Pakar : Berawal dari Niat

October 29, 2007

Tanya-Jawab hilal Cakung

Filed under: Kajian

Tulisan ini adalah postingan pertama saya setelah sekian hari Off karena liburan dan kebetulan saya mendapat ujian sakit ala anak2…Cacar Air… hehe kini dah sembuh, al hamdulillah…
Agak bingung juga mau nulis apa dulu karena ide selama liburan bermunculan agak banyak..

Sebelumnya, tepat menjelang penentuan awal Syawwal 1428 H, malam hari saat mau pilih Jum’at tgl 12 atau Sabtu tgl 13 Okt 2007 sebagai hari pertama bulan Syawwal 1428 H, saya sempat ngobrol kepada pak Toha perihal hilal Cakung. Sore hingga malamnya, saya dan Pak Toha bersama rekan2 BHR DIY, UII, UIN Suka, JAC, beberapa Tim Rukyah dari berbagai Pesantren, melakukan rukyah hilal di Bukit Syekh Bela-Belu Pantai Parangkusumo Bantul DIY.

Selanjutnya di milis RHI, obrolan ini agak lebih detail dan berikut saya kopikan hasil diskusi sederhananya…


mochamad rofiq <ki_rofiq@…> wrote:
Kemarin(20/10/2007) saya baru dapat sms bahwa"hasil rukyat di lajnah falakiyah AL HUSNIYAH Cakung JKT.

pada tanggal 11 Oktober 2007 sbb :
tinggi hilal 3.35′.59" , >>>> ini adalah hasil hisab bukan rukyat
umur hilal 14 mnt 24 detik. >>>> ini juga hasil hisab
Dengan saksi :H.m.Labib. 2.Forkhon. 3.A.Zain. 4.Muzbiwijdi
Data ini dihitung menggunakan Hisab Taqribi (hitungan kasar) sehingga tidak akurat
ditengarai Tim Cakung menggunakan Kitab Sulam al Naiyroin
(Menurut kitab ini, ijtimak terjadi pada 10:27 WIB )
Dari ijtimak sd sunset sekitar 7 jam shg :
7 jam x 0,5° (ketertinggalan bulan selama 1 jam=0,5°) = 3°30′ (kasarnya)
karena gerak bulan juga sekitar 4° per menit maka tg= 3°30′ (3,5°) sampai
tg=0 (bulan terbenam) >> perlu waktu 3,5x4 menit = 14 menit
( begitu cara mereka menghisab tanpa memperhitungkan faktor2 astronomis;
kerendahan ufuk (dip), refraksi atmosfer, semi diameter bulan/matahari, ketinggian tempat,
faktor ketelitian hitungan (digit) dsb mereka abaikan sgh hasilnya kasar) Tapi mereka mantap betul dengan hasil tsb >>> 3,5° ketinggian hilal yg membuat mereka begitu percaya diri dapat melakukan rukyat (menurut mereka angka ketinggian hilal minimal agar bisa dirukyat adalah 2° (padahal angka ini juga masih jauh dari kriteria sains)) apalagi hasil hisab yg terpaut jauh dg perhitungan modern ( 0° 21′ 06" ) ada selisih sekitar 3°.

Tambahan:.
Data Hisab Modern (menggunakan Software Starrynight pro Plus 6.06 untuk wilayah Cakung, Jakarta Timur Long:106:49:00E dan Lat:06:10:00S Tinggi: 50m dpl)
pada 11 Oktober 2007 adl. sbb:
Ijtimak Geosentrik : 12:02 WIB (dilihat dari pusat bumi)
Ijtimak Toposentrik : 12:33 WIB (dilihat dari lokasi ybs)
Matahari terbenam : 17:46 WIB (seluruh piringan matahari masuk ufuk Mar’i / visibel horizon)
Bulan terbenam : 17:48 WIB
Azimuth bulan : 258°44′
Azimuth matahari : 262°54′
Tinggi bulan saat matahari terbenam : 0° 21′ 06" (dia atas ufuk Mar’i / visibel horizon)
Lama hilal di atas ufuk : 2 menit (sunset-moonset)
Umur bulan dari ijtimak sampai saat matahari terbenam 17:46 - 12:02 = 5jam 44 menit

=======================================================
PADA KONDISI SEPERTI INI MUSTAHIL HILAL/BULAN DAPAT DIRUKYAT
=======================================================
Catatan : Software Starrynight Pro Plus 6.06 menggunakan algoritma Chapront ELP2000/82 yang hanya menghasilkan kesalahan sudut rata2 0,027° melenceng dari posisi sesungguhnya (sementara sudut diameter bulan cukup besar yaitu sekitar 0,5°)
Yg ingin saya tanyakan:

