

1. Hari, dalam Islam dimulai pada saat matahari terbenam. Artinya penghitungan waktu juga dimulai saat matahari terbenam atau saat adzan maghrib berkumandang, di manapun posisi di muka bumi ini (kecuali pada ekstrim area). Penghitungan waktu akan berakhir pada saat matahari terbenam di hari berikutnya, inilah satu hari.

2. Hari Ahad, dimulai saat matahari terbenam pada hari Sabtunya. Hari Senin dimulai pada saat matahari terbenam hari Ahadnya, begitu seterusnya.

3. Kalau hari Ahad sudah masuk alias matahari terbenam pada Sabtu petang, maka hari itu adalah hari Ahad petang, lalu Ahad malam, lalu Ahad pagi, lalu Ahad siang, lalu Ahad sore, dan Ahad petang. Setalh itu baru masuk hari berikutnya, Senin.

4. Maka, definisi hari menurut Islam adalah:

- Ahad malam bagi penyebutan malam Ahad,

- Ahad malam dan bukan malam Ahad,

- Sabtu malam bagi penyebutan malam Sabtu, 

- Sabtu malam dan bukan malam Sabtu,

 

dan seterusnya… 

Wallahu a’lamu… 

February 6, 2008

Tahun Hijriah: ”Monumen” Ambruknya Tirani

Pada suatu hari, sahabat Abu Musa al-Asy’ari menulis surat kepada khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengeluh bahwa surat khalifah yang dikirim kepadanya tidak bisa dibeda­kan mana yang awal dan yang terakhir, karena tidak ada tanggalnya. Untuk menindak­lanjuti keluhan ini, khalifah mengumpulkan para sahabat untuk membahas perihal di atas. Mereka kemudian sepa­kat untuk membuat kalender Islam.

Semula banyak pendapat mengenai standar permulaan tahun Islam. Ada yang berpendapat tahun pertama dihitung dari kelahiran nabi saw. Ada yang mengusulkan dimulai dari tahun diutusnya nabi, dan masih banyak usulan lainnya. Namun akhirnya, mereka sepakat untuk men­jadikan peristiwa hijrah sebagai patokan permulaan kalender kaum muslimin. “Ta’rikh (Kalender) itu dimulai sejak Nabi meninggalkan tempat musyrik menuju tempat yang penuh dengan keimanan,” usul s. Ali ra. Usulan ini akhirnya disepakati oleh para sahabat yang hadir pada waktu itu.

Karenanya, sistem kalender yang kemudian menjadi kalender terbesar kedua di dunia setelah kalender masehi ini, ditetapkan oleh khalifah Umar sebagai kalender resmi Islam, pada Rabu 20 Jumadal Akhi­rah 17 tahun setelah hijrahnya Rasul.

Hijrah tidak hanya imigrasi dari Mekah ke Madinah, tetapi hijrah adalah sebuah upaya membangun peradaban baru. Peradaban yang jauh berbeda dengan tradisi Jahiliyah yang menjadi prinsip masyarakat kebanyakan waktu itu. Berbagai kejayaan, kemenangan yang kemudian diraih oleh kaum muslimin, semuanya berawal dari hijrah, karena hijrah bukanlah akhir dakwah beliau di Mekah,

Tetapi awal dakwah dan kunci kesuksesan dakwah Nabi saw. “Hijrah adalah pemisah antara hak dan batil,” tegas Khalifah Umar dalam dekrit penetapan tahun hijriah. Walaupun bulan pertama dalam kalender Islam adalah Muharram, tapi mulai berangkat Nabi hijrah terjadi pada 27 Shafar hingga Rasulullah sampai di Quba’ pada Senin, 8 Rabi’ul Awal dan masuk ke Madinah pada 12 Rabiul Awal/27 September 622 M. (al-Mubarakfury, al-Rahiq al-Makhtum). Muharram ditetapkan sebagai awal tahun hijri berdasarkan pandangan mereka bahwa pada bulan Muharram, jamaah haji pulang ke kampung halamannya untuk memulai “hidup baru” sebagai orang yang telah melaksanakan ibadah haji.

Hijrah juga merupakan kelanjutan tradisi para Rasul ketika mereka berdakwah. Nabi Ibrahim as. melakukan hijrah ke Palestina setelah lama berdakwah di Kan’an. Nabi Musa, sebelum diangkat menjadi Rasul sudah hijrah dari Mesir ke Madyan. Setelah menjadi Rasul beliau hijrah dari Mesir ke Palestina menyeberangi laut merah.

