Pakar : Berawal dari Niat

June 28, 2007

Makna Arah Kiblat

Filed under: Astronomy

Kiblat pertama Muslimin menuju ke arah Baitul Maqdis. Akan tetapi, karena orang-orang Yahudi menjadikannya sebagai bahan ejekan; dan selalu berkata :” Kalian Muslimin tidak memiliki agama yang tetap, oleh sebab itu kalian berdiri menghadap kiblat kami”.

Allah SWT Maha Mengetahui, sehingga tidak sekedar ejekan Yahudi, hikmah yang bisa kita petik dari pemindahan arah kiblat ini, namun juga secara geografis, andai kiblat tetap di Majidil Aqsha di Palestina; saat ini kita akan kesulitan menentukan arah kiblat.

Masjidil Aqsha berada di lokasi dengan koordinat LU sebesar 31°46′ 40.93″. Garis ini jelas tidak dilalui matahari saat MIHADAA, sebab paling pol (mentok) matahari akan melewati pada garis Lintang Utara tanggal 21 Juni, tepat berada di lintang 23.5° LU. Jadi mustahil kita menentukan arah kiblat dengan melihat bayangan matahri.

Ka’bah di Masjidil Haram kota Mekkah, berada di garis koordinat 21°25′20.94″ Lintang Utara. Garis ini di bawah 23.5° LU batas matahari melakukan Mihaadaa-nya. Jadi setiap 28 Mei dan 16 juli sore hari sekitar 16:20 menit waktu GMT+7, kita dapat menentukan arah kiblat yang cukup akurat namun mudah.

Gambar di bawah adalah lokasi Qiblat semula dan kini (by: Google Earth).

Gambar di bawah adalah Qiblat Pertama (model 3D by: Google Earth):

Maka dengan perintah Allah SWT kiblat tersebut diubah dari Baitul Maqdis ke Mekah. Setelah itu, orang-orang Yahudi mengajukan kritikan lain, yaitu bahwa jika kiblat yang pertama benar, maka kenapa kalian mengubahnya; dan jika kiblat kedua yang benar, maka salat kalian selama mengghadap kiblat pertama, adalah sia-sia.

Gambar di bawah adalah Qiblat saat ini dan seterusnya (model 3D by: Google Earth):

Akhir2 ini saya sering mendapat pertanyaan perihal arah kiblat yang benar. Dalam obrolan, sebagian mengatakan asal menghadap barat cukup, sebagian lain kiblat itu maknanya banyak…dst. Saya ndak habis pikir mengapa ini bisa terjadi. Sepertinya ini fenomena gunung es kesalahan dalam memahami makna dan hakekat kita diperintahkan menghadap kiblat.

Kalau menghadap kiblat (titik ka’bah) dianggap sepele, maka mengapa kiblat semual ke masjidil aqsha dipindah ke masjidil haram? disana ada hikmah sehingga kita bisa menentukan arah kiblat dengan mudah cukup melihat bayangan matahari. Dan saya yakin hikmah lainnya pasti ada. Dan dasarnya pun amat jelas dan kuat kalau ka’bah itu pusat dan ’sasaran’ pandangan ummat islam ini.

Firman Allah SWT dalam QS.5 (Al-Maidah):97 yang artinya:
“Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat bagi manusia”.

Karena pusat, maka menurut Agus Musthofa dalam bukunya “Pusaran Energi Ka’bah”, ka’bah akan memiliki power yang amat besar sebagai akibat dijadikannya ka’bah ini kiblat umat islam, dalam sholat, dan amal ibadah lainnya.

Kita sholat selalu mengikuti gerak matahari. Misal di Yogya saya sholat dhuhur, maka selang beberapa jam di wilayah barat juga akan sholat dhuhur, dan saat itu saya sudah masuk sholat ashar, dan begitu seterusnya, karena matahari bergerak ke barat.

Bila semua ummat islam dalam sholat, dalam dzikir, dalam menguburkan jenazah dan amalan2 lainnya; maka praktis semua energi akan mengarah ke barat ke titik yang sama yakni ka’bah. Kata Pak Agus Musthofa ini akan mengakibatkan perpedaan potensial energi yang amat tinggi antara Ka’bah dan tempat2 di bumi yang dihuni ummat islam. Dan bisa dibayangkan betapa besarnya energi yang terpancar dai Ka’bah akibat berbagai aktifitas di tadi.