1.Benarkah hilal terlihat di wilayah Cakung? RHI kan juga melakukan pengamatan di sana.
Tim RHI di JIC (Jakarta Timur) maupun yang bergabung di Cakung tidak melaporkan dapat melihat hilal (karena memang mustahil). Posisi Cakung yang terlalu rendah membuat lokasi ini juga akhirnya tidak ideal untuk observasi hilal. Berdasarkan hasil observasi horizon barat dari Cakung berada di atas ufuk Hakiki sekitar 1° akibat pemukiman dan perkotaan belum lagi tingkat polusi udara langit Barat yang tepat berada di atas kota Jakarta.
Menurut laporan pengamat sering terlihat cahaya/lampu pesawat dari arah bandara sukarno-hatta terutama saat setelah maghrib sehingga ini dicurigai sebagai penyebab laporan rukyat dari cakung. Namun sayang tim Cakung menolak jika diajak pendampingan dengan alasan mengganggu.

2.Benarkah data2 hasil rukyat tersebut?
Yang disebutkan itu adalah data hisab bukan data rukyat. Data rukyat dilakukan pengukuran saat hilal terlihat : Dimana, kapan, bentuknya seperti apa syukur disertai bukti fisik berupa hasil pemotretan atau video. Tapi sayang tim rukyat cakung tidak mencantumkan data2 tersebut, justru yg dicantumkan dalam laporan itsbatnya adalah data hasil hisab.
3.Kalau saudi 1 syawalnya tgl 12/10/2007 ,mesir 13/10/2007,indonesia 13/10/2007,berarti di dunia ini tanggal 1syawal nya bisa berlainan(bahkan ada 3 hari), apakah secara ilmiah ini mungkin?
Terjadinya perbedaan pada kalender komariyah secara ilmiah mungkin saja. Kenapa? sebab kriteria tunggal penanggalan tersebut memang belu disepakati. Masing2 pihak memiliki kriteria sendiri untuk menentukan awal bulannya akibatnya tidak hanya 3 hari berselisih bahkan bisa 4 hari. Dan menjadi hal yang mustahil untuk menyatukan kalender ini karena bentuk bumi yang bulat dan kita juga masih terpengaruh sistem kelender masehi.
Kita harus sepakati dulu dimana mulainya hari misalnya hari Jumat dimulai dari mana? Negeri mana yang berhak Jumatan dulu? Arab? Indonesia? Atau dimulai dari tempat yang pertama kali melihat hilal? (seharusnya demikian). Lalu dimana yang paling tepat? tempat ini jelas selalu bergeser.. atau kita menggunakan aturan kalender masehi untuk menentukan hari dan menggunakan kalender hijriyah untuk awal bulan? yg jelas standard ganda penggunaan kelender ini juga menjadi masalah.

Padahal kalau dikatakan contoh di Indonesia tanggal 1 januari 2009,maka seluruh dunia pasti juga tanggal 1 januari 2009, tapi kalau 1syawal kok bisa lebih dari 1?
Tidak juga, coba saat kita rame2 merayakan tahun baru 1 Januari pukul 00:00 di benua amerika masih tanggal 31 desember siang dan mereka harus menunggu 12 jam lagi untuk merayakannya.
Dan saat di benua amerika hiruk pikuk merayakan tahun baru sampai tanggal 1 sore harinya kita di Indonesia sudah masuk tanggal 2.

Namun masih beruntung kalender masehi ini karena kriteria dan batasnya telah disepakati bersama walaupun untuk itu butuh waktu ratusan tahun sampai seluruh dunia mau mengakuinya….
ma’af atas ketidaktahuan saya.
sama2 kita saling belajar…

Salam,
Mutoha
dari: http://tech.groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/message/324