Hijrah para Rasul itu mempunyai makna penting bagi keberhasilan dakwah mereka. Hijrah Nabi Musa ke Madyan mempunyai kesamaan dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam hijrahnya ke Madinah. Sebagaimana yang terindikasi dalam sabda beliau sekemba­linya dari Tha’if, “Ingatlah wahai golongan Quraisy! Demi Allah, tidak lama lagi kalian akan masuk pada agama yang kalian ingkari ini”. Ada indikasi bahwa hijrah bagi beliau mempunyai makna strategi mensolidkan lini demi lini perjuangan. Terbukti, per­juangan beliau untuk meng-Islamkan penduduk Mekah, semuanya dikoordinir dari Madinah.

Begitu pula Musa as, di Madyan beliau menempa diri bersama keluarga Nabi Syuaib untuk kemudian kembali ke Mesir memberantas kekufuran, melawan kesewenang-wenangan dan penindas­an rezim tira­nik Fir’aun kepada Bani Israil.

Melihat kaitan yang amat erat antara hijrah dan dakwah dalam sejarah para Rasul ini, bisa ditarik sebuah kesimpulan historik bahwa hijrah merupa­kan sebuah kelaziman dalam perjuangan mene­gak­­kan kebenaran. Pada lingkup ini, kita bisa mencermati sebuah titik korelatif antara hijrah dan strategi dakwah. Titik korelatif ini dapat dijumpai dengan mudah dalam berbagai perjala­nan dakwah Islam dari masa ke masa.

Hal yang sama dapat pula kita temukan dalam kiprah dakwah pesan­tren. Telah maklum, pesan­tren adalah tempat hijrah —sebagai­mana terbersit dalam sajak-sajak A. Hidayatullah, “Sidogiri Mahjari”. Maksud “tempat hijrah” dalam konteks pesantren di sini tak jauh dengan kawah candra­dimuka dalam konteks pewayangan. Artinya, penempaan diri di pesantren tidak didasarkan untuk kemajuan lembaga secara internal, tapi lebih mempunyai orientasi kebutuhan masyarakat secara eksternal.
Pengertian ini sesuai dengan visi pesantren sebagai `produsen’ kader-kader agamawan yang dipersiap­kan untuk bersing­gungan dengan problematika sosial masyarakat di waktu itu.

******

Di tahun baru hijriyah 1429 ini marilah kita jadikan momentum untuk kembali mengingat dan mengenang peristiwa yang sangat agung itu, sejarah besar yang akan selalu dikenang oleh seluruh umat Islam di muka bumi.

Meninggalkan kampung halaman, sanak famili dan keluarga menuju sebuah daerah yang belum pernah dikenalnya di bawah kejaran musuh tentu bukan hal ringan. Perjuangan dan pengorbanan para Sahabat patut kita jadikan sebagai pegangan hidup kita dalam menjalankan tugas dakwah islamiyah. Sayyidina Ali ra. dengan ikhlas menempati tempat tidur Nabi yang beresiko besar. Nyawa taruhannya!

Hijrah adalah awal keberhasilan sebuah dakwah, kunci pembuka cahaya keislaman dan keimanan. Para Rasul mulai menuai hasil dalam dakwahnya setelah mereka hijrah. Imam Syafi’i ra dalam sebuah sya’irnya berkata, “Emas tidak akan menjadi emas kalau tidak dikeluarkan dari tanah”. Hijrah mempunyai arti yang sangat besar. Menyakitkan memang. Meninggalkan kampung halaman, sanak famili dan keluarga demi terciptanya kehidupan yang mulia dengan nur keimanan.

Sebagaimana orang biasa, nabi Muhammad saw sangat mencintai tanah kelahirannya, tanah ait dan tanah tumpah darahnya. Walau­pun selama berdakwah, beliau hanya menerima siksaan dan hinaan dari kaum kuffar Mekah, sehingga diperintah untuk hijrah ke Madi­nah sudah siap menanti datangnya cahaya Islam, tapi hal ini sama sekali tidak mempengaruhi rasa cintanya terhadap Mekah. Karena pada saatnya nanti, Mekah akan menjadi sentral agama Islam. Suasa­na perpisahan yang mengharukan terekam dari “salam perpi­sahan­nya” ketika berangkat hijrah. Seraya memandang Mekah, beliau berkata, “Demi Allah! Engkau (Mekah) adalah bumi Allah yang paling aku cintai. Demi Allah! Engkau adalah bumi Allah yang paling dicintai oleh Allah. Andaikan pendudukmu tidak mengusir aku, niscaya aku tidak akan pergi meninggalkanmu”.