Tentang arah kiblat ada yang pernah berkata, ‘Walau menghadap ke timur, khan nanti juga kembalinya ke ka’bah juga.’ Pendapat ini jelas tidak faham posisi dan koordinat tempat di permukaan bumi. Beralasan asal menghadap cukup, saya pikir ini salah besar. Ibarat
tali yang diikatkan ke globe bumi, bila salah satu bagian tali mengenai koordinat ka’bah, pasti
dimanapun posisi orang asal searah (dan mengambil jarak terdekat) pasti arahnya tepat.

Sebaliknya kalau sebagian tali tidak menyentuh koordinat ka’bah, ya…mustahil arahnya akan menuju ka’bah meski berjarak pandang ke ka’bah, apalagi berbeda negara berbeda benua dst.

Pak Ma’rufin - DP JAC, menjabarkan salah satu hikmah yang bisa diambil dari seputar kiblat dan pemindahannya dari al-Aqsa ke Ka’bah.

Salah satunya misalnya dari sudut pandang geologi. Kota Makkah dan hampir keseluruhan Tanah Hijaz itu berdiri di atas bagian kerak Bumi yang sudah sangat tua dan stabil, dan dikenal sebagai Arabian-Nubian Shield. Disini sangat jarang terjadi gempa. Beda dengan Jerusalem, yang berdiri di atas lintasan patahan besar Laut Mati, yang membentang dari Teluk Aqaba di barat daya hingga Pegunungan Taurus dan Van di Turki. Patahan besar ini masih aktif dan berulang kali menjadi generator gempa merusak sepanjang sejarahnya.

Salah satu gempa yang fenomenal (dan kontroversial) terjadi sekitar 2150 BCE ketika segmen
barat daya Laut Mati terpatahkan dan terdeformasi sehingga digenangi air Laut Mati. Gempa ini konon disertai letusan paroksimal (besar-besaran) gunung api yang bekas-bekasnya masih bisa dijumpai di dekat Bashan (Yordania) dan kemungkinan menghasilkan proses tektono-vulkanik. Kombinasi gempa dan letusan ini yang disebut-sebut menghancurkan kota Sodom, Gomorrah dan 5
pusat pemukiman lainnya yang menjadi hunian umat Nabi Luth AS. Apakah al-Aqsa bisa terkena gempa di masa mendatang? Kemungkinan itu sangat terbuka.

Bener, patahan besar Laut Mati sendiri akhirnya berlanjut ke Laut Merah yang berada di tengah
Arabian-Nubian Shield, membentuk Great Rift Valley, lembah terpanjang di Bumi (4.000-an km) yang membentang dari kaki Pegunungan Taurus hingga ke Danau Tanganyika di tengah Afrika. Namun patahan Laut Merah ini bersifat divergen dan tengah berproses menjadi mid oceanic ridge.

Divergensi ini telah ‘memekarkan’ Laut Merah secara perlahan selama 25 juta tahun terakhir
hingga Laut Merah kerap disebut ‘embrio samudra’, sama seperti Selat Makassar di Indonesia, hanya saja di Selat Makassar aktivitas pembukaannya sudah terhenti.

Pada patahan divergen ini aktivitas kegempaan tetap ada, namun lebih lemah dibandingkan patahan transformasi maupun zona subduksi. Dan patahan divergen ini juga tidak melintas langsung di Makkah, sehingga peluang Ka’bah terkena guncangan yang merusak dari gempa (yang misalnya) diproduksi oleh patahan divergen ini cukup kecil.

Memang, kelak ketika aktivitas pemekaran Laut Merah terus berlanjut, benturan mikrolempeng-mikrolempeng dasar Laut Merah vs Arabian Shield akan menghasilkan subduksi, dimana continental slope Arabian Shield akan terpatahkan ke atas (thrust) sementara mikrolempeng
tadi bergerak menunjam ke asthenosfer. Subduksi ini biasanya akan terbentuk dalam rentang jarak yang sangat besar sehingga kerap disebut megathrust. Kapan waktunya? Masih lama. Berkaca pada inisiasi subduksi lempeng India vs mikrolempeng Burma di segmen Simeulue, dibutuhkan waktu 50 juta tahun dari saat kedua lempeng mulai berinteraksi hingga subduksi terjadi, yang baru terdeteksi ketika terjadi gempa megathrust Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 silam. So, subduksi laut Merah mungkin baru terjadi sekitar 25 juta tahun mendatang.

