Pakar : Berawal dari Niat

May 29, 2007

Koreksi Arah Qiblat

Filed under: Astronomy, Edukasi, Islam

Tepat di hari Senin 28 Mei 2007, segenap anggota CASA (Club Astronomi Santri Assalaam) melakukan koreksi bersama atas arah qiblat di lokasi PPMI Assalaam. Tempat-tempat yang digunakan untuk menentukan arah qiblat masing-masing: Masjid Jami’ Assalaam, Kantor Pusat Assalaam, Wisma Assalaam, Ruang Tamu, Lapangan Basket Putri dan Rayon Putra, serta Depan Gelora Asalaam (depan Prasasti).

Upaya ini dilakukan sebagai wujud kepedulian CASA kepada nilai-nilai syar’i di lingungan PPMI Assalaam, khususnya dalam melaksanakan ibadah yang disayari’atkan menghadap kiblat. Dari data yang kita dapatkan, bahwa masjid Asslaam yang sudah menjadi sentral ibadah penghuni Assalam dan warga sekitar, arah kiblatnya masih mengalami kesalahan sekitar 20 derajat dari arah yang sekarang berlaku. Hasil kerja anak-anak yang hobi astronomi ini segera dikonfirmasikan ke pihak Pondok, via Pembimbing CASA. Namun karena konfirmasi sebatas lisan,maka jawaban pihak Pondok pun kurang memberikan respon dalam arti akan merubah dan membetulkan arah kiblatnya Masjid. Disamping kepedulian ilmu yang amali semacam ini, saya yakin tidak hanya di Pondok Assalaam, namun dimanapun, mayoritas Ummat Islam…ya yang penting ikuti saja yang sudah ada.

Setahu saya, orang yang beramal tanpa ada dasar ilmu, akan ditolak. Maka walau anak-anak CASA meminta saya berorasi di mimbar dengan harapan seluruh santri dan jama’ah menjadi faham adanya, saya pikir upaya melakukan koreksi secara kolosal dan disaksikan banyak orang yang melintas area koreksi arah kiblat sudah cukup memanggil dan mendakwahkan misi ini. Namun selebihnya tetap saja kembali kepada kepedulian atas ilmu dan amal. Berawal dari Niat, gitulah kira2…Ber-Ilmu yang Amaliyah, dan Ber-Amal yang Ilmiah, moga2 amal kita diterima dan diridloi-Nya.

Berikut beberapa gambar saat dilakukan pengambilan data arah kiblat pada saat matahari tepat di titik Zenit Ka’bah 28 Mei 2007 sare yang lalu.

Gambar di atas adalah Anggota CASA (santriwan kelas X MA) sesaat setelah Istiwa A’dham dan menemukan arah kiblat di pojok selatan Masjid Jami’ PPMI Assalaam. Perhitungan CASA, arahnya masih kurang ke utara sekitar 15-20 derajat.

Gambar di atas adalah Anggota CASA (santriwan kelas X MA) saat menunggu detik2 Istiwa A’dham) di depan Wisma Assalaam bagian pojok utara.

Gambar di atas adalah Anggota CASA (santriwan kelas X MA) usai menentukan arah kiblat versi Istiwa A’dham dan menggambarkan arah kiblat di depan Prasasti Assalaam.

Gambar di atas adalah Anggota CASA (santriwan kelas X MA) saat menjelang Istiwa A’dham di depan Kantor Assalaam.

Gambar di atas adalah Anggota CASA (dan santriwati anggota Perkisa) setelah Istiwa A’dham dan menemukan arah kiblat di lapangan Basket.

Gambar di atas adalah Anggota CASA (santriwan kelas X MA) sesaat setelah Istiwa A’dham dan menemukan arah kiblat di depan Ruang tamu Putri PPMI Assalaam.

Semoga karya dan sumbangsih CASA kali ini membawa manfaat, khususnya bagi anggota CASA sendiri, dan umumnya warga PPMI Assalaam. Di tempat lain, para asatidz yang sempat menerima edaran dari CASA juga melakukan koreksi atas arah kiblat masjid di lingkungan masing-masing.

Cara lain menentukan arah Qiblat:
1. Qibla Locator On Line, atau
2. Qibla Via Google Earth.

Wa’allahu ‘Alamu…[+]

May 24, 2007

Hari Arah Qiblat

Filed under: Astronomy, Islam

Ke arah Masjidil Haram, ke arah Ka’bah, kita menghadap dalam setiap sholat kita. Arah ini simbol penyatuan semua gerak alam semesta menuju sang Khaliq. Kita semua dari Allah dan kita semua akan kembali kepada-Nya.

Hari Senin tanggal 28 Mei 2007 jam 16:18 WIB, dan Senin tanggal 16 Juli 2007 jam 16:26 WIB, adalah Hari Arah Qiblat. Di dua hari ini kita dapat menentukan arah qiblat dengan seksama tetapi begitu mudah.

Allah SWT berfirman:

“Dan dari mana saja engkau keluar (untuk mengerjakan shalat), maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (Ka’bah), dan sesungguhnya perintah berkiblat ke Ka’bah itu adalah benar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), Allah tidak sekali-kali lalai akan segala apa yang kamu lakukan.” ( QS. Al-Baqarah : 149 )

“ Baitullah ( Ka’bah ) adalah kiblat bagi orang-orang di dalam Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Haram adalah kiblat bagi orang-orang yang tinggal di Tanah Haram ( Makkah ) dan Makkah adalah qiblat bagi seluruh penduduk bumi, Timur dan Barat dari umatKu” ( Hadith Riwayat Al-Baihaqi )

Dalam ajaran Islam, mengadap ke arah kiblat ( Masjidil Haram / Ka’bah ) adalah suatu tuntutan syariah di dalam melaksanakan ibadah tertentu, ia wajib dilakukan ketika hendak mengerjakan shalat dan menguburkan jenazah orang Islam, ia juga merupakan sunah ketika azan, berdoa, berzikir, membaca Al-Quran, menyembelih binatang dan sebagainya.

Berdasarkan tinjauan astronomis atau falak, terdapat beberapa teknik yang dapat digunakan untuk meluruskan arah kiblat antaranya menggunakan kompas, theodolit, rasi bintang serta fenomena transit utama matahari di atas kota Mekkah yang dikenal dengan istilah Istiwa A’zam (Istiwa Utama). Di kalangan pesantren di Indonesia istilah yang cukup dikenal adalah “zawal” atau “rashdul qiblat”.