Kini, sinar hijri telah diambang fajar. Ketabah­an dan kesabaran nabi ketika meninggalkan kota Mekah di bawah kejaran orang-orang kafir, kesetiaan para sahabat dalam membela dan membantu perjala­nan beliau serta sambutan histeris kaum Anshar ketika nabi tiba di Mekah dengan membawa dakwah Islam kembali menjel­ma di relung ingatan kita. Kesetiaan Imam Ali ra. ketika diperintah menempati tempat tidur nabi yang taruhannya adalah nyawa, pengorbanan dan ketulusan Abu Bakar beserta putra-putrinya mengawal perjalanan beliau keluar dari cengkram­an kaum kuffar tidak akan terlupakan selamanya.

Kita hanya bisa meneteskan air mata haru mengenang peristiswa agung itu, tanpa ada gugahan hati untuk terus melanjutkan dan mele­starikan hasil perjuangan mulia mereka. Akankah sejarah besar itu menjadi lagenda seiring hilangnya ghirah islamiyah kita yang dulu sangat rekat mewarnai perjalanan hidup mereka?

Reff:
Sidogiri dot Com

January 10, 2008

31 DzulHijjah 1428 H..?

Filed under: Astronomy, Kajian, Tadzkiroh

Yup, ini benar2 terjadi. Rabu, 9 Januari 2008 M = 31 Dzul Hijjah 1428 H

Kok bisa..?

Data berikut saya ambil dari web RHI, kapan Saudi memasuki tgl 1 Muharram 1429 H..?

Menggunakan Kriteria Rukyat Saudi, tgl 1 Muharram 1429 H akan jatuh pada:

Rabu, 9 Januari 2008.

Karena sesuai keputusan Saudi kemarin 1 Dzul Hijjah 1428 H = 10 Des 2008, maka 29 Dzul Hijjah 1428 H nya jatuh pada Senin 7 Jan 2008, sehingga:

Rukyat Saudi à Senin, 7 Januari 2008 (29 Zulhijjah 1428 H)

Data Hisab Hilal di Saudi:

Ijtimak : 15:38 LT  -  Sunset: 17:53 LT -  Moonset: 16:55 LT  -  Moon Alt.  - 12°20′)

Lebih detail, klik link berikut: Dzul Hijjah 31 hari

Jadi benar khan, ada tgl 31 Dzul Hijjah 1428 H..?

Wa Allahu a’lamu bish showwaab…

Sabit Awal tahun 1429 H

Filed under: Astronomy, Islam, Fotografi

Hilal 1 Muharram 1429 H adalah penanda bagi dimulainya bulan pertama sekaligus tahun 1429 H dalam kelander Islam.

Saya merasa bahagia manakala berhasil melihat Hilal Awal Tahun 1429 H ini. Maka saya siapkan sebuah binokuler, sebuah Digital Camera dan sebuah Digital Camera dengan digital Zooming. Hilal seperti apa sih? Berikut Hilal1 Muharram 1429 H, yang berhasil diabadikan oleh Koord. JAC di Pantai Parangkusumo Jogjakarta, Rabu 9 Januari 2008 jam 6 sore lewat 27 menit.

More...

hilal_muh29_jac.jpg

Ini hasil karya Pak Toha MMC dari RHI Yogyakarta-JAC

Rabu 9 Januari 2008 saat sunset atau matahari terbenam merupakan saat pelaksanaan rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Muharram 1429 Hijriyah. Di tempat saya, Bendo Ketitang Juwiring Klaten - Jawa Tengah, saya mencoba memburu hilal awal tahu 1429 Hijriyah ini.

Rukyah tidak dilaksanakan pada hari pertama terjadinya ijtimak: Selasa, (8/1) karena posisi hilal di lokasi ini menurut kalkulasi program Starrynight Pro Plus 6, masih di bawah ufuk yaitu minus 1°7′ sehingga mustahil dilakukan rukyat. 

Sementara pada H+1 ijtimak yakni Rabu (9/1) posisi hilal cukup tinggi yaitu 9° 50′ saat matahari terbenam. Observasi saya lakukan sendiri di belakangrumah, namun sampai berkumandang iqomah masjid, kondisi horizon barat tertutup awan tebal, bahkan sampai bulan terbenam berdasar hisab SNPP 6 Hilal 1 Muharram 1429 H Tidak terlihat juga.

Semoga bulan depan berhasil melihat…

Berikut gambar saat matahari beberapa menit setelah terbenam:

1muh1429h_pakarfisika.jpg

Hilal Akhir Tahun 1428 H

Filed under: Astronomy, Fotografi

Saya melakukan pengamatan Hilal Tua atau Waning Crescent (old crescent) bulan Dzul Hijjah 1428 H sebagai sabit terakhir di tahun 1428 H ini di lokasi:

Dusun Bendo desa Ketitang kecamatan Juwiring kabupaten Klaten propinsi Jawa Tengah - Indonesia dengan koordinat : Lat: 7 41 39.17 lintang selatan, Long: 110 44 20.64 bujur timur, elong: 98 m dpl, zona GMT+7.