Soal shalat mau menghadap ke mana, apa mau ke arah kiblat persis ataukah cukup ke barat (untuk kasus Indonesia), ya memang tergantung tiap orang. Namun, ketika metode untuk menentukan arah kiblat sudah ada, bahkan beragam, sementara alat-alat juga sudah tersedia, bahkan cara yang paling mudah dan murah pun sudah diperkenalkan, tidak terlalu sulit toh menghadapkan diri ke kiblat?

Berikut beberapa masjid yg sempat saya lihat validitas kiblatnya via QiblaLocator Ibnu Mas’ud:
1. Masjid Asy-Syakirin, Kualalumpur Malaysia:

2. Masjid Kampus UGM Yogyakarta Indonesia:

3. Masjid Syuhada Yogyakarta Indonesia:

4. Masjid Raya Bantul Yogyakarta Indonesia (masih kurang serong ke utara):

5. Masjid Kauman Salatiga Indonesia:

dan lain-lain.

Gambar berikut contoh masjid yg menghadap tidak (serong) ke arah kiblat, namun shof di dalam masjid diatur sehingga sholat jama’ah tetap menghadap kiblat:
1. Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Indonesia:

2. Masjid Agung Kauman (Alun-alun) Yogyakarta Indonesia:

Tetapi saya lupa, apakah di dalamnya arah shof sudah diarahkan ke kiblat belum…semoga sudah.
Nah, masjid PPMI Assalaam mengalami kasus serupa Masjid Agung Kauman DIY ini. [pakar]

June 23, 2007

Mihaadaa=Ayunan

Filed under: Astronomy

adalah AYUNAN…?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Allah SWT berfirman dalam :

1. QS. 78. An-Naba’ / ٧٨ النبأ ayat ke-6:

Artinya, " Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan ?,".

2. QS. 20. Thaahaa / ٢٠ طه ayat ke-53:

Artinya, " Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. "

Dari dua ayat ini kita memahami bahwa arti kata "mihaadaa" pada ayat ke-6 surat An-Nabaa dan kata "mahdan" pada ayat ke-53 surat Thooha, mestinya serupa. Dan di sana kita mendapatkan hal yang benar adanya yakni Tafsir Depag mengatakan bahwa "mahdan" dan "mihaadaa" adalah ‘hamparan’.

Saya hanya teringat ketika belajar mahfudlot, di sana diajarkan dan disuruh menghafalkan, makanya saya hafal sampai sekarang. Bunyi mahfudlot itu begini: "Uthlubil Ilma minal Mahdi Ilaa ‘lLahdi." Artinya "Tuntulah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat". Bahkan ini juga hadits. Tetapi bukan hadits atau mahfudlot masalahnya, namun kata "Mihaadaa" itu sebenarnya apa..?

Di kitab suci al-Qur’an cetakan manapun kita akan mendapatkan bahwa "Mihaadaa" adalah hamparan. Namun saya berkeyakinan sedikit lain. Menurut saya "mihaadaa" adalah yaa seperti di mahfudlot tadi, yakni "buaian".

Apakah "BUAIAN" itu..?

Berdasar mahfudlot di atas, BUAIAN yang dimaksud adalah masa kanak-kanak atau masa bayi. Kita diwajibkan menuntut ilmu dari bayi/lahir sampai liang lahat atau sampai meninggal. Belajar seumur hidup. Long Live Education….

Jadi kata "MIHAADAA" berarti "BUAIAN" atau "AYUNAN".

Gambar di bawah memperlihatkan proses ayunan atau buaian adalah gerak bolaki-balik melalui titik setimbang.

Lalu BUAIAN yang seperti apa..? Bumi yang membuai…atau dibuai…maksudnya bagaimana?

Bumi sebenarnya telah lama semenjak diciptakan oleh Allah SWT, Tuhan Pencipta Alam Semesta ini juga telah dibuai. Bukankah bumi kita ini yang setiap hari bergerak sangat cepat sekitar 1600 km/jam juga bergerak ke kiri dan ke kanan? Gerakan inilah yang mengakibatkan posisi matahari terbit dan tenggelam kita lihat bergeser ke utara dan ke selatan setiap tahunnya.

Gambar di bawah menjelaskan posisi bumi yang terbuai.

Jadi firman Allah dalam QS. 78:6-" Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai HAMPARAN ?," mestinya bisa kita pahami sebagai " Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai BUAIAN ?,".  Begitu juga QS.20:53. Serta surah lainnya yang mengandung kata² "mahada" atau derifatnya.