Di atas Ka’bah matahari tepat berada di titik Zenith saat Istiwa A’zam. Istiwa adalah fenomena astronomis saat posisi matahari melintasi meridian langit. Dalam penentuan waktu shalat, istiwa digunakan sebagai pertanda masuknya waktu shalat Zuhur. Pada saat tertentu di sebuah daerah dapat terjadi peristiwa
yang disebut Istiwa Utama atau ‘Istiwa A’zam’ yaitu saat posisi matahari berada tepat di titik Zenith (tepat di atas kepala) suatu lokasi.

Namun peristiwa ini hanya terjadi di daerah antara 23,5˚ Lintang Utara dan 23,5˚ Lintang Selatan. Istiwa Utama yang terjadi di kota Makkah dimanfaatkan oleh kaum Muslimin di negara-negara sekitar Arab khususnya yang berbeda waktu tidak lebih dari 5 (lima) jam untuk menentukan arah kiblat secara presisi menggunakan teknik bayangan matahari. Istiwa A’zam di Makkah terjadi dua kali dalam setahun yaitu pada tanggal 28 Mei sekitar pukul 12.18 Waktu Makkah dan 16 Juli sekitar pukul 12.26 Waktu Makkah. Fenomena Istiwa Utama terjadi akibat gerakan semu matahari yang disebut gerak tahunan matahari (musim) sebab selama bumi beredar mengelilingi matahari sumbu bumi miring 66,5˚ terhadap bidang edarnya sehingga selama setahun terlihat di bumi matahari mengalami pergeseran 23,5˚ LU sampai 23,5˚ LS. Saat nilai
azimuth matahari sama dengan nilai azimuth lintang geografis sebuah tempat maka di tempat tersebut terjadi Istiwa Utama yaitu melintasnya matahari melewati zenith. Gambar di bawah, yang mungkin untuk melihat matahari saat istiwa utama (daerah terang).

Teknik penentuan arah kiblat menggunakan Istiwa Utama sebenarnya sudah dipakai lama sejak ilmu falak berkembang di Timur Tengah. Demikian halnya di Indonesia dan beberapara negara-negara Islam yang lain juga banyak menggunakan teknik ini. Sebab teknik ini memang tidak memerlukan perhitungan yang rumit dan siapapun dapat melakukannya. Yang diperlukan hanyalah sebilah tongkat dengan panjang lebih kurang 1 meter dan diletakkan berdiri tegak di tempat yang datar dan mendapat sinar matahari. Pada tanggal dan jam saat terjadinya peristiwa Istiwa Utama tersebut simak bayangan yang terjadi.

Karena di negara kita peristiwanya terjadi pada sore hari maka arah bayangan tongkat adalah ke Timur, sedangkan arah bayangan sebaliknya yaitu yang ke arah Barat agak serong ke Utara merupakan arah kiblat yang benar. Cukup sederhana dan tidak memerlukan ketrampilan khusus serta perhitungan perhitungan rumus-rumus. Jika hari itu gagal karena matahari terhalang oleh mendung maka masih diberi roleransi penentuan dilakukan pada H-1 atau H+1. Saat matahari di atas Ka’bah semua bayangan matahari mengarah ke sana. Gambar di bawah memperlihatkan semua bayangan saat matahari di atas Ka’bah.

Penentuan arah kiblat menggunakan teknik seperti ini memang hanya berlaku untuk daerah-daerah yang pada saat peristiwa Istiwa Utama dapat melihat secara langsung matahari dan untuk penentuan waktunya menggunakan konversi waktu terhadap Waktu Makkah. Sementara untuk daerah lain di mana saat itu matahari sudah terbenam misalnya wilayah Indonesia bagian Timur praktis tidak dapat menggunakan teknik ini. Sedangkan untuk sebagian wilayah Indonesia bagian Tengah barangkali masih dapat menggunakan teknik ini karena posisi matahari masih mungkin dapat terlihat. Namun demikian masih ada teknik lain yang juga menggunakan bayangan matahari untuk menentukan arah kiblat dari suatu tempat di seluruh permukaan bumi yang akan dibahas nanti pada artikel berikutnya.

Berdasarkan perhitungan astronomis menggunakan program Simulator Planetarium Starrynight diperoleh posisi matahari secara presisi saat terjadinya Istiwa Utama di Makkah tahun 2007 ini.

1. Senin:
Tanggal 28 Mei 2007 pukul 09:18:37 GMT
atau 12: 18:37 Waktu Makkah
atau 16:18:37 WIB

2. Senin:
Tanggal 16 Juli 2007 pukul 09.26 GMT
atau 12.26 Waktu Mekkah (GMT+3)
atau 16.26 WIB (GMT+7)

dengan posisi matahari berada di azimuth 294° 42.792′ dan ketinggian (altitude) 14° 37.9′. Seperti tertera pada gambar di bawah ini.

Teknik Penentuan Arah Kiblat menggunakan Istiwa Utama :
1. Tentukan lokasi masjid/mushalla/langgar atau rumah yang akan diluruskan arah kiblatnya. Sediakan tongkat lurus sepanjang 1 sampai 2 meter dan peralatan untuk memasangnya. Siapkan juga jam/arloji yang sudah dikalibrasi waktunya secara tepat dengan radio/televisi/internet.

2. Cari lokasi di samping atau di halaman masjid yang mendapatkan penyinaran matahari pada jam-jam tersebut serta memiliki permukaan tanah yang datar dan pasang tongkat secara tegak dengan bantuan pelurus berupa tali dan bandul.

3. Tepat pada saat istiwa a’zam terjadi amatilah bayangan matahari yang terjadi (toleransi +/- 2 menit). Di Indonesia peristiwa Istiwa Utama terjadi pada sore hari sehingga arah bayangan menuju ke Timur. Sedangakan bayangan yang menuju ke arah Barat agak serong ke Utara merupakan arah kiblat yang tepat.

4. Gunakan tali, tembok atau pantulan sinar matahari menggunakan cermin untuk meluruskan lokasi ini ke dalam masjid / rumah dengan menyejajarkannya terhadap arah bayangan. Tidak hanya tongkat yang dapat digunakan untuk melihat bayangan. Menara, gedung, tiang listri, tiang bendera atau benda-benda lain yang tegak. Atau dengan teknik lain misalnya bandul yang kita gantung menggunakan tali sepanjang 1 meter
maka bayangannya dapat kita gunakan untuk menentukan arah kiblat.