Pengamatan saya lakukan selepas sholat shubuh, dan berakhir menjelang sunrise. Waktu pengamatan selama tiga hari, yakni dari hari Sabtu - Senin (5-7 Jan 2008).

Gambar berikut adalah hilal tua Dzul Hijjah 1428 H yang tampak di Klaten pada Senin, 7 Januari 2008:

waning_hej_1428.jpg

Gambar diambil dengan kamera JVC Camcorder 2 MP dengan setting fokus lensa manual dan lampu blitz off-light.

Selamat jalan bulan haji 1428 H, selamat jalan bulan qurban 1428 H, dan selamat jalan tahun 1428 H. Inna Allah ma’anaa…

January 5, 2008

Nonton Bumi dari Langit

Filed under: Astronomy, Software

Tgl 22 Des posisi Bumi agak istimewa karena Matahari akan terbit dan tenggelam pada ujung paling selatan selama goyangannya. Matahari selalu bergoyang atau berzig-zag dan pada tgl 22 Des 2007 saat solar noon atau pada posisi matahari tepat di atas titik zenith adalah sebagai berikut:

1. Menggunakan StarryNight Pro 6.

Setting pengamatan dari ketinggian 12.756 km di atas permukaan Bumi. Jam pengamatan pada 11:35 AM WIB. Dan gambar nya sebagai berikut:

bumi_dari_12756.jpg

 Untuk pembesaran, silahkan klik gambar di atas

More...

2. Menggunakan Simulator Tata Surya.

Kalau tidak ada software di atas, maka secara online NASA menyediakan layanan untuk melihat-lihat objek di Tata Surya lewat Simulator Tata Suryanya. Caranya kunjungi alamat ini:

http://space.jpl.nasa.gov

Kalau sudah berhasil masuk, maka akan tampil berikut.

simulator_tatasurya_pakarfisika.jpg 

Lalu silahkan masukkan data yang ingin dilihat dan atur posisi serta waktu. Sebagai misal gambat berikut adalah Bumi dilihat dari Matahari pada 22 Des 2007 jam 00:00 GMT atau selisih beberapa jam dari  waktu di atas yang menggunakan SNP 6. Dari gambar tampak jelas bahwa kepulauan Indonesia memang langsung berhadapan dengan matahari. Makanya banjir dan tanah lonsor sering terjadi… (?)

bumi_dari_sun.jpg

Gambar aslinya di [link ini]:

Selamat mencoba…

November 16, 2007

Setahun M = 3 tahun H

Filed under: Astronomy, Islam

Kalau kita jeli, terutama saat mengamati kalender yang akan datang yakni tahun 2008 masehi, maka kita akan mendapati sesuatu yang unik. Kita lihat bulan Januari 2008, pada tanggal 1-9 Januari 2008 masih masuk bulan Dzul Hijjah tahun 1428 hijriyah. Selanjutnya pada tanggal 10 Januari 2008 M adalah tanggal 1 Muharram 1429 H. Kebetulan tapi ini pasti sudah Taqdir Ilaahi, bahwa secara Hisab dan Rukyah, pergantian tahun ini tidak akan mengalami perbedaan. Kalau tetap beda ya…saya nggak bisa mbayangin, masak tahun baru ada empat kali…he he. Kok bisa tahu kalau akan serempak dan tidak ada selisih..? 1. Secara umum, kalau bulan selain Ramadhan dan Syawwal serta Dzul Hijjah, 

tidak ada aktifitas ibadah mahdloh yang memerlukan metode Rukyah maupun Hisab dalam penentuan awal bulan. 2. Dari perhitungan, didapatkan bahwa altitude/irtifaa’/ketinggian Hilal pada hari pertama Rukyah/Hisab yakni tanggal 29 bulan Dzul Hijjah masih negatif. Jadi yaa .. versi Hisab belum masuk tahun baru, sedang versi Rukyahistikmal untuk masuh tahun baru. (more…)

November 13, 2007

Software Astronomi

Filed under: Astronomy, Software

Apa ya… software Astronomi yang paling OK?

Sebagai orang yang punya hobi melihat2 bintang dan benda2 lainnya di angkasa, maka hadirnya software astronomi merupakan sebuah kebahagian. Bahagia karena ketika hobi tidak bisa tersalurkan, apalagi musim hujan kayak gini… kondisi langit kurang (maaf) bersahabat - kata orang2; maka peluang melongok langit tetap bisa kita lakukan kendati hujan sangat deras bahkan dicampur angin sekalipun.

Dalam milis Astronomi Indonesia, tema software astronomi ini sempat mencuat belakangan ini dan, ratingnya cukup tinggi.

Kurang lebih berikut diskusi maya di milis Astronomi Indonesia, perihal software astronomi:

More...