Pergeseran matahari seperti ini, merupakan akibat bumi berevolusi mengelilingi matahari dan sumbu rotasinya membentuk sudut 47° terhadap bidang ekliptika dengan kemiringan tetap. Akibat revolusi bumi antara lain, pada setiap tanggal 21 Juni, matahari akan berada di garis balik utara yakni lintang 23.5° utara khatulistiwa.

Matahari sepanjang tahun mengalami pergeseran ke utara dan ke selatan, yakni pada:

1. tanggal 21 Maret, tepat beredar di khatulistiwa. Matahari terbit dan terbenam tepat di titik timur dan barat.

2. tanggal 21 Juni, tepat berada di lintang 23.5° LU.

3. tanggal 23 September, tepat berada di khatulistiwa lagi, matahari terbit dan terbenam tepat di titik timur dan barat.

4. tanggal 22 Desember, tepat berada di lintas 23.5° LS.

Dalam QS. (51) Adz-Dzariyaat / ٥١ الذاريات ayat ke - 48 Allah SWT berfirman yang artinya: "Dan bumi itu Kami beri dian medan (gravitasi), maka sebaik-baik yang menggoyang (buai/ayun)kan (adalah Kami)."

Demikian MIHAADA….Wa Allahu a’lamu…[pakar].

June 18, 2007

Hilal Hari ke-2

Filed under: Astronomy

Kapan melihat HILAL BARU Jumadil Tsaniyah 1428 H…?
Semestinya, hari Pertama melihat hilal baru bulan Jumadil Akhirah/Tsaniyah 1428 H ini pada Jum’at 15 Juni 2007, karena konjungsi terjadi pada Jum’at 15 Juni 2007 jamt 03:13 UT, atau sekitar 09.13 WIB.

Namun karena altitude Hilal saat Sunset tidak lebih dari 2°, maka tidak mungkin hilal baru akan tampak pada hari Jum’at sore (maghrib) dilihat dari Indonesia seluruhnya. Visibilitas Hilal Jumadil Tsaniyah 1428 H.

Akhirnya, saya berniat melihatnya di hari Sabtu karena sangat mungkin walau dengan mata telanjang. Semula ragu mau melihatnya di hari Sabtu 16 Juni 2007 karena sekilas langit di harizon barat agak mendung. Nah, ini kebetulan yang membawa kebahagiaan…Saat mau pulang ke Klaten, saya mampir di Markaz ‘Benteng Takeshi’ kompleks barat PPMI Assalaam atau yang oleh kebanyakan teman dikenal sebagai kompleks ATC…menjelang kamar transit…Subhanallah……

Hilal itu tampak sangat jelas…dan saya pun bersyukur….baru kali ini melihat hilal sejelas ini:

Kalau temen di JAC berhasil merekan Hilal hari ke-2 ini di Parangkusumo, seperti alasan Pak Toha “Dipilihnya hari kedua pasca ijtimak/konjungsi karena beberapa pertimbangan diantaranya separoh lebih anggota yang ikut adalah newbie yang baru pertama kali mengikuti kegiatan rukyat”.

Ternyata sama kesan saya, bahwa harapannya hilal akan terlihat dengan jelas karena sesuai hisab/perhitungan secara astronomis iluminasi bulan sudah mencapai 2% dengan tinggi hilal saat sunset sudah mencapai 14° sehingga mudah dilihat.

Selama hampir 15 menit saya tidak beranjak dari lokasi yang mendadak saya temukan…ya, di lapangan sepak bola PPMI Assalaam kompleks barat. Semoga Allah mengampuni saya, karena di Masjid ada sholat maghrib berjama’ah, saya malah asyik merekam Hilal.

Pemandangan ke arah horizon barat menjadi sangat indah karena dua buah gunung besar yakni Merapi dan Merbabu menampakkan rona silhuetnyanya. Posisi hilal kebetulan tidak di jam 12 melainkan sekitar jam 2, sehingga sampai elongasi terkecilpun saya masih sempat melihat, merekam bahkan ‘menggenggam’nya.

Sekali lagi aku bersyukur…dan setelah lega aku akhirnya…masuk kamar…lalu mandi dan sholat maghrib, terus mudik ke Klaten…(ada kondangan, hehehe).

