Pakar : Berawal dari Niat

May 24, 2007

Hari Arah Qiblat

Filed under: Astronomy, Islam

Ke arah Masjidil Haram, ke arah Ka’bah, kita menghadap dalam setiap sholat kita. Arah ini simbol penyatuan semua gerak alam semesta menuju sang Khaliq. Kita semua dari Allah dan kita semua akan kembali kepada-Nya.

Hari Senin tanggal 28 Mei 2007 jam 16:18 WIB, dan Senin tanggal 16 Juli 2007 jam 16:26 WIB, adalah Hari Arah Qiblat. Di dua hari ini kita dapat menentukan arah qiblat dengan seksama tetapi begitu mudah.

Allah SWT berfirman:

“Dan dari mana saja engkau keluar (untuk mengerjakan shalat), maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (Ka’bah), dan sesungguhnya perintah berkiblat ke Ka’bah itu adalah benar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), Allah tidak sekali-kali lalai akan segala apa yang kamu lakukan.” ( QS. Al-Baqarah : 149 )

“ Baitullah ( Ka’bah ) adalah kiblat bagi orang-orang di dalam Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Haram adalah kiblat bagi orang-orang yang tinggal di Tanah Haram ( Makkah ) dan Makkah adalah qiblat bagi seluruh penduduk bumi, Timur dan Barat dari umatKu” ( Hadith Riwayat Al-Baihaqi )

Dalam ajaran Islam, mengadap ke arah kiblat ( Masjidil Haram / Ka’bah ) adalah suatu tuntutan syariah di dalam melaksanakan ibadah tertentu, ia wajib dilakukan ketika hendak mengerjakan shalat dan menguburkan jenazah orang Islam, ia juga merupakan sunah ketika azan, berdoa, berzikir, membaca Al-Quran, menyembelih binatang dan sebagainya.

Berdasarkan tinjauan astronomis atau falak, terdapat beberapa teknik yang dapat digunakan untuk meluruskan arah kiblat antaranya menggunakan kompas, theodolit, rasi bintang serta fenomena transit utama matahari di atas kota Mekkah yang dikenal dengan istilah Istiwa A’zam (Istiwa Utama). Di kalangan pesantren di Indonesia istilah yang cukup dikenal adalah “zawal” atau “rashdul qiblat”.

Di atas Ka’bah matahari tepat berada di titik Zenith saat Istiwa A’zam. Istiwa adalah fenomena astronomis saat posisi matahari melintasi meridian langit. Dalam penentuan waktu shalat, istiwa digunakan sebagai pertanda masuknya waktu shalat Zuhur. Pada saat tertentu di sebuah daerah dapat terjadi peristiwa
yang disebut Istiwa Utama atau ‘Istiwa A’zam’ yaitu saat posisi matahari berada tepat di titik Zenith (tepat di atas kepala) suatu lokasi.

Namun peristiwa ini hanya terjadi di daerah antara 23,5˚ Lintang Utara dan 23,5˚ Lintang Selatan. Istiwa Utama yang terjadi di kota Makkah dimanfaatkan oleh kaum Muslimin di negara-negara sekitar Arab khususnya yang berbeda waktu tidak lebih dari 5 (lima) jam untuk menentukan arah kiblat secara presisi menggunakan teknik bayangan matahari. Istiwa A’zam di Makkah terjadi dua kali dalam setahun yaitu pada tanggal 28 Mei sekitar pukul 12.18 Waktu Makkah dan 16 Juli sekitar pukul 12.26 Waktu Makkah. Fenomena Istiwa Utama terjadi akibat gerakan semu matahari yang disebut gerak tahunan matahari (musim) sebab selama bumi beredar mengelilingi matahari sumbu bumi miring 66,5˚ terhadap bidang edarnya sehingga selama setahun terlihat di bumi matahari mengalami pergeseran 23,5˚ LU sampai 23,5˚ LS. Saat nilai
azimuth matahari sama dengan nilai azimuth lintang geografis sebuah tempat maka di tempat tersebut terjadi Istiwa Utama yaitu melintasnya matahari melewati zenith. Gambar di bawah, yang mungkin untuk melihat matahari saat istiwa utama (daerah terang).

