Astronom Pertama
Nabi Ibrahim a.s. (إبراهيم عليه السلام) (sekitar 2013 SM-?) merupakan nabi yang sangat penting dalam agama Islam, dan juga agama lain seperti Kristian dan Yahudi. Beliau telah diberi gelaran Khalil Ullah, atau Sahabat Allah. Selain itu beliau bersama anaknya nabi Ismail a.s. terkenal sebagai pengasas Kaabah.
Pada masa Nabi Ibrahim, kebanyakan rakyat di Mesopotamia beragama politeisme iaitu menyembah lebih dari satu Tuhan. Dewa Bulan atau Sin merupakan salah satu berhala yang paling penting. Bintang, bulan dan matahari menjadi objek utama penyembahan dan karenanya, astronomi merupakan bidang yang sangat penting. Sewaktu kecil lagi nabi Ibrahim a.s. sering melihat ayahnya membuat patung-patung tersebut, lalu dia cuba mencari kebenaran agama yang dianuti oleh keluarganya itu.
Dalam al-Quran Surah al-Anaam (ayat 76-78) Allah SWT berfirman:
76. ketika malam telah gelap, Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”
77. kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: “Inilah Tuhanku”. tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku Termasuk orang yang sesat.”
78. kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.
Ayat di atas menceritakan pencarian Nabi Ibrahim akan kebenaran dan eksistensi Tuhannya. Dalam pencariannya nabi Ibrahim memandang langit malam yang indah sebagai pilihan pertamanya. Aktivitas memandang langit di siang bolong, amatlah janggal karena kita hanya akan merasakan silau di mata. Sementara memandang langit di malam hari menjadi alternatif yang lebih menentramkan-ini bagi sebagian kecil manusia saja-sejak dulu kala.
Orang di jaman modern ini sekalipun, hasrat melihat-lihat objek yang ada di atas kepalanya sangat rendah konon lagi memandang langit dengan segala objek yang menghiasainya. Hanya orang dengan tipikal Bapak para nabi-Ibrahim kholilu LLah saja yang semenjak dulu hingga kini mempunyai kemauan (bukan kemampuan) untuk melihat ke arah dunia luas tanpa batas tempat semua materi terus mengembang sebelum saatnya kembali mengecil untuk menuju ke haribaan Dzat Yang Maha Tunggal.
Pada saat melihat sebuah bintang (bersinar-sinar), nabi Ibrahim seketika berkata: “Inikah Tuhanku?”
Hasrat membara akan pencarian eksistensi Tuhan bertemu dengan wujud cerah setitik cahaya yang baru pertama kali disaksikannya di langit malam yang hening, membuat nabi Agung ini berani memutus bahwa itulah yang aku cari-cari.
![]() |
Kemudian manakala bintang itu terbenam, ia berkata pula: “Aku tidak suka kepada yang terbenam hilang”. Logikanya berontak, mustahil sesuatu yang hilang mampu menciptakan semua yang masih bercahaya dan tidak padam. Pengembaraan pun berlanjut. Malam berikutnya bintang tetap nampak berkilauan di langit malam dengan jumlah yang semakin dipandang semakin bertambah, tetapi keputusannya bahwa Tuhan yang dicari tidak mungkin padam, nabi Ibrahim pun terus mencari dengan tetap memandangi langit setiap malam tiba.
Tibalah saatnya bulan terbit (menyinarkan cahayanya), dan nabi Ibrahimpun menjadi terperangah. Sepekan berlalu tidak dilihatnya benda yang lebih terang dan cemerlang dari bintang. Kini benda itu muncul, walau masih pada tahap manzilah permulaan. Dan karena yang dilihatnya kini jauh lebih cemerlang, dia berkata: “Inikah Tuhanku?”. Pada tanggal 2 setiap bulan perbandingan magnetudo (kecerlangan benda langit) masing-masing dari bulan = -10.24, bintang = 1.56, dan planet Venus = -4.18. Jadi wajarlah kalau nabi Ibrahim memandang bulan lebih besar dan lebih layak disebut Tuhan ketimbang benda lainnya planet apalagi bintang. Saat itu belom diketahui bahwa ketiga benda tersebut berbeda sama sekali.
![]() |
Maka setelah bulan itu terbenam, berkatalah dia: “Demi sesungguhnya, jika aku tidak diberikan petunjuk oleh Tuhanku, niscaya menjadilah aku dari kaum yang sesat”.
Kemudian malam-malam berlalu, dan Tuhan yang dicari tidak kunjung tiba, apakah di waktu yangberbeda dari malam, yakni siang hari? Akhirnya nabi Ibrahim mencoba mencarinya disiang hari. Kendati semua benda langit, sejak dari galaksi, bintang, planet, meteor, bahkan komet ada,tetapi semuanya tidak nampak kecuali sang raja siang Matahari.
![]() |
Pagi itu nabi Ibrahim melihat matahari sedang terbit (menyinarkan cahayanya), betapa terang dan menyilaukannya benda yang satu ini; berkatalah dia: “Inikah Tuhanku? Ini lebih besar”. Setelah siang berlalu dan petang menyongsong, akhirnya malampun tiba dan matahari terbenam, dia berkata pula: ` Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri (bersih) dari apa yang kamu sekutukan (Allah dengannya).
Inilah daya logik yang dianugerah kepada beliau dalam menolak agama penyembahan langit yang dipercayai kaumnya serta menerima Tuhan yang sebenarnya.
Dalam QS Ash-Shoffat(37) ayat ke 87-88, Allah berfirman:
87. Maka Apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?”
88. lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang.
Memang demikianlah, hakekat Tuhan akanlebih mendekati makna manakal ditelusuri dengan memandang angkasa raya. Melihat bintang-gemintang seperti yang dilakukan nabi Ibrahim, sang astronom pertama.
QS Ath-Thuur(52) ayat ke : 48-49 menegaskan:
48. dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, Maka Sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri[*].,
[*] Maksudnya hendaklah bertasbih ketika kamu bangun dari tidur atau bangun meninggalkan majlis, atau ketika berdiri hendak shalat.
49. dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar).
Anjuran sang Pencipta, Tuhan seru sekalian alam raya. Bertasbih…berrenang…berdinamika…bergelombang. Agar gerak dandinamika, serta gelombang alam raya menyibakkan kesadaran terdalam dalamdiri manusia akan ke-Maha Dinamis-nya Roob al ‘Aalamiin.
Wa Allahu a’lamu…[+]




