Inilah HILAL BARU hari ke-2 untuk bulan Jumadil Tsaniyah 1428 H. Citra saya ambil dengan Canon EOS Digital N series ISO 400, AWB, f/5.6, AV/8″.

see you ….and thank’s for your visiting. [pakar]

Konferensi Astronomi di Abu Dhabi

Filed under: Astronomy, Islam

Under the patronage of His Highness Sheikh Mansour Bin Zayed Al Nahyan, minister of presidential affairs, the Emirates Astronomical Society (EAS), the Islamic Crescents’ Observation Project (ICOP), and the Center for Documentation and Research (CDR) organized an astronomical conference on “Applications of Astronomical Calculations” in Abu Dhabi on 13-14 December 2006 (22-23 Dhul Keadah 1427 AH). The participants, who numbered over 100 from 26 countries (Algeria, Australia, Egypt, France, Germany, Great Britain, Holland, Indonesia, Iran, Iraq, Jordan, KSA, Kuwait, Libya, Malaysia, Morocco, Norway, Oman, Palestine, Qatar, Singapore, Syria, Tunisia, UAE, Yemen, and USA), exalted the conference for its high scientific level and adopted the following recommendations:

1. Set up a committee to evaluate the conference from all aspects and make recommendations for the next conference.

2. Consider this conference as the first in a series of “Emirates Astronomical Conferences” and organize similar ones every two years.

3. Adopt an Islamic Calendar based on crescent visibility calculations and strive to make it as widely acceptable as possible.

4. Reject all testimonies of crescent observations that claim to break the well known records (Moon age, lag time, and particularly the Danjon limit) unless and until they are confirmed and accepted by the astronomical expert community.

5. Include astronomers with expertise in crescent visibility in the official committees that determine the beginning of Hejric months.

6. Continue and strengthen the studies of prayer times and publicize these studies.

7. Start the study for the creation of a UAE national observatory for astronomical research.

8. Introduce chapters and modules on applied astronomy in the educational curricula.

9. Introduce regular newspaper and magazine columns and TV programs on Astronomy in place of Astrology, and publish Moonrise and Moonset times in the newspapers.

10. Publish the proceedings book with high scientific standards at the earliest and distribute to libraries so as to make it a prime reference on the subject for all researchers.

11. Publish a summary article about the conference in newspapers and magazines.

12. Post the main recommendations and results of this first conference on the ICOP’s website and on partner websites.

Recommendations Related to the Islamic Crescents’ Observation Project (ICOP)

1. On the other hand, the participants discussed ICOP’s future and adopted the following recommendations:-

2. Set up an Executive Committee with clear prerogatives.

3. Establish new committees in ICOP, with a specific mandate and detailed agenda for each committee:
Scientific committee.
Educational committee.
Media committee.
Committee to finalize the new general objectives and future program of ICOP.

4. Publish an annual report for ICOP, with report sections for each committee.

5. Publish an annual report on the “State of Astronomy in the Muslim World”, with figures and information to be published in the media.

6. Develop the ICOP website to be pluri-lingual, particularly in the Arabic language.

7. Strengthen the scientific and educational activities of the project.

8. Strive to reach wider audiences, especially those with influence within society: officials, religious authorities, educators.

9. Organize local and regional workshops to train amateurs, educators and students on astronomical applications in Islam (crescent sighting, calendars, prayer times, Qiblah Direction).

10. Strengthen media activity and outreach on astronomical applications in Islam.

11. Recommend and encourage crescent sightings by groups and include astronomers whenever possible in order to reduce false crescent sightings.

12. Raise the knowledge content (articles, etc.) of the ICOP website so as to make it the prime reference on the subject for researchers everywhere.

From:
ICO Project.

June 16, 2007

Sabit Tua Jumadil Ula 1428 H

Filed under: Astronomy

Mau pake hisab atau rukyat? Pertanyaan jenis ini sering muncul ketika mengulas penanggalan Hijriyyah, terutama menyangkut penentuan awal Ramadhan, awal Syawwal (Idul Fitri) dan awal
Dzulhijjah (yang menjadi patokan bagi Idul Adha).

Dalam realitanya publik memang ‘terbelah’ dalam menyikapi penanggalan Hijriyyah ke dalam dua kutub : hisab dan rukyat, yang seakan-akan saling berhadapan secara diametral dan tidak bisa dicari titik temunya. ” Akan terus berbeda sampai hari Akhir, ” begitu gurauan pak Najib, sahabat saya yang hakim agama dan hampir tiap tahun puyeng ditanya-tanya soal ini.