October 13, 2007

Sholat ‘Ied-ku

Filed under: Family

Saya sholat Iedul Fitri 1428 H pada tgl 1 Syawwal, bertepatan dengan Sabtu 13 Oktober 2007. Sholat Ied saya dirikan dengan menjadi makmum pada jamaah sholat Ied Fitri di stadion Manahan Solo. Berangkat dari rumah sekitar 05:30. niat semula asal ketemu saja di manapun, namun melihat salah satu mobil yang membawa rombangan sholat Ied diikuti mobil lain dan beberapa kendaraan ruda dua, maka saya berubah pikiran dan ikutlah mobil itu.  Karena mobil agak lambat, saya melaju sendiri. Tujuannya adalah bergabung dengan MTA yang akan melaksanakan sholat Iedul fitri 1428 H di Stadion Manahan Solo.  Tiba di Stadion Manahan Solo, memasuki pintu udah dijaga petugas dan dibantu mengarahkan lokasi parkir. Sampai di tempat parkir sudah disiapkan lapangan yang wah…luas. Temennya banyak juga nih…

ied_mta_5.jpg 

Sholat dimulai sekitar 06:25 dan selesai khotbah sekitar jam 07:10. Bertindak Imam dan Khotib KH. Ahmad Sukina Ketua MTA Pusat.

 ied_mta_2.jpg

Dalam khotbahnya beliau menekankan agar kita waspada musuh di sekeliling kita antara lain narkoba. Pemerintah dihimbau membasmi tidak hanya jutaan unggas penyebar virus Flu burung tapi juga bandar2 obat terlarang yang beliau sebut sebagai PIL SETAN. Jamaah putri dimana2 biasanya lebihbanyak, termasuk kali ini juga demikian…

ied_mta_3.jpg

Sedang foto di bawah adalah salah satu jamaah yang terpaksa pulang duluan karena memang sudah tua…

ied_mta_1.jpg 

Pak Tua ini sudah seusia simbah…moga2 dapat Lailatul Qodr ya mBah…jadi yuswonya pasti di atas 1 abad.

October 11, 2007

1 Syawwal 1428 H

Filed under: Islam
Berikut saya kutipkan laporan dari situs resmi Depag dot Go dot Id: 
Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1428 H Jatuh Pada Sabtu, 13 Oktober 2007

Jakarta 11/10 (Pinmas) - Pemerintah melalui Sidang Itsbat menetapkan hari raya Idul Fitri 1428 Hijriyah jatuh pada Sabtu, 13 Oktober 2007. Keputusan tersebut tertuang dalam keputusan Menteri Agama No 109 tahun 2007 tertanggal 11Oktober 2007 tentang Penetapan 1 Syawal 1428 H.

“Pemerintah dalam menetapkan awal Syawal selalu memperhatikan kesejukan dan kedamaian sehingga terwujud persatuan dan kesatuan,” kata Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni yang memimpin sidang tersebut di operation room Departemen Agama, Kamis (11/10) malam.

Sidang Itsbat yang digelar di Depag itu dihadiri Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh, Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kardiman, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amien, para wakil umat Islam lain dari NU, Muhammadiyah, Persis, DDII, DMI dan lain-lain serta para duta besar dan perwakilan Negara-negara Islam.

Ketua Badan Hisab dan Rukyat yang juga Direktur Urusan Agama Islam Depag, Muchtar Iljas yang menyampaikan hasil rukyat menyatakan dari hasil pemantauan di 40 lokasi dari Banda Aceh hingga Jayapura semua melaporkan tidak melihat hilal (bulan).

“Ijtima (pertemuan akhir bulan dan awal bulan baru) menjelang syawal jatuh pada Kamis, 11 Oktober atau 29 Ramadhan pukul 12.02 WIB sehingga saat matahari terbenam posisi hilal di sebagian wilayah Indonesia Timur hilal masih dibawah ufuk, kecuali di Indonesia bagian Tengah dan Barat sudah diatas ufuk antara 0 derajat 30 menit sampai 0 derajat 45 menit,” katanya.

Dengan demikian bulan Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal) dan 1 syawal jatuh pada Sabtu 13 Oktober 2007. Sementara PP Muhammadiyah dengan maklumatnya telah menetapkan tanggal 1 Syawal jatuh pada hari Jumat, 12 Oktober 2007.

Sementara itu Menteri Komunikasi dan Teknologi Muhammad Nuh mengatakan, melihat hasil pemantauan yang dilakukan secara teknologi posisi hilal tidak terlihat. Dengan demikian tinggal ditetapkan oleh sidang itsbat.

Menjawab permintaan MUI agar pemerintah memfasilitasi alat teropong yang lebih canggih, ia mengatakan, pada saat sekarang ini alat teropong yang dipergunakan sudah cukup. Namun ia tidak memungkiri pada masa mendatang diperlukan alat teropong yang lebih canggih lagi.