Re: [astronomi_indonesia] Software Astronomi Paling OK
ga bisa terlalu disalahkan jg sih secara emang Jakarta posisinya agak nanggung, jadi mgkin mereka berasumsi beda waktunya 7,5 jam. mgkin mereka nyangka

Indonesia mirip India (kalo ga salah India yah yg pake beda waktu 1/2 jam?)
—– Original Message —-
From: Ichwan Depok <ichwandepok@…>
To: astronomi_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Thursday, November 1, 2007 5:01:26 PM
Subject: Re: [astronomi_indonesia] Software Astronomi Paling OK

Ternyata betul, untuk Jakarta ternyata default dari
Skymap-nya diset 450 menit dari GMT.
Setelah saya rubah jadi 420 menit hasilnya sudah oke.
:)

rgrds.
–ternyata tim database skymap kurang gaul ya–

— Adi Nugroho <steveadinegoro@…> wrote:

> kemungkinannya adalah sbb:
> - SkyMap itu mesti bener2 set manual semuanya, nah
> beda waktu sama GMTnya mgkin diset 7,5 jam (450
> menit) harusnya kan 7 jam (420 menit) atau malah
> sebaliknya CyberMap yg salah set waktu (belum pernah
> pake soale jd ga bisa komentar)
>
>
> -adi-
>
>
> —– Original Message —-
> From: Ichwan Depok <ichwandepok@…>
> To: astronomi_indonesia@yahoogroups.com
> Sent: Wednesday, October 31, 2007 3:44:25 PM
> Subject: Re: [astronomi_indonesia] Software
> Astronomi Paling OK
>
> Mumpung lagi bicara Skymap, sekalian mau tanya nih.
> Saya pake skymap kok waktunya gak akurat ya. Sebagai
> contoh, untuk lokasi Jakarta tanggal 31 Okt 2007,
> data
> Skymap menunjukkan matahari terbit jam 5.57 dan
> terbenam jam 18.16.
> Sementara data Cybermap menunjukkan matahari terbit
> jam 5.27 dan terbenam jam 17.46.
> Ada yg tau penyebabnya kenapa ?
>
> rgrds.
>
>
>
>
> — Tri Laksmana <trilaksmana@…> wrote:
>
> > Stellarium memang oke untuk tampilannya. KStar
> belum
> > pernah mencoba. Dulu
> > banget saya sering pakai Skymap
> > (http://www.skymap.com/) karena enteng.
> > Tampilannya sih memang biasa2 saja, malah rada2
> > membosankan. Tapi kelebihan
> > skymap adalah kemampuannya untuk meng-generate
> > ephemeris alias koordinat
> > gerak benda langit dari waktu ke waktu. Cukup
> akurat
> > dan bersaing dengan
> > yang diterbitkan di Astronomical Almanac. Dulu
> > koordinatnya sering saya
> > pakai untuk bikin tugas kuliah, hehehehe… (atau
> > buat bikin jadwal
> > pengamatan dan ngeliat kapan sunset dan sunrise,
> > moonset dan moonrise)
> >
> > salam,
> >
> > -tri-

Demikian sebagian dari diskusi seputar software astronomi, yang obrolan ini semula diawali oleh Mas Yanu Widodo pada 22 Okt 2007:

  3124

<!– document.writeln("Software Astronomi Paling OK"); // –>Software Astronomi Paling OK
Dear rekan, PC saya pentium 3, 512. OS-nya linux ubuntu feisty. 3 atau 4 hari yg lalu, dengan apt-get, saya iseng2 install KStar. Lumayan ringan. Aplikasi yg…

Yanu Widodo
cakwid99
Offline Send Email Invite to Yahoo! 360°
Oct 22, 2007
6:01 am

Terlepas dari diskusi temen2 di milis Astronomi Indonesia, saya punya koleksi yang sangat saya "syukuri", karena software ini memiliki kemampuan luar biasa. Saya terus mengagumi setiap membukanya.

Software ini sudah umum dirilis oleh temen di RHI atau komunitas Astronomi lainnya, yakni Starrynight. Semula saya dikasih senior saya Pak Toha MMC, akhirnya saya dikirimi temen versi terbaru. Memang ada software astronomi yang lain dan beragam kemampuannya. Bagi yang berminat beberapa dapat di baca [di link ini].