Kepuyengan semacam ini tentunya tak perlu terjadi jika saja kita mengetahui antara hisab dan rukyat sebenarnya adalah dua sisi dari sekeping mata uang yang sama. Bahwa persoalan sebenarnya terletak pada definisi kita tentang “hilaal”. Dan jika definisi hilaal ini sudah tercapai titik temunya, maka hisab dan rukyat akan memberikan hasil yang sama. Ini bisa dianalogikan dengan menentukan waktu shalat dhuhur, misalnya. Karena definisi untuk awal shalat dhuhur sudah disepakati, yakni saat transitnya Matahari di meridian setempat (atau dengan bahasa sederhana, jika bayang-bayang tongkat lurus yang disinari cahaya Matahari tepat sejajar dengan arah utara-selatan sejati), maka baik menentukan waktu dhuhur dengan bayangan Matahari maupun murni berdasarkan tabulasi jadwal shalat, hasilnya sama saja. Mengapa bisa demikian? Ya karena astronomi adalah cabang ilmu dengan tingkat akurasi yang demikian tinggi khususnya ketika menelaah pergerakan Matahari dan Bulan.

Belum adanya definisi bersama tentang hilaal lebih disebabkan oleh kurangnya data. Jika Matahari hampir setiap hari bisa diamati, maka Bulan (khususnya pada fase sangat kecil seperti hilaal) hanya muncul pada waktu-waktu tertentu. Selama ini, di Indonesia, observasi hilaal hanya dilakukan maksimum 4 kali oleh para pengamat (1 waktu tambahan pada saat menentukan awal Muharram). Jumlah yang kurang ini masih ditambah dengan bias-nya kesimpulan terhadap hasil observasi,
dimana pengamat belum bisa membedakan apakah yang diamatinya benar-benar merupakan hilaal ataukah sumber cahaya lain baik di latar belakang (seperti Merkurius, Venus dan beberapa bintang terang) maupun latar depan (pantulan cahaya Matahari di awan, lampu mercusuar,
lampu kapal dll).

Peredaran Bulan mengelilingi Bumi membuat fase (baca : wajah) Bulan bersifat siklik, sehingga Bulan dengan fase sangat kecil selalu muncul pada dua kesempatan yang berbeda : beberapa belas jam setelah konjungsi (dikenal dengan sabit muda/hilaal) dan beberapa belas jam sebelum konjungsi (dikenal dengan istilah sabit tua). Karena dalam setahun Hijriyyah terdapat dua
belas lunasi, maka dalam setahun Hijriyyah terdapat 2 x 12 = 24 kesempatan untuk mengobservasi Bulan dalam fase sebagai hilaal ataupun sabit tua, sehingga data akan visibilitas hilaal/sabit tua bisa bertambah.

Dalam konteks tersebut, kami melakukan observasi sabit tua yang menandai akhir lunasi Jumadil Ula 1428 H, mengambil lokasi di Kompleks Islamic Centre Kebumen (7deg 40min LS 109deg 38min BT, 21 m dpl) menjelang fajar 14 Juni 2007. Tanggal ini dipilih karena pada fajar 15 Juni 2007 (tanggal terjadinya konjungsi), tinggi Bulan dan Matahari hampir sama sehingga secara teknis tidak mungkin saat itu sabit tua bisa diamati. Dari titik pengamatan, sabit tua diestimasikan muncul di lokasi Bukit Wonokromo, salah satu horst dari patahan Kedungbener sehingga secara teknis sabit tua baru bisa diamati jika ketinggiannya melebihi 3 derajat.

Observasi dilakukan dengan mata telanjang. Beberapa citra diambil dengan digicam DSC U-20 2 megapixel tanpa zoom. Sebagai petunjuk waktu dipakai internal clock ponsel Siemens C-45 yang telah dikalibrasi dengan 103-nya Telkom. Alat bantu lain yang digunakan adalah tabel tinggi Bulan vs waktu lokal (dalam WIB) yang diderivasikan dari MoonCalc v4.0 yang diset toposentrik, mengabaikan refraksi atmosfer dan kondisi sunrise/sunset geometrik. Lewat MoonCalc v4.0 juga
diketahui saat Matahari terbit (05:54 WIB) Bulan memiliki elemen : tinggi=14,38 derajat; azimuth=59,95 derajat (azimuth relatif= -6,63 derajat terhadap Matahari); elongasi=15,97 derajat; magnitude visual= -5,66; fase=2,2 %; lebar sabit=0,6 menit busur dan umur Bulan 28,3 jam sebelum konjungsi. Umur sabit (yakni waktu terbit Bulan dikurangi waktu terbit Matahari) adalah 70 menit. Sehingga dengan formula “best time” Yallop, sabit tua ini akan nampak sampai pukul 05:23 WIB.