Teknik penentuan arah kiblat menggunakan Istiwa Utama sebenarnya sudah dipakai lama sejak ilmu falak berkembang di Timur Tengah. Demikian halnya di Indonesia dan beberapara negara-negara Islam yang lain juga banyak menggunakan teknik ini. Sebab teknik ini memang tidak memerlukan perhitungan yang rumit dan siapapun dapat melakukannya. Yang diperlukan hanyalah sebilah tongkat dengan panjang lebih kurang 1 meter dan diletakkan berdiri tegak di tempat yang datar dan mendapat sinar matahari. Pada tanggal dan jam saat terjadinya peristiwa Istiwa Utama tersebut simak bayangan yang terjadi.

Karena di negara kita peristiwanya terjadi pada sore hari maka arah bayangan tongkat adalah ke Timur, sedangkan arah bayangan sebaliknya yaitu yang ke arah Barat agak serong ke Utara merupakan arah kiblat yang benar. Cukup sederhana dan tidak memerlukan ketrampilan khusus serta perhitungan perhitungan rumus-rumus. Jika hari itu gagal karena matahari terhalang oleh mendung maka masih diberi roleransi penentuan dilakukan pada H-1 atau H+1. Saat matahari di atas Ka’bah semua bayangan matahari mengarah ke sana. Gambar di bawah memperlihatkan semua bayangan saat matahari di atas Ka’bah.

Penentuan arah kiblat menggunakan teknik seperti ini memang hanya berlaku untuk daerah-daerah yang pada saat peristiwa Istiwa Utama dapat melihat secara langsung matahari dan untuk penentuan waktunya menggunakan konversi waktu terhadap Waktu Makkah. Sementara untuk daerah lain di mana saat itu matahari sudah terbenam misalnya wilayah Indonesia bagian Timur praktis tidak dapat menggunakan teknik ini. Sedangkan untuk sebagian wilayah Indonesia bagian Tengah barangkali masih dapat menggunakan teknik ini karena posisi matahari masih mungkin dapat terlihat. Namun demikian masih ada teknik lain yang juga menggunakan bayangan matahari untuk menentukan arah kiblat dari suatu tempat di seluruh permukaan bumi yang akan dibahas nanti pada artikel berikutnya.

Berdasarkan perhitungan astronomis menggunakan program Simulator Planetarium Starrynight diperoleh posisi matahari secara presisi saat terjadinya Istiwa Utama di Makkah tahun 2007 ini.

1. Senin:
Tanggal 28 Mei 2007 pukul 09:18:37 GMT
atau 12: 18:37 Waktu Makkah
atau 16:18:37 WIB

2. Senin:
Tanggal 16 Juli 2007 pukul 09.26 GMT
atau 12.26 Waktu Mekkah (GMT+3)
atau 16.26 WIB (GMT+7)

dengan posisi matahari berada di azimuth 294° 42.792′ dan ketinggian (altitude) 14° 37.9′. Seperti tertera pada gambar di bawah ini.

Teknik Penentuan Arah Kiblat menggunakan Istiwa Utama :
1. Tentukan lokasi masjid/mushalla/langgar atau rumah yang akan diluruskan arah kiblatnya. Sediakan tongkat lurus sepanjang 1 sampai 2 meter dan peralatan untuk memasangnya. Siapkan juga jam/arloji yang sudah dikalibrasi waktunya secara tepat dengan radio/televisi/internet.

2. Cari lokasi di samping atau di halaman masjid yang mendapatkan penyinaran matahari pada jam-jam tersebut serta memiliki permukaan tanah yang datar dan pasang tongkat secara tegak dengan bantuan pelurus berupa tali dan bandul.

3. Tepat pada saat istiwa a’zam terjadi amatilah bayangan matahari yang terjadi (toleransi +/- 2 menit). Di Indonesia peristiwa Istiwa Utama terjadi pada sore hari sehingga arah bayangan menuju ke Timur. Sedangakan bayangan yang menuju ke arah Barat agak serong ke Utara merupakan arah kiblat yang tepat.

