Definisi ‘Hari’ dalam Islam
Selama ini kita terbiasa dengan hal-hal rutin. Maka kita menjadi asing dan sering tidak mau mengikuti kepada sesuatu yang baru…
Dulu, para nabi juga sering menemukan karakter ummat yang semisal ini, ketika diajak untuk menyembah Allah dan meninggalkan sesembahan yang selama ini mereka lakukan (berhala dan sejenisnya-selain Allah SWT) kebanyakan mereka mengatakan,
‘Kami melakukan apa yang selama ini telah dilakukan olek nenek moyang kami…’.
Dimana letak persamaannya, mari kita lihat kali ini dalam konteks definisi ‘hari’ (penyebutan waktu-hari).
Kita sering mangatakan, istilah malam Sabtu sebagai ungkapan untuk waktu antara maghrib-shubuh pada hari Jum’at.
Kita juga sering dan biasa sekali ..manyatakan malam Ahad atau malam Minggu sebagai ungkapan rentang waktu pada hari Sabtu jam 6 petang hingga menjelang pagi.
Seiring dengan ini adalah ungkapan malam Tahun Baru, dan seterusnya…
Definisi di atas sangat tidak konsisten dengan Islam sebagai Dien yang diturunkan oleh Sang Pencipta waktu itu sendiri. Sejak kholifah Umar bin Khottob menetapkan bahwa sistem waktu pada penanggalan Islam menggunakan sistem lunar atau bulan yang biasa kita sebut sebagai Kalender Hijriyah, maka konsep di atas harus juga mengikuti.
Bagi yang sudah terbiasa sangat sulit melakukannya, dan ini perjuangan berat. Boleh dikata ini sepertinya sangat sulit jikalau tidak boleh dikatakan mustahil…
Ambil saja misal, kita bejanji kepada rekan untuk bertemu pada hari Kamis jam 8 malam. Maka yang kita katakan adalah ,’Kita akan bertemu pada malam Jum’at jam 8′.
Kita tidak akan mengatakan,’Kita akan bertemu pada Jum’at malam jam 8′. Kalau ini yang kita katakan, maka bisa dipastikan pertemuan ini akan gagal. Karena kita tiba Kamis jam 8 malam, namun dia tiba Jum’at jam 8 malam.
Mengapa ini bisa terjadi…?
Pertanyaan ini serupa dengan apa yang terjadi pada ‘paradoks kembar’nya teori Relativitas Einstein. Mana mungkin usia dua orang bisa berbeda sedemikian jauh hanya karena sekedar perbedaan kecepatan geraknya…?
Penjelasannya sebagai berikut:
1. Hari, dalam Islam dimulai pada saat matahari terbenam. Artinya penghitungan waktu juga dimulai saat matahari terbenam atau saat adzan maghrib berkumandang, di manapun posisi di muka bumi ini (kecuali pada ekstrim area). Penghitungan waktu akan berakhir pada saat matahari terbenam di hari berikutnya, inilah satu hari.
2. Hari Ahad, dimulai saat matahari terbenam pada hari Sabtunya. Hari Senin dimulai pada saat matahari terbenam hari Ahadnya, begitu seterusnya.
3. Kalau hari Ahad sudah masuk alias matahari terbenam pada Sabtu petang, maka hari itu adalah hari Ahad petang, lalu Ahad malam, lalu Ahad pagi, lalu Ahad siang, lalu Ahad sore, dan Ahad petang. Setalh itu baru masuk hari berikutnya, Senin.
4. Maka, definisi hari menurut Islam adalah:
- Ahad malam bagi penyebutan malam Ahad,
- Ahad malam dan bukan malam Ahad,
- Sabtu malam bagi penyebutan malam Sabtu,
- Sabtu malam dan bukan malam Sabtu,
dan seterusnya…
Wallahu a’lamu…