Meski bulan Juni 2007 tergolong dalam musim kemarau, saat pengamatan ternyata lebih dari separuh langit timur tertutupi awan Cumulus yang secara perlahan bergerak ke utara. Namun di atas Bukit Wonokromo langit sempat relatif lebih bersih untuk beberapa saat. Ketika tiba di lokasi pengamatan (pukul 05:05 WIB) sabit tua sudah terlihat ‘mengapung’ di atas Bukit Wonokromo dengan cahaya cukup samar, dan lebih ke atas lagi nampak Mars yang kemerahan dan lebih
samar lagi. Selain sabit tua dan Mars, tidak ada lagi benda langit lain yang nampak. MoonCalc v4.0
menunjukkan saat itu tinggi sabit tua adalah 4 derajat.

Sabit tua hanya nampak sebagai goresan tipis dengan cahaya yang pucat tanpa bentuk lengkungan sabitnya yang khas. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh tebalnya awan di latar depan sabit tua. Jika tidak dilihat dengan cermat, sabit tua saat itu tidak berbeda dengan bintang. Namun peta langit timur dari Starry Night Backyard v3.1 menunjukkan di sekitar sabit tua hanya ada alpha Tauri (Aldebaran) dan alpha Persei (Mirfak). Berdasar Steve Moshier’s Ephemeris Program v5.6, tinggi alpha Tauri (magnitude visual +0,8) adalah 1,4 derajat dan secara teknis masih tertutupi Bukit Wonokromo. Sementara alpha Persei memiliki tinggi 7,5 derajat namun dengan magnitude
visual +1,8 (2,5 kali lebih gelap dibanding alpha Tauri dan 965 kali lebih gelap dari sabit tua), dengan analogi pengalaman pengamatan kami terhadap Sirius, maka pada kondisi awan saat itu tidak mungkin alpha Tauri terlihat mata telanjang.

Sabit tua hanya nampak hingga pukul 05:09 WIB, ketika awan Cumulus mulai berarak menutupinya. Hingga pukul 05:54 kondisi tidak berubah. Kondisi ketika sabit tua terakhir terlihat masih gelap, sehingga citra sabit tua tidak tertangkap oleh digicam. [Ma’rufin S]

June 5, 2007

Menangkap Kilat

Filed under: Fotografi

Saya mencoba menangkap kilat yang sedang menampakkan diri walau sangat singkat waktunya. Ide sederhana ini saya lakukan setelah Pak Toha MMC mengajak untuk mencoba menangkap objek astronomis menggunakan DSLR EOS series. Iseng sebelum menangkap planet, bintang ataupun galaksi, yang kebetulan agak sulit seiring cuaca yang kurang kondosif, maka justru ketika mendung dan berkali-kali muncul kilatan petir…saya coba untuk mengabadikannya. (Maaf Pak Toha belom sempat mainke Markas JAC).

Kilat yang bisa saya cepret…pendek2 tapi lumayan terlihat. Sebab melihat secara langsung pastilah mustahil kecuali sekedar cemerlangnya langit sejenak saat kilat menyambar.

Kilat atau Petir atau Gludug atau Halilintar..? menurut yang saya ketahui sejak saya kecil, 1) kilat itu cahayanya, 2) petir itu suaranya, 3) gludug itu nama lain jowonya petir, dan 4) halilintar itu kalau suaranya menakutkan. Semoga kalau pemahaman saya ini kurang pas dapat dimaafkan.

Sebelum bicara kilat ataupun petir atau geledek dan halilintar, mari kita simak beberapa ayat Allah berikut ini:

QS.13. Ar-Ra’d:
12. Dia-lah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung.

QS.24. An-Nuur:
43. Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.

QS.30. Ar-Ruum:
24. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.

KILAT adalah sebuah discharge elektrostatik alam yang kuat terjadi pada saat “thunderstorm”. Pelepasan muatan listrik yang tiba-tiba dibarengi dengan pemancaran cahaya tampak dan bentuk radiasi elektromagnetik lainnya. Arus listrik yang melalui saluran dischrage dengan cepat memanaskan dan mengembangkan udara menjadi sebuah plasma, menciptakan gelombang shock akustrik (geledek) di atmosfer.