Ditempat yang sama Pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Suwito Suprayogi, Lc mengatakan, pihaknya mengikuti hasil keputusan sidang itsbat yang dilakukan 11 Oktober oleh Depag ini. “Di Arab Saudi juga menurut hisab lebaran akan jatuh pada hari Sabtu,” ujarnya. (ks)

Dalam kesempatan ini saya mengucapkan:

Selamat Berhari Raya Iedul Fitri 1428 H kepada saudara2ku se-iman di manapun berada.

Taqobbala Allahu Minnaa wa Minkum, Kullu ‘Aam wa Nahnu Bi Khoiirin.

Mohon maaf Lahir dan Bathin, minal A’idiin wal Faa’iziin.

Menyambut datangnya bulan Syawwal, saya hanya berusaha melaksanakan sunnah shohihah Rasulillah SAW yakni Rukyatul Hilal. Rangkaian Rukyah Hilal saya awali dengan melihat dan melakukan Rukyah Hilal Tua (Waning) pada Rabu, 10 Oktober 2007 selepas Shubuh hingga terbit matahari.

Dari lokasi pengamatan yakni di Anjungan Ilmu Falak PPMI Assalaam (long:110 deg 46 mnt, Lat: 7 deg 33 mnt, Elev: 111 meter) dari jam 04:26 saat bulan terbit ternyata Waning atau Hilal Tua bulan amadhan 1428 H tidak bisa saya lihat dan tidak bisa pula saya abadikan. kondisi ini tetap sama sampai jam 05:17 saat matahari terbit.

old_crescent_of_ram28.jpg

Posisi Waning selalu saya pantau lewat Starrynight Pro 6.0.6

Selanjutnya, pada hari Kamis 11 Oktober 2007, saya melakukan Rukyah Hilal Muda (Waxing) di bukit Syeikh Bela-belu Pantai Parangkusumo Yogyakarta. Rombongan dari PPMI Assalaam sebanyak 14 personil menaiki Minibus Prona. Rombongan Tim Rukyah Hilal PPMI Assalaam berangkat jam 13.00 dan sampai di lokasi sekitar jam 04:25 WIB.

rukyahshw28-1.jpg

Di lokasi peserta dari Tim Rukyah Hilal PPMI Assalaam akhirnya bergabung dengan Tim Rukyah Hilal dari BHR (Badan Hisab Rukyat) Depag DIY, Ormas Islam seperti NU, UIN, UII, dan masyarakat yang peduli lainnya.

Acara diawali dengan sambutan dari BHR Depag DIY, gubernur DIY, Ahli Falak NU, Pakar Falak DIY dan diakhiri do’a.

Dari lokasi ini, semua peserta yang hadir sangat banyak, namun tidak satu pun yang berhasil melihat Hilal Muda 1 Syawwal 1428 H. Keputusannya bulan Ramadhan 1428 H digenapkan menjadi 30 hari.

rukyahshw28-9.jpg

Dalam perjalanan pulang ke Solo, ada info bahwa PPMI Assalaam sudahtakbir dan akan melaksanakan Sholat Iedul Fitri 1428 H pada esok harinya yakni hari Jum’at 12 Oktober 2007. Keputusan ini diambil dalam rapat/sidang Itsbat Dewan Kyai PPMI Assalaam yang memutuskan 1 Syawwal 1428 H jatuh pada hari Jum’at 12 Oktober 2007 karena telah ada laporan dari Tim Rukyat MMI di Cakung Jakarta yang melaporkan melihat Hilal. Tidak hanya itu, Tim Rukyat MMI juga telah disumpah di hadapan pihak berwajib di Pemerintahan Jakarta Utara. Setidaknya demikian yang saya terima dari obrolan setelah tiba di Ma’had.

rukyahshw28-13.jpg

Secara lembaga saya sangat ta’dzim dengan keputusan Dewan kyai, dan saya tetap membantu pelaksanaan Sholat Iedul Fitri di Ma’had, hanya secara pribadi keyakinan saya tetap Istikmal. Saya sempat ngobrol ke Pak Mutoha MMC (Koord. Jogja Astro Club/Rukyatul Hilal Indonesia, perihal ini walau sebentar sekedar ngisi keheningan malam…(00:25 LT)

Mutoha MMC: yah, yg yakin aja no problem..
Mutoha MMC:
Mutoha MMC: santai aja..
AR: kira2 yg dilihat itu apa yaa? kok bisa gitu lhooo
Mutoha MMC: cakung menggunakan hisab sulam
Mutoha MMC: ijtimak jam 12  ghurub dianggap jam 6
Mutoha MMC: 12-6=6 jam
AR: terus…
Mutoha MMC: selama 6 jam tsb   hilal akan menyimpang dari matahari 6x0,5°=3°
Mutoha MMC: 3° –> menurutnya sudah imkanurrukyat
AR: Ooo…Cakung tu siapa sih ../
Mutoha MMC: menggunakan dalil rukyat bilyaqin/bilqalbi/bil’ilmi   hilal terlihat
Mutoha MMC:

Akhirnya i-ring di HP (0-85-86-705-507-5) juga udah saya aktifkan Takbiran nya H. Mu’ammar, ZA sang Qori’ Internasional dengan suara emasnya.