Sebaiknya bukan hanya masjid atau mushalla / langgar saja yang perlu diluruskan arah kiblatnya. Mungkin kiblat di rumah kita sendiri selama ini juga saat kita shalat belum tepat menghadap ke arah yang benar. Sehingga saat peristiwa tersebut ada baiknya kita juga bisa melakukan pelurusan arah kiblat di rumah masing-masing. Dan juga melakukan penentuan arah kiblat tidak mutlak harus dilakukan pada tanggal tersebut bisa saja mundur atau maju 1-2 hari karena pergeserannya relatif sedikit yaitu sekitar 1/6 derajat setiap hari.

Sumber Data:
Web Pak Toha-JAC

Sumber lain:
Web Pak Fery-ITB

Peran serta:
A’ Taufiq RM

Ujian Semester

Filed under: Edukasi

Saya mengucapkan, ‘Selamat menempuh Ujian semesteran kepada seluruh siswa dan mahasiswa, di seluruh penjuru Indonesia dan Luar Indonesia, semoga Anada Lulus dengan prdikat JUJUR. Amien…3x’.

“Bil Imtihani Yukromul Mar’u aw Yuhaanu”, demikian kata mutiara.

“Melalui Ujian/Tes/Evaluasi, seseorang akan menjadi mulia, melalui ujian/tes/evaluasi seseorang juga akan menjadi hina”, jadi melalui satu pintu, seseorang akan keluar dengan dua penampilan karakter yang berbeda sama sekali.

Seorang akan keluar pintu ujian lantas menjadi mulia, jujur, bijaksana dan sifat2 mulia lainnya. Sebaliknya seorang juga akan keluar pintu ujian akan menjadi manusia hina yang suka berdusta, serakah, pemarah dan seabrek sifat2 jelek lainnya.

Ini semua seolah tidak mungkin terjadi. Masak hanya sekedar ujian yang hanya berlangsung beberapa saat mampu merubah karakter dan sifat seorang manusia yang mestinya dirubah dan dibentuk dalamwaktu lama…

Demikianlah, hakekat ujian adalah menguji-menilai, apakah seseorang memiliki sifat2 mulia atau malah sebaliknya. Dengan ujian seseorang dapat langsung diketahui, apakah seseorang memiliki kebiasaan dan karakter baik atau jelek.

Kalau selama ujian berlangsung, ia berlaku jujur; tidak berdusta; tidak merasa sombong; dan sok mampu sendiri; sehingga menolong orang lain dengan cara yang tidak pada tempatnya, tapi ia percaya pada kemampuan diri sendiri, dan yakin serta sadar bahwa Allah-Tuhan Yang Maha Mengetahui senantiasa melihat dan mengawasinya-, maka ia telah menjadi manusia mulia bahkan sebelum ujian berakhir sekalipun.

Tetapi kalau selama ujian berlangsung, ia berlaku dusta; curang; tolong-menolong dalam kebohongan; sibuk dengan pekerjaan yang tidak semestinya; khianat; tidak percaya akan eksistensi sang Pencipta yang senantiasa melihat dan mengawasinya, maka orang semacam ini benar-benar telah gagal sebelum maju. Ia kalah sebelum bertanding. Ia tersungkur ke dalam jurang kenistaan hidup, dan dihinakan.

Marilah berlaku jujur, kapan dan di mana pun. Yakinlah bahwa ada balasan di akhir semua episode kehidupan ini. Dan lebih yakinlah bahwa akhir itu lebih baik ketimbang awalnya.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

“Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)” . QS Adl-Dluhaa[93] ayat ke-4.

May 22, 2007

Doktor Cilik

Filed under: Buku

Mukjizat Abad 20, seorang Doktor tapi masih cilik atau kecil. Dia bernama muhammad Husein Tabataba’i, hafal dan faham Al-Qur’an 30 juz, 114 surat di usia 5 tahun.

Menghebohkan dan menggetarkan hati, seorang bocah 7 tahun (pada 19 Pebruari 1998) meraih gelar Doktor Honoris Causa dari Hijaz College Islamic University, Inggris dalam bidang Science of The Retention of The Holy Quran-karena ia hafal dan faham Al-Qur’an. Gelar Doktor kehormatan itu ia terima setelah melalui ujian selama 210 menit. Ketika ujian doktoralnya pun dia tetap bermain di halaman saat rehat. Salah satu pengujinya sempat pusing saat istirahat, dan meminta Husein untuk memegang kepalanya sembari dibacakan ayat suci Al-Qur’an. Usai mengobati sang penguji, Husein kecilpun kembali bermain…

Anak itu (Dr. Muhammad Husein Tabatab’i) kini telah berusia 16 tahun. Demikianlah diantara cara Allah menjaga kitab suci Al-Qur’an ini.

Artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.

Ayat ke 9 dari surat Al-Hijr ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya.

Walaupun Doktor, Husein tetaplah anak kecil. Buku ini layak kita baca…

Buku dengan Judul Mukjizat Abad 20, Wonderful Profile of Husein Tabataba’i, dikarang oleh Dina Y. Sulaeman ini diterbitkan oleh Pustaka IIMaN Depok. Buku setebal 220 halaman ini telah dicetak dua kali, pertama Maret 2007 dan cetakan kedua pada bulan Mei 2007. Dan sepertinya akan terus dicetak ulang…

Selain membahas ttg profil seorang bocah 7 tahun yang meraih gelar Doktor Honoris Causa dari Hijaz College Islamic University, Inggris, karena hafal dan paham Al-Quran, buku ini juga membahas metode yang dipakai dalam proses belajar si Doktor Cilik dan hasil ujicoba metode ini di Indonesia.

Sementara itu, Endorsment di Cover Belakang dari Buku ini ditampilkan beberapa komentar para tokoh, yakni:

1. Mohsen Qiraati, Mufasir kontemporer Iran.
“Saya telah menggeluti Al-Quran selama lebih dari 20 tahun, namun kini kembali menjadi murid yang harus menulis catatan di buku pelajaran. Apa pun yang ia (Husein) katakan, saya catat. Saya dengan bangga menyatakan diri sebagai murid dari guru yang masih berusia 5 tahun ini.”