September 18, 2007

Menentukan Awal-Akhir Ramadhan

Filed under: Astronomy, Kajian

Dari Pengajian Malam Rabu di PPMI Assalaam, KH. M. Chozin Shiddiq, menjelaskan cara menentukan awal dan akhir Ramadhan berdasarkan dalil Qur’an dan Sunnah. Berikut petikan materi pengajian beliau…

1.      Telah menjadi keyakinan kita bahwa agama Islam sudah sempurna, Muhammad Rosulullah SAW telah menyampaikan seluruh Risalah Allah SWT, hal ini telah disaksikan oleh para sahabat, serta generasi yang datang berikutnya. Kewajiban kita umat Islam menerima seluruh ajaran Islam tersebut secara utuh dan konsekuen, artinya tidak perlu ditambah, dikurangi, serta dilarang mengikuti subul (jalan-jalan) selain yang telah digariskan oleh beliau, karena pasti akan menyebabkan perselisihan dan perpecahan. (Qs: 59. 7) (Qs. 6 : 153)

2.      Dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan Rosul SAW dengan tegas dan jelas memberikan pelajaran kepada kita umat Islam secara mudah dapat dikerjakan oleh semua orang, inilah ciri khas ajaran Islam, hal ini telah diamalkan/dipraktekkan Rosulullah SAW, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’it –Tabi’in, sampai pada para Imam yang empat  serta para salafus sholih  dan ulama-ulama yang benar benar konsekwen mengikuti sunah Rosulullah SAW. Yaitu bahwa awal dan akhir  Ramadhan ditentukan oleh “RU’YATUL HILAL”  tidak dengan cara-cara lain hasil dari rekayasa manusia. Hilal dianggap sebagai pertanda awal bulan jika telah terlihat dan diberitahukan kepada pihak lain, bukan dalam hitungan (hisab).

3.      Marilah kita perhatikan ayat-ayat al-Qur’an dan Hadist shohih berikut yang menunjukkan penentuan awal dan akhir Ramadhan dengan cara “Ru’yah”  seperti yang dicontohkan Rosulullah SAW :

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit (hilal). Katakanlah: “Bulan sabit (hilal) itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji…… (QS. 2 : 189)

Maka barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa…. (QS : 2 : 185)

Sesungguhnya bilangan bulan (Qamariyah) pada sisi Allah adalah dua belas bulan, …. (QS. 2 : 36)

Diriwayatkan dari Abdullah Bin Umar, RA beliau berkata :  “ Aku mendengar Rosulullah SAW bersabda : “ jika kalian melihatnya (Hilal Ramadhan) maka berpuasalah. Dan jika kalian telah melihatnya (hilal syawal)  maka berbukalah namun jika kalian terhalang melihatnya (mendung dll) maka tentukanlah bulan tersebut” (Mutafaq ’alaih).-         

Dan dalam Riwayat Muslim : “ …namun jika kalian terhalang melihatnya, maka tentukanlah bulanya 30 hari”.-         

Dan juga menurut muslim, dari hadist Abu Hurairah RA “ …… maka berpuasalah kalian 30 hari “-         

Dalam redaksi lain “  ……. maka genapkanlah bilangan (harinya).”-         

Dalam lafadz Lain , “ …… maka hitunglah menjadi 30 hari …“. -         

Dan dalam Riwayat Bukhary, : .. maka sempurnakanlah bilangannya menjadi 30 hari … “ -         

Dan juga menurut Riwayat al-Bukhary, dari hadist Abu Hurairah Ra, “ …maka genapkanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari.”(Shahih Muslim, II/122/124) (Shahih Bukhori, II/229/249)-         

Dan masih banyak lagi hadist-hadist senada dalam Kitab-kitab Sunan (Kutubus Sittah)

4.      Memang ada cara lain dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan yaitu dengan “HISAB” dengan perhitungan astronomi. Namun kalau diperhatikan benar-benar alasan/dalil yang dijadikan landasan kurang pas. Disamping itu jelas menyalahi sunnah Rosulullah SAW.     

Diantara dalil yang djadikan rujukan antara lain :

a). Q.S. Yunus : 5…Ayat ini sama sekali tidak menunjukan  tentang bulan Ramadhan, tetapi  menjelaskan fungsi manzilah-manzilah bulan dalam mengetahui hitungan tahun dan perhitungan waktu.

b. Juga QS ; Al Isro’ : 12.   Ayat ini pun tidak  ada kaitannya dengan Ramadhan, sifatnya umum.      

c. Juga  Hadist : “… وَاقْدُرُوْا لَهُ … “Bukan menunjukkan cara hisab, tetapi hadist ini telah dijelaskan sendiri oleh Rosulullah SAW dalam hadist berikutnya (seperti yang ditulis hadist diatas).

d)   Ada lagi alasan bahwa umat Islam saat itu “Ummi” tidak bisa  baca tulis. Hal ini juga tidak ada kaitannya dengan Ramadhan, atau bahkan “Hisab” Mafhum mukholafah tidak bisa dijadikan Illah dalam penentuan hukum.

e) Alasan-alasan lain juga sama sekali tidak menunjukkan secara tegas, “ Hisab” untuk menentukan awal dan akhir Ramadhan.