October 6, 2007

Sugeng Riyadin

Filed under: Family

Assalaam..Wr..Wb.

Tahun 1428 H, Iedul Fitri 1 Syawwal bakal terjadi perbedaan. HISAB atawa RUKYAT???

Diskusi seputar dua kata ini telah begitu banyak di masjid2, sekolah2, kantor, bahkan dunia maya ini.

Saya hanya bingung, laa wong untuk sekedar memperingati hari lahir saya kok pada berselisih sih..?! hehe emoticon

 

Pernah saya tanyakan ke Ibu yang melahirkan saya, bahwa saya terlahir sesaat setelah Sholat Iedul Fitri ..hanya tahun berapa? Ibu saya lupa lha wong orang desa

Makanya nama saya pakai kata2 Sugeng Riyadi, bhs jawa ini berarti Selamat Lebaran, atau Selamat Hari Raya Iedul Fitri, bhs arabnya, Taqobballahuu Minnaa wa Minkum…kata temen saya sih..

Pokoknya, mau Jum’at tgl 12 Okt 2007 atau Sabtu tgl 13 Okt 2007::: Lebaran tetap 1 Syawwal 1428 H. OK…

Wassalaam.. Wr. Wb.

October 4, 2007

Persamaan Lailat al-Qodr

Filed under: Kajian

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr [97]:1-5)

Allah Maha menentukan segalanya. Dia memilih sesuatu yang dikehendaki-Nya. Allah memilih tempat yang dikehendaki-Nya. Allah memilih manusia yang dikehendaki-Nya, pilihan-Nya ada yang menjadi Nabi, Rasul, pemimpin negara, cendekia, dsb. Allah memilih gua Hiro’ yang dikehendaki-Nya sebagai tempat pertemuan Rasul dan Malaikat Jibril. Allah memilih Mekkah yang dikehendaki-Nya sebagai kiblat kaum Muslimin dan memilih pula kota Madinah sebagai basis pertahanan Rasulullah SAW dalam menyebarkan risalah Ilahi.

Begitu pula halnya dengan bulan-bulan dalam setahun, Allah telah memilih Ramadhan sebagai bulan yang istimewa, yang namanya disebutkan dalam Al- Qur’an. Firman Allah :

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqoroh [2]:185.)

Jika Allah berkehendak, tentu ada suatu maksud tertentu dibalik kehendak-Nya itu. Allah mengutus Rasulullah dengan satu maksud, untuk menyampaikan risalah-Nya. Begitu halnya dengan bulan Ramadhan, sebab Allah tidak akan mengatakan Ramadhan sebagai bulan istimewa jika tidak ada sesuatu dibalik itu. Baginda Rasulullah SAW, ketika berada di penghujung bulan Sya’ban, selalu mengatakan kepada sahabatnya :

“Telah datang padamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka sambutlah kedatangannya. Telah datang bulan shiyam membawa segala keberkahan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu.” (HR. Ath-Thabrani).

Dalam sabdanya yang lain :

“Sesungguhnya telah datang padamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah memerintahkan berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu, dibukakan segala pintu Surga, dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu syetan-syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa yang tidak diberikan kebajikan malam itu, berarti telah diharamkan baginya segala rupa kebajikan.” (HR. An-Nasai dan Al-Baihaqi)

Jika kita menengok ke belakang, melihat sirah Rasulullah SAW kita akan melihat betapa banyaknya kejadian penting terjadi pada bulan Ramadhan, di antaranya :

1. Bulan diturunkannya Al-Qur’an. Firman Allah :

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah [2]:185)

Dalam tafsir Mafatihul Ghaib, berkenaan dengan ayat diatas, Ar-Razi berkata : “Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dengan jalan menurunkan Al- Qur’an. Karenanya, Allah SWT mengkhususkannya dengan satu ibadah yang sangat besar nilainya, yakni puasa (shaum). Shaum adalah satu senjata yang mengungkapkan tabir-tabir yang menghalangi kita manusia memandang nur Ilahi yang Maha Quddus. Al-Qur’an adalah suatu kitab yang tiada bandingannya, pemisah yang haq dan bathil, berlaku sepanjang masa, dan menjadi pengikat seluruh ummat Islam di seluruh dunia.