4. Gunakan tali, tembok atau pantulan sinar matahari menggunakan cermin untuk meluruskan lokasi ini ke dalam masjid / rumah dengan menyejajarkannya terhadap arah bayangan. Tidak hanya tongkat yang dapat digunakan untuk melihat bayangan. Menara, gedung, tiang listri, tiang bendera atau benda-benda lain yang tegak. Atau dengan teknik lain misalnya bandul yang kita gantung menggunakan tali sepanjang 1 meter
maka bayangannya dapat kita gunakan untuk menentukan arah kiblat.

Sebaiknya bukan hanya masjid atau mushalla / langgar saja yang perlu diluruskan arah kiblatnya. Mungkin kiblat di rumah kita sendiri selama ini juga saat kita shalat belum tepat menghadap ke arah yang benar. Sehingga saat peristiwa tersebut ada baiknya kita juga bisa melakukan pelurusan arah kiblat di rumah masing-masing. Dan juga melakukan penentuan arah kiblat tidak mutlak harus dilakukan pada tanggal tersebut bisa saja mundur atau maju 1-2 hari karena pergeserannya relatif sedikit yaitu sekitar 1/6 derajat setiap hari.

Sumber Data:
Web Pak Toha-JAC

Sumber lain:
Web Pak Fery-ITB

Peran serta:
A’ Taufiq RM

Ujian Semester

Filed under: Edukasi

Saya mengucapkan, ‘Selamat menempuh Ujian semesteran kepada seluruh siswa dan mahasiswa, di seluruh penjuru Indonesia dan Luar Indonesia, semoga Anada Lulus dengan prdikat JUJUR. Amien…3x’.

“Bil Imtihani Yukromul Mar’u aw Yuhaanu”, demikian kata mutiara.

“Melalui Ujian/Tes/Evaluasi, seseorang akan menjadi mulia, melalui ujian/tes/evaluasi seseorang juga akan menjadi hina”, jadi melalui satu pintu, seseorang akan keluar dengan dua penampilan karakter yang berbeda sama sekali.

Seorang akan keluar pintu ujian lantas menjadi mulia, jujur, bijaksana dan sifat2 mulia lainnya. Sebaliknya seorang juga akan keluar pintu ujian akan menjadi manusia hina yang suka berdusta, serakah, pemarah dan seabrek sifat2 jelek lainnya.

Ini semua seolah tidak mungkin terjadi. Masak hanya sekedar ujian yang hanya berlangsung beberapa saat mampu merubah karakter dan sifat seorang manusia yang mestinya dirubah dan dibentuk dalamwaktu lama…

Demikianlah, hakekat ujian adalah menguji-menilai, apakah seseorang memiliki sifat2 mulia atau malah sebaliknya. Dengan ujian seseorang dapat langsung diketahui, apakah seseorang memiliki kebiasaan dan karakter baik atau jelek.

Kalau selama ujian berlangsung, ia berlaku jujur; tidak berdusta; tidak merasa sombong; dan sok mampu sendiri; sehingga menolong orang lain dengan cara yang tidak pada tempatnya, tapi ia percaya pada kemampuan diri sendiri, dan yakin serta sadar bahwa Allah-Tuhan Yang Maha Mengetahui senantiasa melihat dan mengawasinya-, maka ia telah menjadi manusia mulia bahkan sebelum ujian berakhir sekalipun.

Tetapi kalau selama ujian berlangsung, ia berlaku dusta; curang; tolong-menolong dalam kebohongan; sibuk dengan pekerjaan yang tidak semestinya; khianat; tidak percaya akan eksistensi sang Pencipta yang senantiasa melihat dan mengawasinya, maka orang semacam ini benar-benar telah gagal sebelum maju. Ia kalah sebelum bertanding. Ia tersungkur ke dalam jurang kenistaan hidup, dan dihinakan.

Marilah berlaku jujur, kapan dan di mana pun. Yakinlah bahwa ada balasan di akhir semua episode kehidupan ini. Dan lebih yakinlah bahwa akhir itu lebih baik ketimbang awalnya.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

“Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)” . QS Adl-Dluhaa[93] ayat ke-4.






















| Terima kasih atas kunjungan Anda | thank's to MinZweb |