Pakar : Berawal dari Niat

February 6, 2008

Antri minyak di Kota minyak

Filed under: Family

Itulah Indonesia…..

Saya berkesempatan berkunjung ke Kaltim tepatnya di Balikpapan. Kata teman yang sudah lama ngajar Fisika di SMA 9 Balikpapan, "Selamat Datang di Kota Minyak…". Saya jawab…terima kasih.

Hari Sabtu jam 11.35 WITA saya tiba di bandara Sapinggan Balikpapan. Di Bandara sudah ada salah seorang pegawai Bandara yg memang menunggu kedatangan saya dan rekan, beliau adalah Pak Sukaryono. Dengan peci putih dan baju gamis putih didampingi putranya yang masih kelas 5 SD, meraka menyambut langsung dan penuh dengan keakraban.

Acara utama di Kaltim, khususnya Balikpapan iniadalah untukmelakukan tes daerah calon santri PPMI Assalaam dari kawasan Kaltim. Acara tes dimulai Sabtu siang-sore berupa tes lisan. Tes tulis dilaksanakan Ahad pagi, dan siangnya melanjutkan tes lisan yangbelum selesai.

Ahad malam diajak pak dan bu Anjar MPP Kaltim dan pak dan bu Agus untuk merasakan menu sate ala rm Cairo di kompleks Balikpapan Baru. Minum saja yang baru, jus korma. Usai makan malam lalu istirahat di Wisma Bayangkara depan Rumah Sakit Pertamina.

Senin pagi jalan2 di Balikpapan dan di sana saya melihat orang yang antri minyak…kok aneh, di kota minyak malah ada antrian sekian banyak drum dan panjang juga antrian unuk mendapatkan minyak. Yaa… itulah Indonesia, kata pak Anjar menjawab pertanyaan saya,’kok aneh yaa di kota minyak ada antri minyak..?’.

Sesuatu yang cukup berkesan lagi adalah bisa mengunjungi PP Hidayatullah, dimana saya sholat dhuhur di masjid Ar-Ariyadl dilanjut sedikit ramah tamah dengan asatidz. Bertemu juga dengan ustadz Nasfi, salah satu kenalan pak Bahroni (eks. ketua Isnet).

Sebelumnya juga sempat mampir di pusat penangkaran buaya dan sempat dibelikan minyak buaya yang katanya obat kulit yang sangat mujarab.

Senin sore check in di bandara Sapinggan dan pulang ke Jawa kembali. Hanya agak macet, karena rencana pesawat ke Jogja start jam 16:30 LT ternyata ditundda sampai dua kali, akhirnya baru jam 5 sore lebih 45 menit waktu indonesia tengah tak off. Mendarat di Adi Sucipto Jogja satu jam setengah dari jam 17:45 WITA atau jam 18:15 WIB, setelah menempuh jarak 1016,54 km berdasar penggarisnya Google Earth…

Tahun Hijriah: ”Monumen” Ambruknya Tirani

Pada suatu hari, sahabat Abu Musa al-Asy’ari menulis surat kepada khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengeluh bahwa surat khalifah yang dikirim kepadanya tidak bisa dibeda­kan mana yang awal dan yang terakhir, karena tidak ada tanggalnya. Untuk menindak­lanjuti keluhan ini, khalifah mengumpulkan para sahabat untuk membahas perihal di atas. Mereka kemudian sepa­kat untuk membuat kalender Islam.

Semula banyak pendapat mengenai standar permulaan tahun Islam. Ada yang berpendapat tahun pertama dihitung dari kelahiran nabi saw. Ada yang mengusulkan dimulai dari tahun diutusnya nabi, dan masih banyak usulan lainnya. Namun akhirnya, mereka sepakat untuk men­jadikan peristiwa hijrah sebagai patokan permulaan kalender kaum muslimin. “Ta’rikh (Kalender) itu dimulai sejak Nabi meninggalkan tempat musyrik menuju tempat yang penuh dengan keimanan,” usul s. Ali ra. Usulan ini akhirnya disepakati oleh para sahabat yang hadir pada waktu itu.

Karenanya, sistem kalender yang kemudian menjadi kalender terbesar kedua di dunia setelah kalender masehi ini, ditetapkan oleh khalifah Umar sebagai kalender resmi Islam, pada Rabu 20 Jumadal Akhi­rah 17 tahun setelah hijrahnya Rasul.

Hijrah tidak hanya imigrasi dari Mekah ke Madinah, tetapi hijrah adalah sebuah upaya membangun peradaban baru. Peradaban yang jauh berbeda dengan tradisi Jahiliyah yang menjadi prinsip masyarakat kebanyakan waktu itu. Berbagai kejayaan, kemenangan yang kemudian diraih oleh kaum muslimin, semuanya berawal dari hijrah, karena hijrah bukanlah akhir dakwah beliau di Mekah,

Tetapi awal dakwah dan kunci kesuksesan dakwah Nabi saw. “Hijrah adalah pemisah antara hak dan batil,” tegas Khalifah Umar dalam dekrit penetapan tahun hijriah. Walaupun bulan pertama dalam kalender Islam adalah Muharram, tapi mulai berangkat Nabi hijrah terjadi pada 27 Shafar hingga Rasulullah sampai di Quba’ pada Senin, 8 Rabi’ul Awal dan masuk ke Madinah pada 12 Rabiul Awal/27 September 622 M. (al-Mubarakfury, al-Rahiq al-Makhtum). Muharram ditetapkan sebagai awal tahun hijri berdasarkan pandangan mereka bahwa pada bulan Muharram, jamaah haji pulang ke kampung halamannya untuk memulai “hidup baru” sebagai orang yang telah melaksanakan ibadah haji.