2. Bulan diturunkannya kitab-kitab suci lainnya. Di bulan ini pula, Allah menurunkan kitab-kitab-Nya yang lain kepada para Rasul, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits:

“Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada 6 Ramadhan dan Injil diturunkan pada 13 Ramadhan sedangkan Al-Qur’an diturunkan pada 24 Ramadhan.” (HR. Ahmad).

Itulah keberkahan bulan Ramadhan, bulan turunnya ayat-ayat Qouliyyah, minhajul hayah bagi keberadaan manusia di muka bumi, penunjuk jalan bagi orang-orang yang mau mensucikan dirinya.

3. Bulan pilihan Allah bagi terjadinya perang Badr. Perang pertama yang dilakukan kaum Muslimin, dimana perang ini menjadi penentu kelangsungan perjuangan da’wah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabatnya. Perang Badr dinamakan Allah dengan sebutan “yaumul furqon” (hari pembeda antara yang haq dan bathil), sebagaimana firmanNya :

“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al Anfal [8]:41).

Muhammad Qutb mengatakan dalam tafsirnya bahwa perang ini dari awal hingga akhirnya adalah rencana Allah SWT yang dilaksanakan dengan pimpinan dan bantuanNya. Dimana dalam jalannya pertempuran, Allah SWT memenangkan kaum Muslimin yang mempunyai personil dan persenjataan minim, ditambah kondisi fisik kaum Muslimin yang secara lahiriah lebih lemah karena sedang berpuasa, setelah menerima perintah yang baru beberapa saat diterimanya. Namun itu bukanlah hambatan untuk menang, karena kekuatan utama kaum Muslimin adalah kekuatan ruhiyyah mereka dengan keyakinan akan kebenaran janji Allah SWT. Peperangan ini membuahkan babakan baru dalam sistem gerakan Islam. Perang ini memperbaharui kondisi ummat Islam, setelah dengan sabar dan tabah menempuh tahapan-tahapan perjuangan da’wah. Lahir tatanan baru dalam kehidupan manusia, bagi penerapan hak-hak asasi serta sistem dan struktur baru bagi masyarakat dan negara.

4. Bulan yang dipilih bagi terbukanya kota Mekkah. Peristiwa “fathul makkah” terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan, sekitar 10000 kaum Muslim mendatangi Makkah dari segala penjuru. Pada saat itulah terjadi fenomena kemenangan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah manapun, dimana semua musuh, hingga para pemimpinnya menerima dan mengikuti agama lawan. Ini tidak terjadi melainkan dalam sejarah Islam. Kemenangan ini hakikatnya adalah kemenangan akidah, kalimat tauhid dan bukan kemenangan individual atau balas dendam.

5. Bulan yang dipilih untuk pelaksanaan puasa dan pemindahan qiblat. Firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. ” (QS. Al-Baqarah [2] : 183).

Bersamaan dengan turunnya ayat perintah berpuasa di bulan Ramadhan, pemindahan qiblat ummat Islam dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram inipun menjadi pembeda antara yang haq dan bathil, dimana pada saat sebelumnya orang Yahudi merasa lebih benar karena puasa mereka dan kiblat mereka diikuti kaum Muslimin. Namun dengan perintah itu, maka berbedalah kaum Muslimin dengan ahlul kitab. Berbeda pula kiblat Muslimin dengan mereka, serta puasa Muslimin dengan mereka. Kecongkakan merekapun berakhir dengan barokah bulan ini.

6. Bulan yang dipilih Allah untuk Lailatul Qadar. Dijelaskan dalam firman Allah SWT :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS Al Qadr [97]:1-5)

Lailatul Qodr

Selama bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer disebut sebagai Lailatul Qodr, malam yang lebih berharga dari seribu bulan (QS. Al-Qodr : 1-5). Rasululah tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meraih Lailatul Qodr terutama pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan puasa (HR. Bukhori Muslim ). Dalam hal ini Rasulullah menyampaikan bahwa :

“Barangsiapa yang sholat pada malam lailatul qodr berdasarkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hr. Bukhori Muslim).

