Mukjizat 111 H
Berbicara tanggal 1 bulan 1 tahun 1 hijriyah, tidak mungkin lepas dari salah satu peristiwa paling bersejarah dalam Islam, yakni Hijrah Rasulullah SAW dari Mekah menuju ke Yatsrib (Madinah). Berkaitan dengan hijrah ini Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه ” متفق عليه
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.
Rasulullah SAW dan para sahabat diperintahkan Allah SWT untuk berhijrah. Motivasi utama mereka adalah guna meraih ridlo Ilahi. Menjelang hijrah, kondisi kaum muslim berada pada posisi yang sangat lemah dan teraniaya. Namun, keyakinan mereka akan datangnya kemenangan dan pertolongan Allah tidak pernah sirna. Hal ini disebabkan oleh tebalnya iman mereka kepada Allah SWT. Hal ini karena pokok pertama yang diajarkan Rasulullah SAW jauh sebelum hijrah adalah prinsip keimanan. Bukan saja karena iman kepada Allah merupakan ajaran, tetapi juga karena iman membentengi manusia serta mengantarkan kepada optimisme.
Muhammad Rasyid Ridlo dalam Tafsir Al-Manar menulis, ” Iman membangkitkan sinar dalam akal, sehingga merupakan petunjuk jalan ketika berjumpa dengan kegelapan dan keraguan. Dengan iman, seseorang akan muda mengatasi batu penghalang yang dapat menjatuhkan ke jurang kebinasaan. Iman menumbuhkan dalam diri manusia suatu pusat penelitian atas tiap detak-detak hati yang terlintas dan setiap pandangan yang terbentang. Dengan iman seseorang dapat melihat tembus sesuatu yang tersirat dalam kulit yang tersurat.
Hijrah Rasulullah SAW telah berlalu 15 abad silam, namun dari hijrah dan celah-celah peristiwanya, banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik. Berikut beberapa di antaranya:
1. Pengorbanan.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa untuk mencapai suatu usaha besar dibutuhkan pengorbanan maksimal dari setiap orang. Rasul sendiri berhijrah dengan segala daya yang dimilikinya, tenaganya, pikiran dan materi, bahkan jiwa dan raga beliau. Ketika akan berhijrah Rasulullah pernah mengajak Abu Bakar, dan kala itu Abu Bakar membeli dua onta satu buat Rasul. Tetapi Rasul tidak mau menerima, dan maunya membeli. Ini wujud pengorbanan yang dicontohkan Rasulullah SAW.
2. Makna hidup.
Rasulullah SAW berangkat hijrah seraya memesan kepada Ali bin Abi Thalib untuk menggantikan beliau tidur di tempat tidur Rasul. Menggantikan Rasul yang sedang hijrah, berarti menggantikan siap mati. Bersedia menggantikan tidur Rasul adalah siap mepertaruhkan jiwa dan raga demi membela agama Allah.
3. Tawakkal dan Usaha.
Ketika Rasul dikejar dan akhirnya sembunyi di gua Tsur, Abu Bakar sangat khawatir dan gentar. Namun Rasulullah SAW menenangkan dengan mengatakan, “Jangan kuatir dan jangan sedih, sesungguhnya Allah beserta kita”.
4. Mukjizat 1 Muharram 1 Hijriyah.
Peristiwa Hijrah ini akhirnya ditetapkan Umar bin Khattab (581 - November 644) sebagai awal atau hari pertama dalam kalender Islam yang akhirnya disebut sebagai Kalender Hijriyah. Umar bin Khattab (bahasa Arab: عمر بن الخطاب) adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad yang juga menjadi khalifah kedua (634-644) dari empat Khalifah Ar-Rasyidin. Ia memiliki nama lengkap Umar bin Khattab bin Nafiel bin abdul Uzza, terlahir di Mekkah, dari Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy. Orang tuanya bernama Khaththab bin Nufail Al Mahzumi Al Quraisyi dan Hantamah binti Hasyim.
Umar adalah salah seorang yang ikut pada peristiwa hijrah ke Yathrib (Madinah) pada tahun 622 Masehi. Ia ikut terlibat pada perang Badar, Uhud, Khaybar serta penyerangan ke Syria. Ia adalah salah seorang sahabat dekat Nabi Muhammad SAW. Pada tahun 625, putrinya (Hafsah) menikah dengan Nabi Muhammad.
Umar melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, termasuk membangun sistem administratif untuk daerah yang baru ditaklukkan. Ia juga memerintahkan diselenggarakannya sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Tahun 638, ia memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medinah. Ia juga memulai proses kodifikasi hukum Islam. Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun ke-empat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijrah.