2. Ayatullah Hashemi Rafsanjani, Mantan Presiden Iran, penulis kitab tafsir ‘Rahnama’.
“Sayyid Husein memiliki kemampuan yang sangat menakjubkan dan para peneliti seharusnya melakukan penelitian mengenai bagaimana metode Husein dalam menghafal dan memahami Al-Quran.”

3. Dr. Arief Rachman, MPd.
”Keteladanan menjadi kunci utama dalam proses pendidikan, tanpa keteladanan pendidikan hanya akan menjadi ”transfer of knowledge” tapi tidak ”transfer of value”. Kisah dalam buku ini sangat baik untuk dijadikan ibrah (pelajaran), dalam hidup dan kehidupan kita.”

4. Ustad Kamaluddin, Mubaligh dan Guru Agama Islam SMPN 254 Jakarta.
“Membaca buku ini, hati saya bergetar, mudah-mudahan dapat membangkitkan semangat kita sebagai orang tua untuk mencetak anak-anak pencinta Al-Quran.”

Subhanallah wal hamdulillah…[+]

May 19, 2007

Membidik Hewan

Filed under: Fotografi

Ketika hewan yang menjadi sasaran bidikan, maka saya sadar bahwa dunia ini begitu indah. Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan.

–> Lalat di daun padi di pagi hari…

–> Semut ini bekerja sekuat tenaga demi mendapatkan setitik madu…buah blimbing.

–> Laba-laba kecil di daun pepaya ini tidak mau ketinggalan beraksi…sebelum lari, ketangkap kamera.

–> Katak ini masih terlalu kecil untuk mengarungi kehidupan…

–> Sirkus sangat jarang, bahkan belum pernah saya lihat melibatkan itik yang senang keseimbangan.

–> Semut ini pemalu, sehingga berjalan di bawah dahan saja.

–>Memotret Tupai..? Waduuuh…kalah duluan…!

Mengolah Cahaya

Filed under: Fotografi

Bismillahirrahmanirrahiim…

Berikut beberapa gambar hasil bidikan kamera SLR (Single Lens Reflector) Digital:

Foto di atas adalah lampu lilin di antara kepingan CD yang saya padu dengan lensa cembung.

Gambar lilin dengan cahaya yang dibiaskan, sehingga membentuk spektrum cahaya.

Gambar serupa pelangi yang bila dipadukan menjadi warna putih.

Pada saat yang tepat, cahaya bolam itu masih kita lihat.

Subhaanallah…

May 11, 2007

HST=Hubble Space Telescope

Filed under: Astronomy

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hijr(15) ayat ke - 16:

Artinya: ” dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan beberapa galaksi dan Kami telah menghiasi langit itu dengan beragam benda angkasa lainnya bagi orang-orang yang hobi astronomi”

Selanjutnya dalam QS lain juga disebutkan:
QS Al-Furqon(25) ayat 61 :
“Maha dinamis Allah yang menjadikan di langit galaksi-galaksi dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya”.

Al-Buruuj(85) ayat 1 :
“demi langit yang mempunyai galaksi-galaksi”

Ar-Rahman(55) ayat 33 :
“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru alam semesta, maka
lintasilah, maka kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan = PITEK (Pengetahuan Ilmu dan Teknologi).”

Ath-Thaariq(86) ayat 1-3 :
1. demi langit dan yang datang pada malam hari,
2. tahukah kamu Apakah yang datang pada malam hari itu?
3. (yaitu) bintang yang memiliki gelombang elektromagnetik,

Dari rangkaian ayat di atas dapat kita pahami bahwa langit yang amat luas ini amatlah indah kalau dipandang dengan seksama. Indah karena memang semua benda yg ada di angkasa bercahaya, baik karena memiliki sumber cahaya seperti bintang, maupun sekedar memantulkan cahaya dari sumber lain, seperti bulan meteor, dan lainnya.

Semua materi itu dapat kita jangkau asal kita mau. Karena Allah memang telah memberikan warning berupa ‘lampu hijau’ bagi kita manusia dan jin sekalipun untuk menguak tabir alam semesta. Tentu ijin Allah ini hanya bisa terpenuhi manakala kita mampu mewujudkan ’sulthon’.

Sulthon, dapat bermakna banyak, diantaranya Pengetahuan - Ilmu dan Teknologi (PITEK), dengan PITEK manusia mampu menjelajah ke tempat yang tidak mungkin dilewati bila tanpa bantuan dan peran PITEK. Dan salah satu karya besar manusia untuk maksud di atas adalah sebuah mata raksasa yang disebut teleskop. Teleskop adalah benda buatan manusia yang mampu melihat objek yang sangat jauh tempatnya seperti bintang.

Bintang dan objek langit lainnya dapat kita lihat karena mereka memancarkan sinar yang mampu menembus ke bumi walau tanpa perantara atau medium. Gelombang yang tidak memerlukan medium dinamakan gelombang elektromagnetik. Dan hal ini telah Allah gariskan pula dalam buku panduan hidup sepanjang masa.

Gambar di atas adalah salah satu potongan alam semesta yang diletakkan di bawah mikroskop. Potongan2 hidup baru dan gambar kehancuran yang menghantui. Mereka mungkin memberi petunjuk tentang tempat kita dalam kosmos, dari mana asal kita dan kemana tujuan kita.

Ini adalah gambar dari Teleskop Luar angkasa Hubble (HST=Hubble Space Telescope) yang mengorbit 330 mil di atas bumi, jangkauannya mencapai milyaran mil di balik sudut alam kita untuk membuka rahasia luar angkasa. Seperti makhluk di bawah laut yang mengarungi kedalam laut, Hubble mudah beradaptasi dengan lingkungan asing di luar angkasa.

Selama 17 tahun ia bergerak di atas atmosfer kita untuk merekam peristiwa2 keras dan kadang kataklismik yang terjadi di luar angkasa. Kelahiran bintang, kematian planet, selera makan besar black hole, debu bintang yang menyokong sistem tata surya dan kehidupan itu sendiri. Kita bahkan mungkin dapat melihat sekilas yang tersimpan dalam bumi. Di lanskap luar angkasa yang mengalami erupsi ini.

Astronot yang dikirim untuk menperbaiki teleskop Hubble tidak henti2nya kagum atas karya ilmiah ini. Astronout Stroy Musgrave berkata,”Ini bukan hanya instrumen yang kuat tapi juga indah, ini simbol yang kuat dari pencarian umat manusia untuk menemukan tempat ummat manusia di alam semesta”. Dengan 400.000 bagiannya, Hubble kadang butuh diservis. Seperti mobil tiap 500 juta mil.