Mengapa semalam bernilai setara dengan seribu bulan?

Ummat terdahulu memiliki rata-rata usia yang cukup panjang, ada yang mencapai usia 1000 tahun bahkan ada yang lebih. Sebagian ulama mengatakan bahwa ummat dahulu ada yang belum mencapai usia baligh (cukup umur) hingga usia 80 tahun. Sebuah riwayat menjelaskan bahwa ada seorang yang meninggal di usia sekitar 200-an tahun, maka serentak banyak makhluk yang merasa simpati terhadapnya, karena ia telah meninggal dalam usia yang muda.

Juga diriwayatkan bahwa nabi Ibrohhim a.s berkhitan ketika usia beliau mencapai 80 tahun, ketika Allah memerintahkan untuk melakukannya. Diriwayatkan bahwa imam Al-Mahdi berusia panjang. Sampai saat ini beliau telah berusia 1164 tahun. Ummat terdahulu juga telah dipanjangkan umurnya seperti nabi Nuh ‘alaihissalam yang berusia lebih dari 1000 tahun; Luqman bin Ka’ab 400 tahun; ‘Abdulmasih bin Baqlah Al-Ghasani lebih dari 350 tahun; dan Ash-habul Kahfi yang hidup di dalam gua selama 309 tahun.

Rasululah SAW ketika merasakan bahwa usia ummatnya terlalu pendek bila dibandingkan dengan usia ummat sebelumnya, beliaupun memohon kepada Allah SWT, mengadukan tentang pendeknya usia ummat islam sehingga tidak cukup waktu bagi mereka untuk meperbanyak ketaatan kepada-Nya, serta untuk menambah amalan bagi akhiratnya. Dari do’a nabi SAW inilah lalu Allah SWT menganugerahkan kepada nabi dan ummat islam suatu malam yang disebut Lailatul Qodr, yang nilai kebaikannya setara dengan 1000 bulan.

Semalam setara seribu bulan karena pada malam itu turun para malaikat dan ruh dari terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar atau kira-kira 10 jam di sekitar khatulistiwa tahun ini. Semalam setara seribu bulan, artinya 1 malam = 1000 bulan = 30.000 malam = 300.000 jam = 18.000.000 menit 1.080.000.000 detik, atau 1 malam = 83 tahun 4 bulan.

Allah menjelaskan, para malaikat dan ruh (ditafsirkan Jibril) akan turun ke bumi menuju ke alam kasar semenjak terbenam matahari hingga terbit fajar. Perpindahan malaikat dari alam malakut (dimensi cahaya) menuju ke alam nasut (dimensi partikel) tidak setiap saat dapat terjadi, karena untuk berpindah dimensi, malaikat berarti melintasi cermin CP (C=charge conjugation, penolakan muatan dan P=parity, keseimbangan) dan meperlambat kecepatannya (kecepatan cahaya) mendekati kecepatan partikel. Ini sama dengan pengerahan energi secara kontinu yang kalau tidak sesuai prosedur yang ditentukan Allah, maka fatal jadinya (meledak, energy-overload).

Malaikat diciptakan oleh Allah dari nur atau cahaya. Malaikat adalah makhluk patuh, sehingga tidak mungkin akan mengganggu makhluk lain. Ia terbentuk dari cahaya yang sudah keluar dari bintang, sehingga memiliki sifat yang lebih dingin daripada setan yang tercipta dari netrino panas di pusat bintang. Cahaya merambat dengan kecepatan 300.000 km/s yang artinya sama dengan kecepatan pusingan medan skalar alam raya.

Pusingan ruang dalam kecepatan cahaya (300.000 km/s) adalah waktu mutlak, ia adalah ruang bulat dan bukan lonjong. Bila benda bergerak dengan kecepatan cahaya, yang artinya sama dengan kecepatan pusingan ruang atau waktu mutlak, maka benda itu akan membekukan waktu mutlak, sehingga ia akan terlepas dari perhitungan waktu. Tidak jadi soal, berapapun luas atau jauh jarak yang ditempuh benda itu, atau berapa kali dia mengelilingi alam raya, sepanjang bergerak dalam kecepatan itu ia tidak akan terkena hitungan waktu.

