Pakar : Berawal dari Niat

June 16, 2007

Sabit Tua Jumadil Ula 1428 H

Filed under: Astronomy

Mau pake hisab atau rukyat? Pertanyaan jenis ini sering muncul ketika mengulas penanggalan Hijriyyah, terutama menyangkut penentuan awal Ramadhan, awal Syawwal (Idul Fitri) dan awal
Dzulhijjah (yang menjadi patokan bagi Idul Adha).

Dalam realitanya publik memang ‘terbelah’ dalam menyikapi penanggalan Hijriyyah ke dalam dua kutub : hisab dan rukyat, yang seakan-akan saling berhadapan secara diametral dan tidak bisa dicari titik temunya. ” Akan terus berbeda sampai hari Akhir, ” begitu gurauan pak Najib, sahabat saya yang hakim agama dan hampir tiap tahun puyeng ditanya-tanya soal ini.

Kepuyengan semacam ini tentunya tak perlu terjadi jika saja kita mengetahui antara hisab dan rukyat sebenarnya adalah dua sisi dari sekeping mata uang yang sama. Bahwa persoalan sebenarnya terletak pada definisi kita tentang “hilaal”. Dan jika definisi hilaal ini sudah tercapai titik temunya, maka hisab dan rukyat akan memberikan hasil yang sama. Ini bisa dianalogikan dengan menentukan waktu shalat dhuhur, misalnya. Karena definisi untuk awal shalat dhuhur sudah disepakati, yakni saat transitnya Matahari di meridian setempat (atau dengan bahasa sederhana, jika bayang-bayang tongkat lurus yang disinari cahaya Matahari tepat sejajar dengan arah utara-selatan sejati), maka baik menentukan waktu dhuhur dengan bayangan Matahari maupun murni berdasarkan tabulasi jadwal shalat, hasilnya sama saja. Mengapa bisa demikian? Ya karena astronomi adalah cabang ilmu dengan tingkat akurasi yang demikian tinggi khususnya ketika menelaah pergerakan Matahari dan Bulan.

Belum adanya definisi bersama tentang hilaal lebih disebabkan oleh kurangnya data. Jika Matahari hampir setiap hari bisa diamati, maka Bulan (khususnya pada fase sangat kecil seperti hilaal) hanya muncul pada waktu-waktu tertentu. Selama ini, di Indonesia, observasi hilaal hanya dilakukan maksimum 4 kali oleh para pengamat (1 waktu tambahan pada saat menentukan awal Muharram). Jumlah yang kurang ini masih ditambah dengan bias-nya kesimpulan terhadap hasil observasi,
dimana pengamat belum bisa membedakan apakah yang diamatinya benar-benar merupakan hilaal ataukah sumber cahaya lain baik di latar belakang (seperti Merkurius, Venus dan beberapa bintang terang) maupun latar depan (pantulan cahaya Matahari di awan, lampu mercusuar,
lampu kapal dll).

Peredaran Bulan mengelilingi Bumi membuat fase (baca : wajah) Bulan bersifat siklik, sehingga Bulan dengan fase sangat kecil selalu muncul pada dua kesempatan yang berbeda : beberapa belas jam setelah konjungsi (dikenal dengan sabit muda/hilaal) dan beberapa belas jam sebelum konjungsi (dikenal dengan istilah sabit tua). Karena dalam setahun Hijriyyah terdapat dua
belas lunasi, maka dalam setahun Hijriyyah terdapat 2 x 12 = 24 kesempatan untuk mengobservasi Bulan dalam fase sebagai hilaal ataupun sabit tua, sehingga data akan visibilitas hilaal/sabit tua bisa bertambah.