Belum lagi hisab aliran mana yang harus dipakai, karena di Indonesia saja ada berbagai aliran hisab yang masing-masing hasil perhitungannya bisa berbeda-beda, karena kitab rujukannya berbeda-beda. Ada ± 15 Macam kitab ilmu hisab sebagai rujukan dengan berbagai macam aliran, yaitu antar lain :

1).      ALiran Hisab ”Taghribi” dengan kitab-kitabnya antara lain :
o        Sullamun Nayyiraini
o        Tadzkiratul Ikhwan
o        Fathur Rauf  Fil Manan
o        Risalatul Qomaroini

2).      Aliran Hisab Tahqiqy, dengan kitab-kitabnya antara lain :
o        Manahiyul  Nataijul Aqwal
o        Khulashah Wafiyah
o        Badi’atul Misal

3).      Aliran Kontemporer dari kitabnya :
o        New Comb
o        Jean Meuus
o        Ephemeris

4).      Al Manak Menara Kudus- KH. Tajus Syaraf

5).      Team Lajnah Falaqiyah PBNU

6).      Team Hisab Majlis Tarjih Muhammadiyah

7).      Almanak Taqwim Pendidikan Agama

8).      Hisab dari Pondok Pesantren Salafiyah- Seperti : PP. Jampes, PP Lirboyo, dll.

 

5.   Ilmu Hisab bisa dipakai sebagai pendukung Ru’yah, membantu menentukan “Hilal” bukan sebagai penentu awal dan akhir Ramadhan, jika dijadikan penentu, berarti mengganti kedudukan Ru’yah. Hal ini sama dengan mengganti ketentuan Syar’i yang telah ditetapkan oleh Baginda Rosulullah SAW. (Na’udzubillah)

Dapat Diruju’ :

Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah
Fatawa Lajnah ad-Da’imah Lil Buhuts alIlmiyah wal Iftaa’, Ahmad bin Abd. Razaq ad-Dawaisy.
Kutubus Sittah.
Tafsir : As-Sa’idi, Ibnu Katsir, At Thabari, Depag.

Berikut koleksi Hilal Ramadhan 1428 H

1. Hilal tgl 1 Ramadhan 1428 H:

Hilal tgl 1 Ramadhan 1428 H (Pak AR)

2. Hilal tgl 2 Ramadhan 1428 H:

Hilal 2 Ramadhan 1428 H (Pak AR)

3. Hilal tgl 3 Ramadhan 1428 H:

Hilal 3 Ramadhan 1428 h (Pak AR)

4. Hilal tgl 4 Ramadhan 1428 H:

Hilal 4 Ramadhan 1428 h (Pak AR)

Sekali lagi, Rukyah tanpa panduan Hisab akan salah arah dan salah lihat serta salah kaprah…

Sebaliknya Hisab tanpa dibuktikan dengan Rukyah (bulan ramadhan dan syawwal dan dzul hijjah), menyalahi ajaran Rasul dalam menjalankan perintah agama.

Terlepas kalau Hisab untuk kepentingan pengetahuan semata yang tidak ada dampak ke persoalan ubudiyyah, monggo kerso…. Kata Rasul,"Antum a’lamu bi umuuri dunyaakum".

Wa Allahu a’lamu…[]

 

 

September 12, 2007

Awal Ramadhan yg Sama

Filed under: Astronomy, Islam

Saya sangat bangga bila kondisi ummat Islam Indonesia seperti tahun 1428 H ini, minimal daripada tahun2 sebelumnya. Walaupun ini baru ramadhan, karena saya berpikiran entar Idul Fitri bakalan beda suasananya dengan ramadhan ini. Tetapi semuanya hanya ALLAH SWT yang Maha Tahu.

Pekan ini, saya berusaha mengamalkan sunnah Rasul yakni Rukyah Hilal memasuki bulan suci Ramadhan 1428 Hijriyah. Rukyah Hilal saya lakukan tiga kali, mengingat hasil perhitungan hisab menyatakan bahwa Hilal awal Ramadhan negatif di seluruh wilayah Indonesia.

Pertama:

Saya melakukan Rukyah Hilal untuk menentukan akhir Sya’ban 1428 H. Hilal ini biasa disebut Hilal Tua (Old Crescent), yang berdasar kriteria Odeh, pengamatan dilakukan paling mungkin untyk wilayah Indonesia adalah pada Senin 10 September 2007 selepas Shubuh.

Hasil dari observasi saya, ternyata Hilal Tua Syaban 1428 H terlihat sangat jelas seperti yang digambarkan pada Accurate Times nya Pak Muh. Odeh dari Jordania.