Waktu 1 detik bagi benda diperlebar tanpa batas, sehingga sepanjang bergerak dalam kecepatan itu ia akan kekal. Artinya, bila kita mampu bergerak dalam kecepatan cahaya, berapa kali pun keliling alam raya, perjalanan yang kita alami tidak akan memakan waktu 1 detik. Ini adalah ukuran waktu bagi dimensi waktu atau dimensi lembut. Pada dimensi ini tidak ada waktu “tadi” atau “nanti”. Kata ” tadi” atau “nanti” hanya berlaku pada dimensi-dimensi waktu nisbi, yang pusingan/kecepatannya kurang dari 300.000 km/s. Bagi benda di alam kasar yang tidak bergerak, usia alam raya sekarang 15 milyar (menurut hitungan tetatapan kosmis lambda) atau ½ menit menurut hitungan dimensi waktu.

Tidak semua malaikat dapat menjelma ke dimensi kasar. Malaikat yang mampu menembus dimensi manusia adalah sekelompok malaikat yang cerdas dan kuat (seperti Jibril), dan ia hanya akan tinggal sebentar karena untuk muncul di dimensi kasar memerlukan energi pengerem kecepatan. Dan sekali lagi ini hanya dapat dilakukan oleh malaikat yang memiliki kesadaran-atas-potensi sangat tinggi alias cerdas.

Inilah rahasia, mengapa peristiwa isra’ wal mi’raj terjadi pada malam seperti halnya malam Lailatul Qodr pada bulan suci ramadhan ini. Waktu malam sengaja Allah istimewakan bagi hamba-hamba yang ingin lebih bertaqarrub kepada-Nya, di saat semua makhluk sedang terlelap istirahat. Waktu malam adalah saat di mana cahaya matahari tidak bersinar, sehingga manusia tidak akan mampu melihat apapun kecuali dengan mata hati/bathinnya. Waktu malam hari inilah saat bagi hamba Allah yang khusyu’ untuk mengoptimalkan potensi ruhaninya hingga mampu berkelana ke ufuk alam semesta dan menembus alam lain -mendekat kepada Allah sedekat-dekatnya…

Sekarang akan kita hitung usia seorang mukmin yang dikaruniakan Allah Lailatul Qodr. Kita ambil contoh, bila si Fulan telah berusia 30 tahun, ia telah menjalankan ibadah ramadhan semenjak usia 15 tahun berarti ia telah menjumpai Lailatul Qodr sebanyak 15 kali. Selanjutnya bila selama 15 tahun itu dikaruniakan Lailatul Qodr oleh Allah 12 kali saja (yang 3 tahun selebihnya bolong-bolong), maka saat ini si Fulan tadi tidak lagi berusia 30 tahun, akan tetapi telah bertambah mengikuti persamaan Lailatul Qodr sebagai berikut:

U = Ui + (n x 83,4)

dengan:
U = usia hamba yang mendapatkan Lailatul Qodr (tahun)
Ui = usia hamba mula-mula (tahun)
n = orde Lailatul Qodr (tanpa satuan)
83,4 = 83 tahun sisa 4 bulan

Jadi usia Fulan saat ini adalah:

U = 30 + (12 x 83,4) tahun
= 30 + (1000,8) tahun

U = 1030,8 tahun

atau 1.030 tahun ditambah 8 bulan.

Sungguh usia yang fantastis untuk ukuran saat ini. Manusia tertua di planet bumi ini tidak lebih dari 200 tahun, sementara si Fulan telah 1000 tahun lebih. Dan dengan analogi demikian, usia hamba yang taat kepada Allah bisa dipastikan sudah mencapai ribuan tahun, karena dari perhitungan sederhana ini, semakin sering kita mendapatkan Lailatul Qodr, maka usia-U kita akan semakin meningkat menjadi usia-Ui dengan kelipatan 83 tahun 4 bulan.

Berapakah usia-Ui anda Sekarang? Berapa usia-U anda selepas ramadhan 1428 H ini?

Jawabnya adalah mengetahui terlebih dahulu, berapa orde Lailatul Qodr kita. Orde Lailatul Qodr didapat dengan melihat dua faktor berikut:

1) istiqomah menjalankan amalan-ramadhan secara imaniah-ihtisaabiah.
2) amalan-ramadhan membekas dengan meningkatnya amalan-ibadah selama 11 bulan pasca ramadhan.

Ketahuilah bahwa panjang umur dan penuh dengan ketaatan kepada Allah adalah sesuai sabda Rasululah,

“Sebaik-baik kamu adalah orang yang panjang umurnya dan baik pula amalannya” (HR. Tirmidzi)

Semoga Allah karuniakan Lailatul Qodr kepada kita tahun ini. Amien…19x






















| Terima kasih atas kunjungan Anda | thank's to MinZweb |