Hijrah juga merupakan kelanjutan tradisi para Rasul ketika mereka berdakwah. Nabi Ibrahim as. melakukan hijrah ke Palestina setelah lama berdakwah di Kan’an. Nabi Musa, sebelum diangkat menjadi Rasul sudah hijrah dari Mesir ke Madyan. Setelah menjadi Rasul beliau hijrah dari Mesir ke Palestina menyeberangi laut merah.

Hijrah para Rasul itu mempunyai makna penting bagi keberhasilan dakwah mereka. Hijrah Nabi Musa ke Madyan mempunyai kesamaan dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam hijrahnya ke Madinah. Sebagaimana yang terindikasi dalam sabda beliau sekemba­linya dari Tha’if, “Ingatlah wahai golongan Quraisy! Demi Allah, tidak lama lagi kalian akan masuk pada agama yang kalian ingkari ini”. Ada indikasi bahwa hijrah bagi beliau mempunyai makna strategi mensolidkan lini demi lini perjuangan. Terbukti, per­juangan beliau untuk meng-Islamkan penduduk Mekah, semuanya dikoordinir dari Madinah.

Begitu pula Musa as, di Madyan beliau menempa diri bersama keluarga Nabi Syuaib untuk kemudian kembali ke Mesir memberantas kekufuran, melawan kesewenang-wenangan dan penindas­an rezim tira­nik Fir’aun kepada Bani Israil.

Melihat kaitan yang amat erat antara hijrah dan dakwah dalam sejarah para Rasul ini, bisa ditarik sebuah kesimpulan historik bahwa hijrah merupa­kan sebuah kelaziman dalam perjuangan mene­gak­­kan kebenaran. Pada lingkup ini, kita bisa mencermati sebuah titik korelatif antara hijrah dan strategi dakwah. Titik korelatif ini dapat dijumpai dengan mudah dalam berbagai perjala­nan dakwah Islam dari masa ke masa.

Hal yang sama dapat pula kita temukan dalam kiprah dakwah pesan­tren. Telah maklum, pesan­tren adalah tempat hijrah —sebagai­mana terbersit dalam sajak-sajak A. Hidayatullah, “Sidogiri Mahjari”. Maksud “tempat hijrah” dalam konteks pesantren di sini tak jauh dengan kawah candra­dimuka dalam konteks pewayangan. Artinya, penempaan diri di pesantren tidak didasarkan untuk kemajuan lembaga secara internal, tapi lebih mempunyai orientasi kebutuhan masyarakat secara eksternal.
Pengertian ini sesuai dengan visi pesantren sebagai `produsen’ kader-kader agamawan yang dipersiap­kan untuk bersing­gungan dengan problematika sosial masyarakat di waktu itu.

******

Di tahun baru hijriyah 1429 ini marilah kita jadikan momentum untuk kembali mengingat dan mengenang peristiwa yang sangat agung itu, sejarah besar yang akan selalu dikenang oleh seluruh umat Islam di muka bumi.

Meninggalkan kampung halaman, sanak famili dan keluarga menuju sebuah daerah yang belum pernah dikenalnya di bawah kejaran musuh tentu bukan hal ringan. Perjuangan dan pengorbanan para Sahabat patut kita jadikan sebagai pegangan hidup kita dalam menjalankan tugas dakwah islamiyah. Sayyidina Ali ra. dengan ikhlas menempati tempat tidur Nabi yang beresiko besar. Nyawa taruhannya!

Hijrah adalah awal keberhasilan sebuah dakwah, kunci pembuka cahaya keislaman dan keimanan. Para Rasul mulai menuai hasil dalam dakwahnya setelah mereka hijrah. Imam Syafi’i ra dalam sebuah sya’irnya berkata, “Emas tidak akan menjadi emas kalau tidak dikeluarkan dari tanah”. Hijrah mempunyai arti yang sangat besar. Menyakitkan memang. Meninggalkan kampung halaman, sanak famili dan keluarga demi terciptanya kehidupan yang mulia dengan nur keimanan.