Gambar di atas adalah penampakan dari Hilal Tua untuk bulan Sya’ban tahun 1428 Hijriyah yang saya lihat lewat atas lantai 3 Asrama Kapatra II PPMI Assalaam, sekitar jam 5 pagi lebih 20 menit.

Ketinggian Hilal Tua ini sekitar 9 derajat di atas ufuk timur. Dari ketinggian ini memang sangat mudah melihat hilal. Hilal ini akan menghilang dan sulit terlihat sekitar 05.25 dengan mata telanjang.

Kedua:

Saya melakukan rukyah hilal untuk menentukan awal Ramadhan 1428 H, yang saya lakukan pada tgl 29 Sya’ban 1428 H bertepatan dengan tgl 11 Sept. 2007. Acara ini berlangsung di lantai tertinggi (plataran) Plaza Saphir Square Yogyakarta. Di sana saya mengajak para ustadz saya di PPMI Assalaam agar beliau2 mengenal bagaimana melihat hilal langsung dan bersama para tokoh di Yogyakarta.

Walau secara hisab, hilal muda kali ini mustahil dilihat karena bulan terbenam duluan ketimbang matahari, tetapi agenda ini tetap dilakukan karena sunnah melihat HILAL MUDA penentuan awal bulan Ramadhan adalah tgl 29 Sya’ban. Kalau hari ini Hilal Muda negatif alias tidak kelihatan oleh sebab apapun termasuk di dalamnya secara hisab hilal negatif; maka PASTI besok masih hari di bulan Sya’ban. Inilah Istikmal, yakni jumlah hari di bulan Sya’ban dijadikan/digenapkan menjadi 29 + 1 = 30 hari.

Istikmal hanya sekali, artinya tidak ada istikmal kedua, karena kalau ada maka akan menjadi 30 + 1 = 31, padahal TIDAK ADA dalam Islam jumlah hari = 31. Maka pada tgl 30 Sya’ban yang bertepatan tgl 12 Sept. 2007 adalah hari terakhir di bulan Sya’ban 1428 H. Hari berikutnya sudah masuk bulan Ramadhan 1428 H.

Gambar di atas, saya (di ujung tulisan ‘Hilal‘) bersama rekan2 dari Jogja Astro Club (berompi no 2 dari kanan) dan nampak Pak Sofyan Jannah Dosen Falak UII Yogyakarta di tengah berpeci dan berbatik.emoticon

Ketiga:

Saya melakukan rukyah hilal di hari berikutnya yakni Rabu 12 Sept. 2007 bersama satu mobil Prona dari PPMI Assalaam sekitar jam 14.30 WIB. Al hamdulillah tiba di lokasi yakni bukit Syaikh Bela-Belu, pantai Parangkusumo, sekitar jam 17:15, dan bisa persiapan untuk segera melihat hilal. Di sana telah berkumpul rekan2 dari UII, UIN Jogja dan JAC sendiri.

Sekitar jam 17:34 matahari terbenam, dan proses observasi pun dilakukan seluruh peserta. Ada yang udah biasa (sedikit) dan ada yang belum biasa alias baru pertama ikut melihat hilal (hampir semuannya).

Ternyata HILAL MUDA 1 Ramadhan 1428 hijriyah memang tidak mudah untuk dilihat. Sangat sulit karena kondisi langit di ufuk barat tempat posisi bulan muda itu berada adalah sedang berawan. Cuaca yang merah dan campur beberapa bagian awan berwarna hitam membuat pemburuan menjadi suanguaat sulit. Semua mata melotot….eh gak kena juga….

Pak Toha bilang, "Kelihatan nih…". Suasana pun jadi tambah tegang. Saya pun ikut tegang, tak jawil lah pak Toha..’Apa benar nt melihat..?’. katanya benar. Maka kamrea pun berulang kali tak arahkan dan berulang kali pula aku ceprat-cepret….

Saya mencoba melihatnya di layar kamera, setelah proses zooming, ternyata gak kelihatan juga…Masya Allah sulit benar Hilal Muda tgl 1 Ramadhan 1428 H ini….

Detik2 menjelang SunSet. Jangan coba2 mencari dan melihat Hilal saat ini!

Dan SunSet pun tiba….dimana HILAL MUDA 1 Ramadhan 1428 H itu yaa?

Pak Darmo (bertopi dan kaos biru), sopir mobil PPMI Assalaam pun penasaran..(mlongo emoticon)..

Terakhir saya ingin mengucapkan selamat kepada seluruh pembaca blog sederhan ini…

Allohumma Baarik Lanaa Fii Sya’baana wa Ballighnaa Ramadhaana…. amien 19x. []






















| Terima kasih atas kunjungan Anda | thank's to MinZweb |