Sementara Hubble yang asli mengorbit di angkasa, tiruan-tiruannya dibuat di darat dan membuktikan bahwa ukurannya memang besar. Tinggi Hublle sekitar 45 kaki atau setara gedung bertingkat 4. Dengan berat sekitar 25.000 pon. Ini bukan teleskop terbesar di dunia, tetapi karena mengorbit di angkasa, di atas atmosfer, maka ia mampu menghasilkan gambar yang 10 kali lipat lebih jernih dari teleskop di bumi.

Sebegitu jernih hingga dari atas monumen Washington, Hubble bisa melihat sampai pantai California (sejauh kl 4000 km), dimana dengan mudah dapat membaca nama jalan. Atau kalau Hubble di letakkan di atas Monas Jakarta, maka Hubble dapat membaca nama jalan di kota Jayapura.

Gambar yang dikirim Hubble ditanggali, tetapi tidak bisa menjelaskan keadaan bintang saat itu, karena untuk sampai ke mata kita, cahaya memerlukan waktu tempuh. Cahaya yang membentuk gambar ini memiliki kecepatan terbatas di angkasa. Cahaya dari matahari memerlukan waktu 8 menit untuk sampai ke bumi sejauh 90 juta mil. Hampir semua objek HST jaraknya jauh hingga butuh ribuan, jutaan bahkan milyaran tahun untuk mencapai teleskop dan kita.

Bintang mawar merah (gambar di atas) saat meledak menghasilkan mawar kosmik 3000 juta tahun cahaya dari bumi, dan kita melihantnya seolah “nebula mata kucing” seperti saat 1000 tahun sebelum masehi. Halini telah diisyaratkan Allah dalam QS Ar-Rahman (55) ayat ke - 37:

Caroonee, cahayanya butuh 9000 tahun untuk mencapai kita. Ledakan terakhir dari bintang ini terlihat pada tahun 1843, saat menjadi bintang paling terang kedua dua langit. Hubble juga melihat nebula jam kaca sejauh 8000 tahun cahaya, sama saat manusia masih hidup di jaman batu.

Jadi Hubble masih mengamati dan mengambil gambar masa lalu. Maka ahli astronomi dapat mempelajari data fosil ini seperti ahli arkeologi. Mencari pentunjuk saat alam semseta masih muda.

Kisah teleskop ini berasal dari California Selatan pada tahun 1920. Awal abad 20-an, ahli astronomi masih percaya jagad raya hanyalah galaksi Milkyway kita dan tak ada lainnya. Konsep ini dihancurkan oleh astronom muda, atlit bintang dan peraih beasiswa bernama Edwin hubble. Saat bekerja di planetarium Mount Wilson…ia membuat salah satu penemuan sains terhebat pada abad ke-20. Bahwa jagad raya ini tidak terdiri dari satu galaksi saja tetapi banyak dan semua galaksi itu saling menjauh satu sama lainnya. Karena alam semesta semakin mengembang.

Teleskop Hubble telah dirancang dan dibangun oleh 10.000 ilmuwan dan insinyur. Hubble diluncurkan dari pesawat ulang alik Discovery pada tanggal 15 April 1990. Dari tahap perencanaan hingga peluncuran Hubble memakan waktu hingga 20 tahun, termasuk beberapa tahun penundaan akibat bencana Challenger (Januari 1986). Lamanya waktu yang dibutuhkan juga akibat besarnya dana untuk proyek ini yang mencapai 1,55 miliar USD.

Secara fisik, Hubble berbentuk sebuah silinder alumunium selebar 4,3 m dengan panjang 13 m dengan dua buah panel surya sepanjang 12 meter yang terpasang pada masing-masing sisinya sebagai sumber tenaga. Panel surya pada Hubble didesain untuk dapat berputar sedemikian rupa sehingga kemanapun teleskop tersebut mengarah, panel tersebut dapat terus menerima sinar matahari secara penuh.

Cermin sekunder pada Hubble dipasang pada fokus cermin utama yang berdiameter 2,35 m (8 kaki) memantulkan cahaya pada lima buah instrumen yang berada di Hubble. Masing-masing instrumen dipasang pada tempat yang terpisah, dengan demikian instrumen-instrumen tersebut dapat dipindah-pindah sesuai dengan kebutuhan. Sebuah kamera dengan bidang pandang sempit yang dibuat oleh European Space Agency (ESA) digunakan untuk keperluan pengamatan visual maupun pengamatan terhadap pancaran sinar ultra violet dan inframerah (near-infrared) dari spektrum suatu objek. Kamera lainnya memiliki bidang pandang 40 kali lebih lebar, namun dengan resolusi yang lebih rendah. Juga tersedia Fotometer dan Spektograf yang mampu mengamati objek redup dengan resolusi tinggi.

Kamera yang terpasang pada Hubble tidak menggunakan film sebagaimana kamera konvensional yang kita kenal. Kamera yang biasa disebut CCD (Chart Coupled Device) tersebut bekerja dengan mengumpulkan cahaya pada detektor elektronik, mirip seperti prinsip kerja kamera digital. Spektograf memisahkan cahaya bintang menjadi warna-warna tertentu, sama seperti prisma yang menguraikan sinar matahari menjadi warna-warni pelangi. Dengan menganalisis warna hasil penguraian oleh spektograf, para astronom dapat memperkirakan temperatur, pergerakan, komposisi maupun usia sebuah bintang.

Setiap hari, Hubble mengirimkan data antara 3 hingga 5 GB (gigabytes), serta mendistribusikan antara 10 hingga 15 GB data kepada para astronom di seluruh dunia. Sebuah antena radio memungkinkan Hubble berkomunikasi dengan pengontrol misi yang berlokasi di Goddard Space Flight Center. Dari fasilitas Space Telescope Operations Control Center (STOCC), para teknisi mengendalikan Hubble selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, sepanjang 20 tahun jangka waktu pengoperasian teleskop ini.