Dalam konteks tersebut, kami melakukan observasi sabit tua yang menandai akhir lunasi Jumadil Ula 1428 H, mengambil lokasi di Kompleks Islamic Centre Kebumen (7deg 40min LS 109deg 38min BT, 21 m dpl) menjelang fajar 14 Juni 2007. Tanggal ini dipilih karena pada fajar 15 Juni 2007 (tanggal terjadinya konjungsi), tinggi Bulan dan Matahari hampir sama sehingga secara teknis tidak mungkin saat itu sabit tua bisa diamati. Dari titik pengamatan, sabit tua diestimasikan muncul di lokasi Bukit Wonokromo, salah satu horst dari patahan Kedungbener sehingga secara teknis sabit tua baru bisa diamati jika ketinggiannya melebihi 3 derajat.

Observasi dilakukan dengan mata telanjang. Beberapa citra diambil dengan digicam DSC U-20 2 megapixel tanpa zoom. Sebagai petunjuk waktu dipakai internal clock ponsel Siemens C-45 yang telah dikalibrasi dengan 103-nya Telkom. Alat bantu lain yang digunakan adalah tabel tinggi Bulan vs waktu lokal (dalam WIB) yang diderivasikan dari MoonCalc v4.0 yang diset toposentrik, mengabaikan refraksi atmosfer dan kondisi sunrise/sunset geometrik. Lewat MoonCalc v4.0 juga
diketahui saat Matahari terbit (05:54 WIB) Bulan memiliki elemen : tinggi=14,38 derajat; azimuth=59,95 derajat (azimuth relatif= -6,63 derajat terhadap Matahari); elongasi=15,97 derajat; magnitude visual= -5,66; fase=2,2 %; lebar sabit=0,6 menit busur dan umur Bulan 28,3 jam sebelum konjungsi. Umur sabit (yakni waktu terbit Bulan dikurangi waktu terbit Matahari) adalah 70 menit. Sehingga dengan formula “best time” Yallop, sabit tua ini akan nampak sampai pukul 05:23 WIB.

Meski bulan Juni 2007 tergolong dalam musim kemarau, saat pengamatan ternyata lebih dari separuh langit timur tertutupi awan Cumulus yang secara perlahan bergerak ke utara. Namun di atas Bukit Wonokromo langit sempat relatif lebih bersih untuk beberapa saat. Ketika tiba di lokasi pengamatan (pukul 05:05 WIB) sabit tua sudah terlihat ‘mengapung’ di atas Bukit Wonokromo dengan cahaya cukup samar, dan lebih ke atas lagi nampak Mars yang kemerahan dan lebih
samar lagi. Selain sabit tua dan Mars, tidak ada lagi benda langit lain yang nampak. MoonCalc v4.0
menunjukkan saat itu tinggi sabit tua adalah 4 derajat.

Sabit tua hanya nampak sebagai goresan tipis dengan cahaya yang pucat tanpa bentuk lengkungan sabitnya yang khas. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh tebalnya awan di latar depan sabit tua. Jika tidak dilihat dengan cermat, sabit tua saat itu tidak berbeda dengan bintang. Namun peta langit timur dari Starry Night Backyard v3.1 menunjukkan di sekitar sabit tua hanya ada alpha Tauri (Aldebaran) dan alpha Persei (Mirfak). Berdasar Steve Moshier’s Ephemeris Program v5.6, tinggi alpha Tauri (magnitude visual +0,8) adalah 1,4 derajat dan secara teknis masih tertutupi Bukit Wonokromo. Sementara alpha Persei memiliki tinggi 7,5 derajat namun dengan magnitude
visual +1,8 (2,5 kali lebih gelap dibanding alpha Tauri dan 965 kali lebih gelap dari sabit tua), dengan analogi pengalaman pengamatan kami terhadap Sirius, maka pada kondisi awan saat itu tidak mungkin alpha Tauri terlihat mata telanjang.

Sabit tua hanya nampak hingga pukul 05:09 WIB, ketika awan Cumulus mulai berarak menutupinya. Hingga pukul 05:54 kondisi tidak berubah. Kondisi ketika sabit tua terakhir terlihat masih gelap, sehingga citra sabit tua tidak tertangkap oleh digicam. [Ma’rufin S]






















| Terima kasih atas kunjungan Anda | thank's to MinZweb |