Sebagaimana orang biasa, nabi Muhammad saw sangat mencintai tanah kelahirannya, tanah ait dan tanah tumpah darahnya. Walau­pun selama berdakwah, beliau hanya menerima siksaan dan hinaan dari kaum kuffar Mekah, sehingga diperintah untuk hijrah ke Madi­nah sudah siap menanti datangnya cahaya Islam, tapi hal ini sama sekali tidak mempengaruhi rasa cintanya terhadap Mekah. Karena pada saatnya nanti, Mekah akan menjadi sentral agama Islam. Suasa­na perpisahan yang mengharukan terekam dari “salam perpi­sahan­nya” ketika berangkat hijrah. Seraya memandang Mekah, beliau berkata, “Demi Allah! Engkau (Mekah) adalah bumi Allah yang paling aku cintai. Demi Allah! Engkau adalah bumi Allah yang paling dicintai oleh Allah. Andaikan pendudukmu tidak mengusir aku, niscaya aku tidak akan pergi meninggalkanmu”.

Kini, sinar hijri telah diambang fajar. Ketabah­an dan kesabaran nabi ketika meninggalkan kota Mekah di bawah kejaran orang-orang kafir, kesetiaan para sahabat dalam membela dan membantu perjala­nan beliau serta sambutan histeris kaum Anshar ketika nabi tiba di Mekah dengan membawa dakwah Islam kembali menjel­ma di relung ingatan kita. Kesetiaan Imam Ali ra. ketika diperintah menempati tempat tidur nabi yang taruhannya adalah nyawa, pengorbanan dan ketulusan Abu Bakar beserta putra-putrinya mengawal perjalanan beliau keluar dari cengkram­an kaum kuffar tidak akan terlupakan selamanya.

Kita hanya bisa meneteskan air mata haru mengenang peristiswa agung itu, tanpa ada gugahan hati untuk terus melanjutkan dan mele­starikan hasil perjuangan mulia mereka. Akankah sejarah besar itu menjadi lagenda seiring hilangnya ghirah islamiyah kita yang dulu sangat rekat mewarnai perjalanan hidup mereka?

Reff:
Sidogiri dot Com

Mesin mati di Rel KA

Filed under: PITEK

Mengapa jika mesin kendaraan bermotor tiba-tiba mati di lintasan rel kereta api sulit dihidupkan lagi ?

Ternyata itu disebabkan adanya pengaruh gesekan antara roda kereta dengan relnya. “Jadi, bukan semata-mata karena sopirnya gugup sehingga tidak bisa menghidupkan mesin kendaraannya, ” kata Dr Ir. Djoko Sungkono, kepala Laboratorium Motor Bakar Teknik Mesin Institut Teknologi Surabaya (ITS).

Selama ini sering terjadi kendaraan bermotor tiba-tiba mati mesinnya saat melintas di atas rel kereta api. Itu terjadi terutama ketika ada kereta yang mau lewat. Pengendaranya kesulitan menghidupkan kembali mesin kendaraannya itu. Akibatnya, kendaraan bermotor itu  ditabrak kereta dalam hitungan sekian puluh detik berikutnya.

Kasus terbaru adalah seperti yang dialami Rektor dan Pembantu Rektor III Universitas Islam Darul Ulum Lamongan. Keduanya tewas karena mobil yang sedang melintas rel dihantam kereta api. Djoko lalu mengingatkan, jika  mesin mobil tiba-tiba mati di atas rel, maka hendaknya penumpangnya segera keluar dan mendorongnya . Jika tidak, akan sangat membahayakan  jika kereta segera lewat. Dan jangan berusaha  menghidupkan mesin! Yang anda lakukan adalah, keluar! dan mendorongnya! Kalopun anda gak sempat mendorong, setidaknya anda sudah berada diluar kendaraan dan bisa sewaktu-waktu lari menghindar.

Mengapa mesin bermotor susah dihidupkan? Kata Djoko, terjadi impedansi yang ditimbulkan oleh pergesekan roda kereta api dan relnya. Dan, impedansi itu yang cukup untuk mengakibatkan mesin mobil yang mati sulit menyala kembali. Kejadian itu terutama berpengaruh pada mobil atau kendaraan yang berbahan bakar bensin, meskipun kendaraan berbahan bakar solar juga ada yang terpengaruh. “Pada kendaraan yang berbahan bakar bensin, starternya digerakkan oleh dinamo,”  paparnya. Dari dinamo ini dihasilkan medan magnet yang selanjutnya menggerakkan mesin mobil. Djoko mengatakan, hal tersebut tidak jadi masalah bila mesin mobil tersebut tidak mati. Namun bila mesin tersebut mati maka akan sulit untuk dihidupkan lagi. Medan impedansi tersebut tidak diperlukan jarak yang dekat untuk itu. Hal tersebut sudah mulai dapat berpengaruh ketika kereta api masih berjarak 1,5 km lokasi lintasan di mana kendaraan bermotor itu melintas rel.

Jadi langkah terbaik yang harus dilakukan : dorong kendaraan (kalau mobil, segera keluar dari kendaraan) anda dari rel kereta baru setelah itu coba hidupkan kembali mesin mobil anda.

Hery Darmawan
SAP Technology Consultant
Mobile: +971507128157

dari: Milis Sains [ http://groups.yahoo.com/group/sains/message/3629 ]






















| Terima kasih atas kunjungan Anda | thank's to MinZweb |