Pada awal penyelidikan listrik melalui tabung Leyden dan peralatan lainnya, sejumlah orang (Dr. Wall, Gray, Abbé Nollet) mengusulkan ’spark’ skala kecil memiliki beberapa kemiripan dengan kilat.

Benjamin Franklin, yang juga menemukan lightning rod, berusaha mengetes teori ini dengan menggunakan sebuah tiang yang didirikan di Philadelphia. Selagi dia menunggu penyelesaian tiang tesebut. beberapa orang lainnya (Dalibard dan De Lors) melakukan di Marly di Perancis apa yang kemudian dikenal sebagai eksperimen Philadelphia yang Franklin usulkan di bukunya.

Franklin biasanya mendapatkan kredit untuk menjadi yang pertama mengusulkan eksperimen ini, karena dia tertarik dalam cuaca. (Dia mencipatakan ilmu meteorologi.)

Meskipun eksperimen dari masa Franklin menunjukkan bahwa kilat adalah sebuah discharge dari listrik statik, hanya ada sedikit peningkatan dalam teori ini selama lebih dari 150 tahun. Pendorong untuk riset baru berasal dari bidang teknik tenaga: jalur transmisi tenaga digunakan dan teknisi ingin mengetahui lebih banyak tentang kilat. Meskipun sebabnya diperdebatkan (dan masih berlanjut sampai sekarang), riset menghasilkan banyak informasi baru tentang fenomena kilat, terutama jumlah arus dan energi yang terdapat.

PETIR atau halilintar merupakan gejala alam yang biasanya muncul pada musim hujan di mana di langit muncul kilatan cahaya sesaat yang menyilaukan yang beberapa saat kemudian disusul dengan suara menggelegar. Perbedaan waktu kemunculan ini disebabkan adanya perbedaan antara kecepatan suara dan kecepatan cahaya.

Petir adalah gejala alam yang bisa kita analogikan dengan sebuah kapasitor raksasa, di mana lempeng pertama adalah awan (bisa lempeng negatif atau lempeng positif) dan lempeng kedua adalah bumi (dianggap netral). Seperti yang sudah diketahui kapasitor adalah sebuah komponen pasif pada rangkaian listrik yang bisa menyimpan energi sesaat (energy storage).

Petir terjadi karena ada perbedaan potensial antara awan dan bumi. Proses terjadinya muatan pada awan karena dia bergerak terus menerus secara teratur, dan selama pergerakannya dia akan berinteraksi dengan awan lainnya sehingga muatan negatif akan berkumpul pada salah satu sisi (atas atau bawah), sedangkan muatan positif berkumpul pada sisi sebaliknya. Jika perbedaan potensial antara awan dan bumi cukup besar, maka akan terjadi pembuangan muatan negatif (elektron) dari awan ke bumi atau sebaliknya untuk mencapai kesetimbangan. Pada proses pembuangan muatan ini, media yang dilalui elektron adalah udara. Pada saat elektron mampu menembus ambang batas isolasi udara inilah terjadi ledakan suara. Petir lebih sering terjadi pada musim hujan, karena pada keadaan tersebut udara mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga daya isolasinya turun dan arus lebih mudah mengalir. Karena ada awan bermuatan negatif dan awan bermuatan positif, maka petir juga bisa terjadi antar awan yang berbeda muatan.

Perlindungan terhadap Sambaran Petir
Manusia selalu mencoba untuk menjinakkan keganasan alam, salah satunya adalah bahaya sambaran petir. Ada beberapa metode untuk melindungi diri danlingkungan dari sambaran petir. Metode yang paling sederhana tapi sangat efektif adalah metode Sangkar Faraday. Yaitu dengan melindungi area yang hendak diamankan dengan melingkupinya memakai konduktor yang dihubungkan dengan pembumian.

Contoh penangkal petir adalah seperti gambar berikut:

Alat proteksi penangkal petir ini bernama “Prevectron 2 - INDELEC” diimpor dari negara Perancis yang dapat digunakan dengan cara ditempatkan di atas berbagai macam bangunan seperti pemancar, gedung bertingkat, rumah tinggal, rumah sakit, mal/rukan/ruko, dan lainnya. Alat ini selanjutnya dihubungkan dengan kawat konduktor yang ditancapkan ke dalam bumi sebagai ground, atau tempat kembalinya sang petir. Jadi sama dengan kita2, kalau udah saatnya…yaa akan dikembalikan ke bumi juga.

Download suara petir ~ 141 KB






















| Terima kasih atas kunjungan Anda | thank's to MinZweb |