Dengan program yang disebut Control Center System (CCS), pengendali misi mengirimkan instruksi detail beberapa kali dalam sehari. Lebih dari 100.000 instruksi dikirimkan ke Hubble pada setiap minggunya. Instruksi-instruksi ini dikonversikan dalam bentuk kode yang dapat diproses oleh komputer utama pada Hubble. Saat Hubble mengamati suatu target, komputer didalamnya akan merubah informasi yang didapat menjadi data digital yang kemudian akan dikirimkan melalui gelombang radio ke satelit komunikasi yang selanjutnya akan diterima oleh pengendali misi. Dari sini, data dikirimkan ke Space Telescope Science Institute di Baltimore untuk pengolahan lebih lanjut. Gambar-gambar yang diambil oleh Hubble disimpan dalam optical disk. Observasi oleh Hubble dalam sehari menghasilkan data yang sama besarnya dengan sebuah ensiklopedia!

Orbit Hubble

Hubble tergolong satelit orbit rendah (Low Earth Orbiting, LEO). Ia mengorbit pada ketinggian 600 km diatas permukaan bumi. Dalam ketinggian tersebut, Hubble dapat mengorbit Bumi rata-rata sekali setiap 97 menit pada kecepatan sekitar 27.200 km/jam dengan garis edar condong ke arah katulistiwa dengan sudut 28,5º.

Posisi Hubble saat ini dapat di akses di web hubble versi standar, atau yang ini untuk versi yang advanced (membutuhkan java virtual mechine).

Gambar di atas memperlihatkan posisi HST tepat di atas wilayah Indonesia sementara matahari di atas India.

Tidak seperti anggapan kebanyakan orang, Hubble (dan juga satelit orbit rendah lainnya) sebenarnya tidak mengorbit dalam ruang yang betul-betul hampa udara. Daerah orbit yang ditempati oleh Hubble dikenal sebagai thermosfer atau atmosfir bagian luar. Di daerah ini, gas-gas yang membentuk atmosfir masih ada walaupun sangat tipis. Satelit yang mengorbit di daerah ini dapat mengalami efek keberadaan atmosfir dalam bentuk tahanan aerodinamik.

Adanya efek ini menyebabkan sebuah satelit orbit rendah dapat kehilangan ketinggian dalam tempo beberapa tahun setelah peluncurannya. Apabila tidak dilakukan usaha untuk memperbaiki ketinggian orbit, maka satelit dapat memasuki atmosfir bumi (deorbit) dan akhirnya musnah terbakar. Peristiwa ini dikenal sebagai Orbital Decay. Makin rendah orbit sebuah satelit, makin besar pula kekuatan tahanan aerodinamik yang diterimanya. Untuk menghindarinya, maka satelit harus diletakkan pada orbit setinggi mungkin.

Lapisan atmosfir penyebab tahanan aerodinamik ini juga meningkat akibat pemanasan oleh Matahari. Energi panas dari Matahari memiliki intensitas yang bervariasi dalam suatu siklus tertentu yang berulang setiap 11 tahun. Saat intensitas ini mencapai puncaknya dikenal sebagai “solar maximum”. Saat terjadinya solar maximum, densitas atmosfir pada semua ketinggian mengalami peningkatan, dan efek hambatan yang diterima satelit jauh lebih besar dari biasanya. Energi matahari dapat diukur dengan berbagai cara. Salah satu yang paling umum adalah melalui penghitungan bintik matahari (sunspots) dan pengukuran emisi radio (solar flux).

Hubble sendiri sangat rentan terhadap bahaya orbital decay, karena itu baik orbit maupun intensitas panas matahari yang diterimanya selalu dimonitor secara ketat. Apabila satelit mengalami kehilangan ketinggian, maka ia harus dikembalikan ke ketinggian yang lebih besar.

Beberapa jenis satelit memiliki sebuah roket pendorong yang khusus digunakan untuk meningkatkan ketinggian. Hubble sendiri tidak memiliki mesin roket pendorong dalam bentuk apapun, karena itu satu-satunya cara untuk mengembalikan ketinggian orbit Hubble adalah dengan menangkap dan memindahkannya secara langsung. Hal ini dilakukan oleh misi ulang-alik dalam misi layanan (service missions) dan diistilahkan sebagai “reboost”. Pada Hubble, reboost sudah dilakukan sebanyak tiga kali, dan terakhir dilakukan oleh misi ulang-alik Columbia pada awal bulan Maret 2002.

Lensa Kontak

Beberapa waktu setelah diluncurkan, diketahui bahwa cermin utama pada Hubble tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kikiran cermin utama Hubble yang dibuat oleh perusahaan Perkin-Elmer itu terlalu datar sehingga cahaya yang jatuh pada permukaannya tidak dapat dipantulkan secara terfokus. Gambar benda-benda langit yang didapat cenderung menyebar sehingga nampak kabur. Akibatnya, dibutuhkan waktu yang terlalu lama bagi para astronom untuk dapat menganalisis gambar-gambar kiriman Hubble. Masalah lain juga ditemui pada salah satu panel surya dari Hubble yang bergoyang-goyang karena terpanasi oleh sinar Matahari. Sementara itu, 3 giroskop rusak serta beberapa peralatan pengukuran juga tidak dapat berfungsi dengan baik.

Sudah barang tentu hal ini mengecewakan para astronom dan anggota tim yang terlibat. Belum lagi kekesalan warga Amerika Serikat sendiri karena dana milyaran Dolar yang digunakan untuk membiayai proyek Hubble berasal dari pajak yang mereka bayarkan ke kas negara. Selama berhari-hari kegagalan ini menjadi berita besar dimana-mana.

Untungnya, para ahli yang terlibat dalam proyek ini memiliki solusi untuk mengatasi masalah pada cermin utama Hubble, yaitu dengan memasang semacam “lensa kontak”, sama halnya dengan orang yang mengalami cacat mata miopi (rabun jauh). Pada tahun 1991, NASA menyiapkan program kilat untuk menyiapkan cermin koreksi guna mengatasi masalah tersebut. Cermin koreksi yang diberi nama COSTAR (Corrective Optics Space Telescope Axial Replacement) tersebut terdiri atas 10 buah cermin perak seukuran uang logam yang tersusun sedemikian rupa sehingga setelah dipasang akan membantu memfokuskan cahaya yang dipantulkan oleh permukaan cermin utama yang bermasalah pada Hubble.