Ketika membaca tulisan seorang teman yang melihatnya via Stellarium, saya terpikir untuk mengolah hikmah Hijrah Rasululah SAW menjadi 1 Muharram 1 Hijriyyah ini via Simulator Planetarium Starrynight Pro 5.8.2 . Berikut mukjizat 111 H secara visual:
Pertama, kita kembali ke saat sehari sebelum Rasulullah Hijrah. Kalau kita pakai program konversi kalender, maka sehari sebelum 111 H adalah kamis. Setting koordinat adalah titik di atas Ka’bah yakni Lat: 21 25 21 N, dan Long: 39 49 34 E, dan konversi waktu GMT +3. Koordinat ini saya lihat di Google Earth. Dan berikut visibilitas Hilal kala sunset jam 17.03 PM:
![]() |
Ketinggian bulan saat matahari terbenam adalah sekitar 13 derajat lebih. Artinya sangat mudah melihat bulan sabit dengan mata bugil. Walau ketinggian seperti ini mestinya sudah tanggal 2, namun memang saat itu belum seperti saat ini dalam kepastian dan kriteria hilal, disamping saat hijrah syari’at hilal belum turun. Bila tgl 1-1-1 H bertepatan 16 Juli 622 M adalah hari Jum’at, maka hari sebelumnya adalah hari Kamis. Mukjizat pada hari Kamis ini, adalah posisi 8 benda langit yang berada pada satu garis lurus. Yakni Matahari (hidden)-Saturnus (hidden)-Bulan-Venus-Merkurius-Uranus-Neptunus-Mars. Garis yang nampak adalah bidang orbit dari seluruh objek yang sedang berkonjungsi. Gambar di bawah posisi horizaon dibuat hidden.
![]() |
Hari berikutnya, Rasulullah SAW melakukan Hijrah dan hari berganti baru, yakni Jum’at. Inilah moment hari pertama dalam kalender Islam. Jum’at 1 Muharram 1 Hijriyyah, bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622 M. Saya berkeyakinan, Rasulullah dan Abu Bakar kala itu melihat konjungsi 8 (delapan) objek langit yang sangat menakjubkan ini. Sebab hati beliau berdua suci, sehingga pandangannya mampu memandang yang orang biasa tidak. Berikut pemandangan langit tepat jam 11 pagi menjelang siang. Fenomena langit ini terjadi sekitar jam 11.00 Local Time (waktu di Ka’bah-Mekkah) berdasarkan simulator SNP 5.8.2 .
![]() |
‘Konjungsi’ objek langit ini sebenarnya lebih, karena planet terbesar Jupiter pun ikut segaris lurus. Tapi posisi Jupiter dan kala itu si Pluto pun tidak mau ketinggalan, hanya posisi Pluto sedikit bergeser. Garis vertikal adalah orbit dari masing-masing planet. Pemandangan langit ini bisa kita lihat saat kita menghadap ke arah barat.
|
Berikutnya, fenomena yang tidak kalah menakjubkan yakni ketika posisi Matahari tepat di atas Ka’bah alias berada pada titik zenit. Fenomena ini terjadi pada jam 12.24 siang, versi SNP 5.8.2. Saat itu, pada saat bersamaan semua tempat di permukaan bumi, bayangan benda tegak adalah mengarah ke Ka’bah. Sebuah cara mudah menentukan arah kiblat, buat bayangan benda vertikal dan arahnya pasti ke ka’bah atau arah kiblat. Disamping setiap tanggal 16 Juli jam 12.24, fenomena seperti ini, juga terjadi pada setiap 28 Mei jam 12.15 waktu Ka’bah. Bila mata kita arahkan ke barat, lalu melihat ke arah titik atas langit atau Zenit, maka pemandangan langit kala itu adalah sebagai berikut:
![]() |
Sangat tepat bila moment hijrahnya Rasulullah SAW dijadikan moment penentuan awal penaggalan dalam sistem Kalender Islam, moment 111 H, tgl 1 bln 1 thn 1 kalender H. Karena segala sesuatu harus dengan niat, dan niat itu pula yang akan menentukan apakah amalan kita ini maqbul atau mardud.
Selanjutnya, moment 111 H bertepatan dengan terjadinya fenomena ‘konjungsi’ seluruh planet. Posisi segaris lurus dari 10 objek langit merupakan tadzkiroh atau peringatan kepada kita semua: Agar berlaku lurus, canangkan iman dan istiqomah dalam segala hal.
Tidak sekedar itu, posisi matahari yang berada tepat di atas ka’bah saat terjadinya peristiwa hijrah merupakan simbol dimana hubungan vertikal memiliki ruang dan waktu yang tentu. Semoga tulisan ini menambah wawasan kita. Demikian kajian 111 H ini. Wa Allahu a’lamu. [+]