Cermin senilai USD 625 juta tersebut dipasang oleh para awak pesawat ulang-alik Endeavour yang diluncurkan tanggal tanggal 6 Desember 1993. Selain memasang lensa COSTAR, para awak Endeavour juga bertugas mengganti salah satu panel surya dan tiga giroskop yang rusak pada Hubble. Pemasangan COSTAR dilakukan pada hari ketujuh setelah peluncuran oleh astronaut Kathryn Thornton. Ini bukanlah tugas yang mudah karena pemasangan lensa korektif yang ditempatkan dalam kotak seberat 272 kg ini hanya mentoleransi ketidaktepatan sebesar 0,005 inchi (0,125 mm).

Operasi perbaikan ini berlangsung dengan sukes dan memperoleh hasil yang menggembirakan. Dua bulan sesudahnya Hubble dapat mengirimkan gambar-gambar yang jauh lebih tajam dibandingkan saat sebelum perbaikan.

Memandang Masa Lalu

Selama ini, pengamatan berbasis di Bumi, walaupun dilakukan dari puncak gunung tertinggi, selalu terhambat oleh lapisan atmosfer Bumi. Belum lagi masalah polusi cahaya oleh lampu di perkotaan yang saat ini menjadi masalah serius bagi sebagian besar observatorium. Penggunaan teleskop antariksa semacam Hubble dianggap merupakan jawaban terhadap persoalan semacam ini.

Tanpa terganggu oleh awan dan debu atmosfer, pengamatan melalui teleskop Hubble dapat menembus jarak tujuh kali lebih jauh dan mendeteksi objek 50 kali lebih gelap dibandingkan dengan teleskop terbaik yang ada di Bumi saat ini. Hubble bahkan dapat menangkap citra benda-benda langit yang berjarak 15 milyar tahun cahaya dari Bumi. Lantas apakah arti jarak ini?

Memandang langit adalah memandang masa lalu, menembus ruang dan waktu. Bila dalam satu detik sebuah partikel cahaya mampu menempuh jarak 300.000 km, maka jarak yang ditempuh dalam setahun adalah 9 trilyun km. Bisa dibayangkan seberapa jauhnya jarak sebesar 15 milyar tahun cahaya itu. Karena kecepatan cahaya adalah konstan, maka sekaligus kita dapat mengetahui bahwa cahaya dari objek sejauh itu memerlukan 15 milyar tahun untuk dapat sampai ke Bumi.

Ketika cahayanya sampai ke Bumi, objek itu sendiri mungkin sudah musnah, namun cahaya yang tertangkap dapat membawa kisah masa lalu kosmos yang tidak ternilai harganya. Perhitungan para kosmolog menunjukkan bahwa usia alam semesta tidak terlalu jauh dari angka 15 milyar tahun. Dengan mengamati objek sejauh itu, para astronom berharap dapat menyibak rahasia masa lalu kosmos, bahkan memperoleh gambaran tentag proses “penciptaan” alam semesta.

Benda-benda terjauh yang dapat dideteksi melalui teleskop non-visual selama ini adalah objek-objek kuasi stelar yang memancarkan energi amat dahsyat yang tidak lain terdiri dari galaksi-galaksi berinti aktif yang diduga memiliki lubang hitam maharaksasa di pusatnya (dugaan ini kemudian terbukti kebenarannya berdasarkan pengamatan Hubble tahun 2002). Banyak diantara objek ini yang berjarak 12 - 13 milyar tahun cahaya. Diduga benda-benda inilah yang terletak di “tepi” ruang-waktu kosmos yang berarti menyimpan misteri kosmos tidak lama setelah penciptaan.

Pengamatan melalui teleskop Hubble diharapkan mampu membantu para astronom dalam mendefinisikan kembali skala kosmos, laju pengembangan kosmos–yang juga berarti umurnya, bahkan menyingkap rahasia “materi gelap” yang diyakini para astronom mengisi hampir 90% massa kosmos.

teramu atas sumbangan data dari hubble, ramadhani dan lain-lain.

May 10, 2007

Cicak2 di dinding…

Filed under: Fotografi

Cecak atau cicak adalah hewan reptil yang biasa merayap di dinding atau pohon. Cecak berwarna abu-abu, tetapi ada pula yang berwarna coklat kehitam-hitaman. Cecak biasanya berukuran sekitar 10 centimeter. Cecak bersama dengan tokek dan sebangsanya tergolong ke dalam suku Gekkonidae.

Gambar di atas adalah ‘cecak khoshsh’… Saya katakan ‘khoshsh’ atau istimewa karena memiliki ekor bercabang dua. Siang itu saya memotretnya saat dia bergegas untuk menuruni pagar besi di sebelah barat pos satpam-barat PPMI Assalaam Solo Indonesia.

Diperkirakan kata ‘cecak’ berasal dari suara yang dibuat oleh hewan ini yaitu: “cak, cak, cak”. Dengan ini bisa dikatakan bahwa kata ini merupakan sebuah onomatope.

Jenis-jenis Cecak

Cecak ada banyak jenisnya. Di lingkungan rumah kita saja ada sekitar tiga jenis (spesies) yang sering ditemui. Yakni:
1. Cecak tembok (Latin Cosymbotus platyurus), yang kerap ditemui di tembok-tembok rumah dan sela-sela atap. Cecak ini bertubuh pipih lebar, berekor lebar dengan jumbai-jumbai halus di tepinya. Bila diamati di tangan, dari sisi bawah akan terlihat adanya lipatan kulit agak lebar di sisi perut dan di belakang kaki.

2. Cecak kayu (Hemidactylus frenatus), yang bertubuh lebih kurus. Ekornya bulat, dengan enam deret tonjolan kulit serupa duri, yang memanjang dari pangkal ke ujung ekor. Cecak kayu lebih menyukai tinggal di pohon-pohon di halaman rumah, atau di bagian rumah yang berkayu seperti di atap. Terkadang didapati bersama cecak tembok di dinding luar rumah dekat lampu, namun umumnya kalah bersaing dalam memperoleh makanan.

3. Cecak gula (Gehyra mutilata), bertubuh lebih kecil, dengan kepala membulat dan warna kulit transparan serupa daging. Cecak ini kerap ditemui di sekitar dapur, kamar mandi dan lemari makan, mencari butir-butir nasi atau gula yang menjadi kesukaannya. Sering pula ditemukan tenggelam di gelas kopi kita.

Perkecualian
Cecak terbang (Draco spp.) sebetulnya bukan ‘cecak’ (suku Gekkonidae) melainkan termasuk suku kadal agamid (Agamidae), seperti halnya bunglon.

Makanan dan habitat
Cecak biasa memakan serangga dan terutama nyamuk. Biasanya cecak hidup di dinding-dinding dan di atap rumah. Di alam cecak biasanya hidup pada tempat-tempat teduh.

Cecak dalam kepercayaan

Menurut orang Bali, cecak adalah manifestasi dari Dewi Saraswati, yaitu dewi yang melindungi bicara dan tulisan. Menurut beberapa umat Muslim, cecak-cecak harus diberantas. Konon pada waktu Nabi Muhammad SAW dikejar oleh kaum musyrikin Arab, dan bersembunyi di gua Tsur, tiba-tiba ada cecak memberitahu mereka dengan bunyinya bahwa ada orang di dalam gua. Untuk yang terakhir ini saya sama sekali belum konek, yaa..karena itulah ‘kepercayaan’…(gugon tuhon).

Tetapi yang jelas menurut jumhur mufassir hadits, justru Laba-laba yang memang diperintah Allah untuk membuat sarang di depan mulut gua Tsur. Dan karenanya Rosulullah SAW dan Abu Bakar Ash-shiddiq, selamat dari kejaran kaum musyrikin Arab.[+]

May 2, 2007

Insyaqqa ‘lQomaru

Filed under: Astronomy, Tadzkiroh

Allah SWT berfirman dalam QS. 54 Al-Qomar ayat 1:

“Sungguh telah dekat hari kiamat, dan bulan pun telah terbelah [*].” (Q.S. Al-Qamar: 1)

[*] Yang dimaksud dengan “terbelahnya bulan” ialah suatu mukjizat Nabi Muhammad SAW.

Selanjutnya Allah SWT berfirman dalam QS. 54 Al-Qomar ayat 2-5:

2. dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus”.

3. dan mereka mendutakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya[2]

[2] Maksudnya bahwa segala urusan itu pasti berjalan sampai waktu yang telah ditetapkan terjadinya, seperti: urusan Rasulullah dalam meninggikan kalimat Allah pasti sampai pada akhirnya Yaitu kemenangan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. sedang urusan orang yang mendustakannya pasti sampai pula pada akhirnya, Yaitu kekalahan di dunia dan siksaan di akhirat.

4. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran).

5. Itulah suatu Hikmah yang sempurna Maka peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka).

Ayat Al-Qur’an ini yang menyebabkan masuk Islamnya pimpinan Hizb Islami Inggris? Di bawah ini adalah kisahnya.

Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah?

Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut:

Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah.

Beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan hal itu di University Cardif, Inggris bagian Barat. Para peserta yang hadir ber-macam2, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim. Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur’an.

Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya, “Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi -Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah- mengandung mukjizat secara ilmiah? ”

Maka saya menjawabnya: Tidak, sebab kehebatan ilmiah diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjangkaunya. Dan tentang terbelahnya bulan, maka hal itu adalah mukjizat yang terjadi pada masa Rasul terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi2 sebelumnya.

Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits2 Rasulullah, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur’an dan hadits2 Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta’alaa benar2 maha berkuasa atas segala sesuatu.

Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu adalah sebelum hijrah dari Mekah Mukarramah ke Madinah Munawarah. Orang2 musyrik berkata, “Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (dengan nada mengejek dan meng-olok2)?

Rasulullah bertanya, “Apa yang kalian inginkan?” Mereka menjawab, “Coba belah bulan…” Rasulullah pun berdiri dan terdiam, berdoa kepada Allah agar menolongnya. Lalu Allah memberitahu Muhammad saw agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan dan terbelahlah bulan itu dengan se-benar2-nya. Serta-merta orang2 musyrik pun berujar, “Muhammad, engkau benar2 telah menyihir kami!”

Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja “menyihir” orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada di tempat itu. Lalu mereka pun menunggu orang2 yang akan pulang dari perjalanan.

Orang2 Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, orang2 musyrik pun bertanya, “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?” Mereka menjawab, “Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh masing2-nya kemudian bersatu kembali…”

Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya: “Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda2 kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, “Ini adalah sihir yang terus-menerus”, dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap… (sampai akhir surat Al-Qamar).

Ini adalah kisah nyata, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar. Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdiri seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, “Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai Tuan, bolehkah aku menambahkan?”

Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab: “Dipersilahkan dengan senang hati.” Daud Musa Pitkhok berkata, “Aku pernah meneliti agama2 (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna2 Al-Qur’an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku mem-buka2 terjemahan Al-Qur’an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya: “Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah…”

Aku bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu? Maka, aku pun berhenti membaca ayat2 selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan se-hari2. Akan tetapi Allah maha tahu tentang tingkat keikhlasan hamba-Nya dalam pencarian kebenaran.

Suatu hari aku duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi antara seorang presenter Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS. Ketiga pakar antariksa tersebut bercerita tentang dana yang begitu besar dalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa, padahal saat yang sama dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, sakit dan perselisihan.

Presenter berkata, “Andaikan dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih banyak gunanya.” Ketiga pakar itu pun membela diri dengan proyek antariksanya dan berkata, “Proyek antariksa ini akan membawa dampak yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik pada segi kedokteran, industri ataupun pertanian. Jadi pendanaan tersebut bukanlah hal yang sia2, akan tetapi hal itu dalam rangka pengembangan kehidupan manusia.”

Dalam diskusi tersebut dibahas tentang turunnya astronot hingga menjejakkan kakinya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar. Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata, “Kebodohan macam apalagi ini, dana yang begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?”

Mereka pun menjawab, “Tidak! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun.”

Mendengar hal itu, presenter itu pun bertanya, “Hakikat apa yang kalian telah capai hingga demikian mahal taruhannya?” Mereka menjawab, “Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali!

Presenter pun bertanya, “Bagaimana kalian bisa yakin akan hal itu?” Mereka menjawab, “Kami mendapati secara pasti dari batu2-an yang terpisah (karena) terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Kami meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, “Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali!”

Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, “Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, Mukjizat (kehebatan) benar2 telah terjadi pada diri Muhammad shallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar2 telah meng-olok2 AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, hingga 100 juta dollar, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin! Agama Islam ini tidak mungkin salah… Lalu aku pun kembali membuka Mushhaf Al-Qur’an dan aku baca surat Al-Qamar. Dan saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.”

Subhanallah….

-> teramu dengan sumber ini. [+]






















| Terima kasih atas kunjungan Anda | thank's to MinZweb |